Peter Diamandis Tantang Kreator Sci-Fi Wujudkan Masa Depan Optimis, Kontes Ini Bisa Ubah Paradigma Teknologi!

Peter Diamandis, pendiri Xprize yang juga dikenal sebagai investor teknologi dan motivator, meluncurkan sebuah kompetisi baru bernama Future Vision Xprize dengan total hadiah sebesar $3,5 juta. Kompetisi ini dirancang untuk menginspirasi pencipta film agar menghasilkan karya fiksi ilmiah dengan pandangan optimis tentang masa depan teknologi. Diamandis memandang ajang ini sebagai cara untuk menghadirkan sebuah visi masa depan yang membangun, serupa dengan semangat serial legendaris "Star Trek."

Pengaruh "Star Trek" dalam perjalanan karier Peter Diamandis sangat besar. Ia mengaku bahwa serial tersebut yang menanamkan visi kolaborasi antara manusia dan teknologi, sehingga mendorongnya untuk menciptakan dan mewujudkan masa depan yang cerah. Menurutnya, kehadiran cerita-cerita yang fokus pada sisi positif teknologi sangat langka dibandingkan dengan narasi fiksi ilmiah yang terlalu banyak menggambarkan masa depan penuh bencana dan distopia.

Menepis Narasi Dystopian

Diamandis menyoroti tren negatif dalam genre fiksi ilmiah saat ini. Film-film dan serial seperti "Black Mirror," "Terminator," dan "Ex Machina" seringkali menampilkan teknologi sebagai ancaman, seperti robot pembunuh dan kecerdasan buatan yang menindas manusia. "Kenapa seseorang mau tinggal di masa depan seperti itu?" ucap Diamandis. Ia berusaha mengubah pola pikir tersebut agar publik dapat lebih percaya bahwa teknologi bisa menjadi kekuatan untuk kebaikan.

Untuk mewujudkan tujuan ini, Diamandis menggandeng sejumlah tokoh penting seperti Rod Roddenberry, putra dari pencipta "Star Trek" Gene Roddenberry, CEO Salesforce Marc Benioff, dan investor Cathie Wood. Google turut berpartisipasi dengan menyediakan dukungan teknologi dalam ajang kompetisi ini, termasuk melalui inisiatif 100 Zeros yang membantu pembuat film memanfaatkan alat-alat Google untuk produksi cerita bertemakan teknologi.

Format Kompetisi Future Vision Xprize

Para peserta diminta untuk mengirimkan trailer berdurasi tiga menit yang menggambarkan visi masa depan yang optimis. Pengumpulan karya dibuka sejak awal Maret dan akan berakhir pertengahan Agustus. Juri yang dipimpin oleh tim Range Media akan menyeleksi karya terbaik untuk mendapatkan dana produksi sebuah film pendek berdurasi 10 menit.

Beberapa tahap penting konsep Future Vision Xprize adalah:

  1. Pengumpulan dan penilaian trailer tiga menit.
  2. Pendanaan pembuatan film pendek 10 menit untuk sejumlah finalis.
  3. Pemilihan pemenang utama yang memperoleh dana produksi $2,5 juta dan hadiah tunai $100.000.
  4. Penayangan karya pemenang di platform crowdfunding Republik untuk menggalang dana tambahan $5 juta hingga $10 juta.

Peran Kecerdasan Buatan dan Kehumanan

Diamandis menyarankan peserta kompetisi agar memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam pembuatan karya, tetapi menekankan bahwa hasil yang sepenuhnya dihasilkan AI tanpa sentuhan manusia kemungkinan tidak akan menang. "Manusiawi itu sangat penting," kata Diamandis. Ia percaya keberadaan elemen kemanusiaan dapat memberikan keautentikan dan kedalaman cerita yang tidak bisa digantikan oleh AI semata.

Lebih jauh, Diamandis sangat optimis terhadap perkembangan teknologi AI yang saat ini mudah diakses dan gratis dipakai oleh siapa saja. Menurutnya, teknologi tersebut sudah mendemokratisasi kemampuan manusia untuk menyelesaikan berbagai masalah, termasuk bidang kesehatan dan umur panjang. Dalam studi tentang umur panjang, AI memungkinkan para ilmuwan memahami aktivitas sel manusia secara mendalam, membuka peluang baru untuk hidup sehat dan lebih lama.

Dukungan Komunitas dan Harapan Masa Depan

Kompetisi ini didukung oleh komunitas CEO bernama Abundance, yang dipimpin oleh Diamandis sendiri. Sekitar 15 anggota komunitas ini menyumbang hampir setengah dari total hadiah. Donatur lain berasal dari tokoh-tokoh seperti Ben Horowitz dari Andreessen Horowitz, Jed McCaleb, pendiri Ripple, dan aktor-produsser Seth Green.

Peter Diamandis berharap Future Vision Xprize bukan sekadar kompetisi sekali jalan. Ia ingin acara ini menjadi momen untuk mengubah rasa takut akan perubahan menjadi mindset eksponensial—yakni sikap optimis dan percaya bahwa masa depan adalah sesuatu yang bisa kita bentuk, bukan sekadar terjadi pada kita.

Pelaksanaan kompetisi ini menandai upaya penting dalam menggeser narasi budaya populer dari ketakutan teknologi ke sebuah visi masa depan yang positif dan inspiratif. Jika sukses, karya-karya yang lahir dari ajang ini berpotensi menginspirasi generasi baru untuk menciptakan inovasi demi kemajuan umat manusia, persis seperti yang dicita-citakan oleh "Star Trek" sejak awal.

Berita Terkait

Back to top button