Misi Artemis II menjadi sorotan karena akan membawa manusia kembali menjelajah dekat Bulan dengan kru yang berisi empat astronot berpengalaman. NASA meluncurkan misi ini pada 1 April 2026 dari Florida, dan penerbangan berdurasi hampir 10 hari itu akan menguji kesiapan perjalanan berawak jauh dari orbit Bumi.
Artemis II tidak akan melakukan pendaratan di Bulan. Namun, misi ini penting karena menjadi penerbangan berawak pertama NASA menuju area Bulan sejak era Apollo dan akan mencatat jarak terjauh yang pernah ditempuh manusia di luar angkasa.
Mengapa Artemis II penting
Misi ini dirancang sebagai langkah uji yang menentukan sebelum pendaratan manusia dilakukan pada fase Artemis berikutnya. NASA ingin memastikan sistem Orion, operasi kru, dan seluruh prosedur keselamatan bekerja sesuai rencana dalam perjalanan lintas angkasa yang lebih menantang.
Artemis II juga memiliki nilai simbolik besar. Dunia akan melihat kombinasi pengalaman penerbangan militer, keahlian teknik, riset ilmiah, dan kerja sama internasional dalam satu tim yang sama.
Profil empat astronot Artemis II
Keempat anggota kru membawa latar belakang yang berbeda, tetapi semuanya punya rekam jejak panjang di bidang penerbangan dan sains. Perbedaan pengalaman itu justru menjadi kekuatan utama dalam misi yang menuntut ketelitian tinggi ini.
-
Reid Wiseman
Ia adalah veteran Angkatan Laut Amerika Serikat dengan pengalaman lebih dari dua dekade sebagai pilot dan insinyur. Wiseman pernah bertugas di International Space Station selama 165 hari, mengikuti ratusan eksperimen ilmiah, dan melakukan dua kali spacewalk. -
Victor J. Glover
Glover dikenal sebagai pilot yang akan mengendalikan pesawat ruang angkasa Orion. Sebelum Artemis II, ia sudah mencatat sejarah sebagai pilot misi SpaceX Crew-1 menuju ISS dan memiliki pengalaman menerbangkan jet tempur F/A-18 Hornet. -
Christina Koch
Koch memegang rekor dunia untuk penerbangan luar angkasa tunggal terlama oleh seorang perempuan, yakni 328 hari. Ia juga menjadi bagian dari spacewalk pertama yang seluruhnya dilakukan oleh kru perempuan, sebuah pencapaian yang menarik perhatian komunitas antariksa global. - Jeremy Hansen
Hansen menjadi astronot Kanada pertama yang terlibat dalam perjalanan menuju Bulan. Sebelum dipilih Canadian Space Agency, ia bertugas sebagai pilot pesawat tempur CF-18 dan memiliki pendidikan di bidang ilmu ruang angkasa.
Peran masing-masing kru di misi
Peran mereka tidak dibentuk hanya berdasarkan asal negara, tetapi juga berdasarkan kemampuan teknis yang dibutuhkan dalam penerbangan jauh. NASA menempatkan mereka dalam konfigurasi yang memungkinkan pengambilan keputusan cepat dan koordinasi yang kuat di ruang sempit Orion.
| Astronot | Peran utama | Keunggulan menonjol |
|---|---|---|
| Reid Wiseman | Komandan misi | Pengalaman ISS dan kepemimpinan misi |
| Victor J. Glover | Pilot | Keahlian menerbangkan pesawat tempur dan mengoperasikan Orion |
| Christina Koch | Spesialis misi | Rekor ketahanan luar angkasa dan latar sains |
| Jeremy Hansen | Spesialis misi | Pilot tempur, perwakilan Kanada, dan pengalaman pelatihan NASA |
Latar belakang yang membuat mereka dipilih
NASA cenderung memilih astronot yang sudah terbiasa bekerja di bawah tekanan dan mampu memecahkan masalah secara sistematis. Reid Wiseman, misalnya, pernah memimpin misi bawah laut NEEMO21 dan punya latar ROTC sebelum menjadi Naval Aviator pada 1999.
Victor Glover juga dikenal sebagai sosok dengan disiplin tinggi karena pernah terlibat dalam uji coba pesawat tempur di beberapa wilayah, termasuk Jepang. Sementara itu, Christina Koch membawa pengalaman kerja di lingkungan ekstrem seperti Antartika dan Arktik, yang melatih ketahanan fisik dan mental.
Jeremy Hansen menambah dimensi internasional dalam misi ini. Pada 2017, ia menjadi warga Kanada pertama yang dipercaya memimpin kelas pelatihan astronot NASA, sebuah penanda bahwa kapasitas kepemimpinannya diakui di level tertinggi.
Apa yang diharapkan dari penerbangan ini
Selama hampir 10 hari di ruang angkasa, kru akan menjalani serangkaian pengujian sistem dan prosedur yang meniru kondisi perjalanan lebih jauh ke Bulan. Data dari misi ini akan membantu NASA menilai kesiapan misi berawak berikutnya dan menyempurnakan standar keselamatan untuk eksplorasi antariksa masa depan.
Bagi publik, Artemis II bukan sekadar perjalanan ke orbit Bulan. Misi ini memperlihatkan bagaimana sains, teknologi, dan kerja tim membentuk generasi astronot yang siap membawa manusia melangkah lebih jauh dari sebelumnya.
Source: www.idntimes.com