Kebutuhan jaringan data global terus naik seiring meluasnya layanan 5G, komputasi awan, dan model AI yang haus bandwidth. Di tengah tekanan itu, NTT, perusahaan telekomunikasi Jepang, mengembangkan optical fiber multicore atau MCF yang diklaim mampu membawa kapasitas trafik empat kali lipat tanpa menambah diameter kabel.
Terobosan ini menarik karena MCF mempertahankan ukuran fisik yang sama dengan serat optik konvensional. Artinya, teknologi tersebut bisa masuk ke infrastruktur yang sudah ada, termasuk kapal pemasang kabel bawah laut, sambungan darat, dan rak terminal, tanpa perlu rombak besar-besaran.
Bagaimana MCF bekerja
NTT memakai empat inti transmisi di dalam satu serat kaca, bukan satu inti seperti kabel optik biasa. Data dikirim lewat spatial multiplexing, sehingga satu kabel dapat membawa empat jalur optik independen sekaligus.
Dalam praktiknya, perubahan ini membuat satu lintasan kabel bawah laut berpotensi menampung kapasitas lebih besar dari sebelumnya. Jika satu kabel bawah laut modern biasanya menghimpun hingga 48 serat, maka pendekatan MCF dapat meningkatkan jumlah jalur efektif secara signifikan tanpa menebalkan kabel.
Dukungan untuk infrastruktur lama
NTT juga menyiapkan perangkat pendukung agar MCF bisa dipakai bersama sistem yang sudah beroperasi. Perangkat itu mencakup submarine joint box untuk menghubungkan kabel darat konvensional ke kabel bawah laut empat inti, MCF cable terminal untuk tersambung ke peralatan transmisi single-core, dan factory joint box untuk menyambung dua kabel MCF di dasar laut.
Langkah ini penting karena proyek kabel bawah laut sangat bergantung pada kompatibilitas peralatan. Tanpa dukungan konektor dan terminal yang sesuai, keunggulan kapasitas besar akan sulit dimanfaatkan secara komersial.
Mengapa teknologi ini relevan
Lonjakan lalu lintas data memaksa operator mencari cara menambah kapasitas tanpa menambah biaya secara agresif. Membangun jalur baru selalu mungkin, tetapi prosesnya mahal, memakan waktu, dan membutuhkan sumber daya besar dari sisi instalasi maupun perizinan.
Di saat yang sama, kabel bawah laut tetap menjadi tulang punggung internet global. Banyak perusahaan masih menambah koneksi baru meski ada risiko putus kabel dan ketegangan geopolitik di sejumlah wilayah, yang menunjukkan permintaan konektivitas lintas negara tetap tinggi.
Potensi manfaat bagi industri bawah laut
MCF bisa memberi beberapa keuntungan operasional bagi operator dan kontraktor pemasangan kabel, antara lain:
- Kapasitas data lebih besar tanpa menaikkan diameter kabel.
- Kompatibilitas lebih baik dengan sistem dan perangkat yang sudah dipakai.
- Potensi efisiensi waktu pemasangan karena tidak perlu overhaul total.
- Biaya peningkatan jaringan yang bisa lebih terkendali dibanding membangun sistem baru.
Teknologi semacam ini juga relevan untuk rute kabel yang harus melewati area sensitif secara geopolitik. Layanan yang lebih padat dalam satu jalur dapat membantu penyedia jaringan merancang rute baru dengan perhitungan efisiensi yang lebih tinggi.
Target implementasi dalam beberapa tahun ke depan
NTT menyebut teknologi MCF ini ditargetkan tersedia pada 2029. Jika kalender pengembangannya berjalan sesuai rencana, operator telekomunikasi berpeluang mulai memasukkannya ke proyek jaringan beberapa tahun dari sekarang.
Dalam konteks pasar global yang terus menuntut kapasitas lebih besar, MCF menempatkan efisiensi dan kompatibilitas sebagai dua nilai utama. Bila adopsinya meluas, kabel bawah laut generasi berikutnya bisa membawa lebih banyak trafik dengan perubahan fisik yang minim, sehingga pembangunan jaringan global menjadi lebih cepat dan lebih fleksibel.
