
Sebuah biokomputer yang menggunakan sel otak manusia hasil kultur laboratorium kini mampu memainkan game ‘Doom’. Teknologi ini dikembangkan oleh Cortical Labs, sebuah perusahaan riset asal Australia, dan menandai kemajuan signifikan dalam pengembangan komputer hibrida berbasis organik.
Sebelumnya, biokomputer tersebut hanya mampu memainkan game sederhana seperti Pong. Namun, dengan adaptasi yang terus dilakukan, para peneliti berhasil melatih sistem tersebut untuk menghadapi tantangan yang lebih kompleks berupa game tembak-tembakan klasik, ‘Doom’. Meskipun performanya belum setara dengan pemain manusia, pencapaian ini membuka jalan bagi teknologi biokomputer yang lebih maju.
Perjalanan Pengembangan Biokomputer Otak Manusia
Cortical Labs pertama kali memperkenalkan DishBrain pada 2021, yang merupakan biokomputer awal dengan sekitar 800.000 sel saraf manusia yang terhubung ke sebuah chip pemrosesan kecil. Chip ini mampu menginterpretasikan dan mengarahkan aktivitas listrik yang menyerupai fungsi perangkat berbasis silikon konvensional.
Keberhasilan awal DishBrain terletak pada kemampuannya memainkan Pong secara adaptif dan waktu nyata, menunjukkan kecerdasan belajar yang berbasis tujuan. Dibutuhkan waktu lebih dari 18 bulan untuk meraih prestasi bermain Pong dengan perangkat tersebut. Kemudian, DishBrain digantikan oleh CL1, komputer biologis pertama di dunia yang dapat diprogram menggunakan kode perangkat lunak.
Tantangan dan Solusi Memainkan Doom
’Doom’ menjadi tolak ukur penting karena game ini menuntut sistem untuk memperoleh informasi visual yang kompleks dan berinteraksi secara dinamis. Perangkat CL1 tidak memiliki kemampuan melihat seperti manusia, sehingga insinyur harus mengubah informasi visual dari game menjadi pola stimulasi listrik yang bisa dikenali oleh jaringan neuron.
Pentingnya adaptasi ini terletak pada cara perubahan sinyal visual menjadi bentuk yang dapat dipahami oleh otak buatan. Tantangan tersebut diselesaikan dalam waktu kurang lebih seminggu oleh pengembang independen, Sean Cole, berkat adanya antarmuka pemrograman yang mendukung bahasa Python. Hal ini memungkinkan proses pengembangan menjadi lebih cepat dan mudah diakses oleh banyak programmer.
Kinerja dan Potensi Biokomputer CL1
Biokomputer yang menggunakan sel otak manusia ini mampu memainkan ‘Doom’ dengan performa yang lebih baik daripada sistem acak yang menembak tanpa pola. Meski demikian, level permainannya masih tergolong rendah dan mengalami banyak kekalahan. Namun, Cortical Labs mengklaim bahwa progres pembelajaran biokomputer ini lebih cepat dibandingkan sistem machine learning berbasis silikon.
Kemajuan ini menunjukkan bahwa dengan peningkatan algoritma dan perangkat keras, biokomputer dapat memiliki kemampuan yang lebih mumpuni dalam menjalankan tugas-tugas kompleks. Keunggulan utama teknologi ini adalah kemampuannya untuk belajar secara adaptif dalam waktu nyata, sebuah karakteristik yang meniru otak manusia.
Aplikasi Masa Depan Biokomputer Berbasis Neuron
Selain menunjukkan kemajuan di dunia game, biokomputer berbasis sel otak ini berpotensi besar untuk masa depan teknologi robotik dan pengolahan data canggih. Berikut adalah beberapa kemungkinan aplikasi yang dapat dikembangkan:
- Mengendalikan lengan robotik dengan respons adaptif seperti manusia.
- Menjalankan program digital kompleks yang memerlukan pemrosesan konteks dan adaptasi.
- Membantu dalam penelitian neurosains dengan memberikan model kerja otak manusia in vitro.
- Mengintegrasikan sistem biologis dan elektronik untuk perangkat hibrid inovatif.
Meskipun teknologi ini masih dalam tahap awal dan memiliki banyak tantangan, mampu melewati milestone seperti memainkan game ‘Doom’ dapat dianggap sebagai tanda positif bahwa biokomputer akan terus berkembang. Integrasi sel otak manusia dengan perangkat komputasi membuka peluang baru untuk menciptakan mesin yang tidak hanya pintar tetapi juga mampu belajar dan beradaptasi secara organik.
Dengan terus berkembangnya teknologi ini, masa depan komputasi tidak hanya terbatas pada silikon, namun juga dapat menampilkan kecerdasan yang dipinjam dari mekanisme biologis tubuh manusia. Studi dan eksperimen selanjutnya akan menentukan seberapa jauh kemampuan dan aplikasi biokomputer di berbagai bidang teknologi dan ilmu pengetahuan.









