4 Masalah Kritis Artemis II Yang Harus Diselesaikan NASA Sebelum Peluncuran Demi Keselamatan Astronot dan Keberhasilan Misi

Misi Artemis II NASA merupakan langkah besar dalam perjalanan manusia menuju bulan setelah lebih dari 50 tahun. Namun, kendala teknis masih menjadi tantangan utama yang harus diatasi sebelum peluncuran. Beberapa masalah ini tidak hanya berisiko pada jadwal peluncuran, tetapi juga pada keselamatan para astronot yang turut serta dalam misi tersebut.

Mengingat Artemis II akan membawa astronot di dalam kapsul Orion untuk perjalanan multi-hari mengelilingi bulan, kelancaran sistem dan kesiapan teknologi mutlak diperlukan. Berikut empat masalah utama yang masih harus diperbaiki NASA sebelum Artemis II benar-benar meluncur ke angkasa.

1. Kebocoran Hidrogen Cair
Kebocoran bahan bakar adalah masalah yang kembali muncul pada Artemis II, khususnya dari sambungan antara peralatan darat dengan tahap inti roket. Kebocoran ini menyebabkan konsentrasi gas hidrogen sekitar area pengisian mencapai 16%, angka yang jauh melebihi batas awal 4% yang diterapkan NASA sejak program Space Shuttle. Walau batas itu kemudian dinaikkan menjadi 16%, kebocoran yang terdeteksi saat gladi bersih tetap menimbulkan kekhawatiran tentang risiko keselamatan. Upaya penggantian segel dan modifikasi prosedur pengisian hidrogen cair dilakukan, namun masalah ini belum sepenuhnya teratasi.

2. Gangguan Komunikasi dan Sistem Elektronik
Pada latihan penghitungan mundur Artemis II, sempat terjadi masalah pada sistem komunikasi di ruang kendali Kennedy Space Center pada pukul 11:11 waktu setempat. Tim diharuskan menggunakan metode cadangan untuk mempertahankan komunikasi dengan kru uji. Sistem komunikasi tersebut baru pulih setelah sekitar 34 menit. Selain itu, sebuah anomali tegangan avionik pada booster juga menyebabkan pemberhentian sementara pada hitungan mundur, yang kemudian di-reset dan dilanjutkan. Gangguan-gangguan ini mengingatkan pada insiden sebelumnya pada program Starliner, sehingga penting bagi NASA untuk mengidentifikasi dan mengatasi sumber masalah guna memastikan keamanan misi.

3. Integritas Perisai Panas (Heat Shield)
Setelah penerbangan Artemis I, perisai panas pada kapsul Orion ditemukan mengalami degradasi lebih parah dari perkiraan. Perisai panas tersebut terdiri dari beberapa blok kecil AVCOAT yang dirakit bersama, bukan satu bagian besar seperti pada misi Apollo. Desain ini disesuaikan dengan ukuran Orion yang lebih besar. Perubahan lintasan masuk kembali ke atmosfer juga diduga memperpanjang paparan panas, sehingga menyebabkan retak dan hangusnya perisai panas. Meski NASA yakin kondisi tersebut tidak membahayakan kru selama Artemis I, masalah ini tetap menjadi perhatian serius yang harus segera diatasi demi keselamatan astronot Artemis II.

4. Kekhawatiran Seputar Spacesuit (Pakaian Antariksa)
Spacesuit yang dipersiapkan untuk misi Artemis II, yakni Axiom Extravehicular Mobility Unit (AxEMU), menghadirkan tantangan tersendiri. Pakaian ini lebih berat dan lebih besar dibandingkan spacesuit Apollo yang digunakan lebih dari setengah abad lalu. Berat AxEMU mencapai lebih dari 300 pon di gravitasi Bumi, hampir dua kali berat pakaian Apollo yang sekitar 200 pon. Walaupun bobot tersebut akan terasa lebih ringan di bulan, kemudahan mobilitas dan kenyamanan menjadi isu penting, karena para astronot akan mengenakan pakaian ini selama lebih dari delapan jam dalam sehari saat eksplorasi bulan. Sejumlah mantan astronot mengingatkan bahwa fisik yang lebih terbebani dapat meningkatkan stres dan risiko bagi para kru.

NASA terus melakukan evaluasi dan perbaikan untuk memastikan semua teknologi, dari roket hingga perlengkapan astronot, dapat beroperasi dengan aman dan optimal. Pengalaman dari misi Artemis I menjadi pelajaran penting yang harus ditindaklanjuti secara serius. Meskipun penundaan dan masalah teknis ini mempengaruhi jadwal awal peluncuran yang direncanakan, keselamatan kru tetap menjadi prioritas utama.

Dengan menghadapi berbagai tantangan ini, Artemis II tetap menjadi misi penting yang diharapkan membuka era baru eksplorasi luar angkasa manusia. Upaya NASA dalam menguji dan menyempurnakan sistem-sistem krusial seperti kebocoran bahan bakar, komunikasi, perisai panas, hingga spacesuit, akan sangat menentukan keberhasilan perjalanan kembali ke bulan. Tajamnya pengawasan baik dari internal NASA maupun masyarakat umum menunjukkan betapa pentingnya misi ini bagi kemajuan sains dan teknologi luar angkasa.

Berita Terkait

Back to top button