Pohon Surya Ini Menyelamatkan Hutan, Tetap Menghasilkan Listrik Hampir Setara

Author: Qoo Media

Pohon surya di Korea Selatan membuka arah baru bagi energi bersih karena tidak hanya memproduksi listrik, tetapi juga membantu menjaga tutupan hutan. Dalam studi yang dipublikasikan di Scientific Reports, desain ini disebut berpotensi mempertahankan sekitar 99% tutupan hutan sambil tetap memberi kapasitas pembangkit yang setara.

Masalah utama energi surya skala besar selama ini terletak pada kebutuhan lahan. Panel surya konvensional memang efisien menangkap cahaya matahari, tetapi pemasangannya sering menuntut pembukaan area yang luas, termasuk kawasan hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penyerap karbon dan penopang keanekaragaman hayati.

Mengapa pohon surya menarik perhatian

Berbeda dari ladang panel surya biasa, pohon surya memakai panel yang dipasang di atas tiang tinggi. Struktur ini memungkinkan modul mengikuti area kanopi hutan tanpa memaksa penebangan besar-besaran, sehingga ruang tetap bisa dipakai untuk produksi listrik dan fungsi ekologis sekaligus.

Dalam kajian tersebut, solar tree diuji melalui simulasi dengan data geospasial 3D dan juga uji fisik di kawasan hutan pesisir Korea Selatan. Hasilnya menunjukkan pendekatan ini dapat mengurangi kerusakan ekosistem secara drastis, karena tata letaknya tidak lagi bergantung pada pembukaan lahan secara masif.

Dampak ekologis yang lebih luas

Pembangunan instalasi surya skala besar kerap memunculkan dilema. Di satu sisi, energi surya dibutuhkan untuk menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil yang menghasilkan emisi gas rumah kaca, tetapi di sisi lain proyek itu bisa mengorbankan hutan yang justru membantu menyerap karbon dioksida.

Masalah ini semakin sensitif di negara seperti Korea Selatan, tempat ekspansi pembangkit surya telah mendorong pembukaan kawasan berhutan di beberapa lokasi. Solar tree menawarkan skema yang lebih seimbang karena dapat menjaga struktur hutan sekaligus tetap memberi kontribusi listrik ke jaringan energi.

Apa yang membuatnya berbeda dari panel surya biasa

Teknologi ini bukan sekadar modifikasi desain, melainkan pendekatan tata ruang energi. Dengan menempatkan panel di ketinggian tertentu, instalasi bisa meminimalkan gangguan pada vegetasi bawah, fauna, dan iklim mikro di area hutan.

Perbandingan manfaatnya dapat dirangkum sebagai berikut:

Aspek Panel surya konvensional Pohon surya
Kebutuhan lahan Tinggi Lebih rendah
Dampak pada hutan Berpotensi menebang area luas Menjaga sebagian besar tutupan hutan
Fungsi ekologis Sering berkurang Relatif tetap terjaga
Potensi energi Tinggi Dalam studi, mendekati kapasitas setara

Pendekatan ini juga sejalan dengan upaya global untuk memperluas energi terbarukan tanpa menambah tekanan pada ekosistem. Dalam konteks itu, solar tree menjadi salah satu solusi yang menjawab dua kebutuhan sekaligus, yakni transisi energi dan perlindungan alam.

Relevansi bagi masa depan energi bersih

Pemerintah dan industri energi di banyak negara terus mencari model pembangunan yang lebih hemat ruang. Di area berhutan, pilihan seperti agrivoltaik sudah menunjukkan bahwa panel surya bisa berbagi lahan dengan fungsi lain, dan pohon surya memperluas gagasan itu ke kawasan hutan.

Departemen Energi Amerika Serikat pernah menyebut energi surya berpotensi menyumbang setidaknya 40% listrik di Amerika pada 2035 jika kebijakan dan teknologi mendukung. Temuan seperti pohon surya membuat target semacam itu terasa lebih realistis, karena hambatan lahan bisa dikurangi tanpa mengorbankan keluaran listrik secara signifikan.

Korea Selatan kini menjadi salah satu contoh menarik bagaimana desain infrastruktur energi dapat dibuat lebih adaptif terhadap lingkungan. Jika hasil uji lapangan dan penerapan skala besar terus menunjukkan performa yang baik, pohon surya bisa menjadi model yang relevan bagi negara lain yang menghadapi pilihan sulit antara memperluas energi hijau dan melindungi hutan.

Terbaru