
Ikan sapu-sapu sering terlihat sebagai pembersih akuarium yang rajin menempel di kaca dan memakan lumut. Namun, ikan ini bukan pilihan yang baik untuk dikonsumsi karena ada sejumlah alasan kesehatan, keamanan pangan, dan faktor pengolahan yang membuatnya tidak layak menjadi lauk harian.
Secara umum, ikan sapu-sapu berasal dari famili Loricariidae dan masih satu kelompok dengan ikan lele, patin, serta baung. Ikan ini punya kulit keras, tubuh memanjang, dan mulut penghisap di bagian bawah tubuhnya, sehingga lebih dikenal sebagai ikan hias atau ikan pembersih daripada ikan konsumsi.
Kenapa ikan sapu-sapu tidak direkomendasikan untuk dimakan?
Alasan utamanya berkaitan dengan mutu daging dan risiko kesehatan. Referensi dari jurnal Nusantara Bioscience menyebutkan bahwa ikan sapu-sapu memang memiliki protein, lemak, dan karbohidrat, tetapi kandungan tersebut jauh lebih sedikit dibanding banyak ikan konsumsi lain.
Artinya, nilai gizinya tidak sebanding dengan risiko dan usaha yang perlu dikeluarkan untuk mengolahnya. Dalam konteks kebutuhan protein keluarga, ikan ini juga tidak dikenal sebagai sumber yang efektif untuk mendukung pertumbuhan dan asupan gizi anak.
1. Kandungan gizinya tidak menonjol
Banyak ikan laut dan air tawar menyediakan vitamin, omega-3, mineral, dan protein dalam jumlah yang lebih baik. Pada ikan sapu-sapu, kandungan yang tercatat justru terbatas, sehingga ia kalah dari sisi manfaat nutrisi.
Kondisi ini membuat ikan sapu-sapu tidak populer sebagai bahan makanan. Di pasaran, orang lebih memilih ikan yang lebih aman, lebih lezat, dan lebih efisien untuk diolah.
2. Tekstur dan rasa dagingnya tidak umum
Sejumlah sumber menjelaskan bahwa daging ikan sapu-sapu punya tekstur keras, padat, dan berserat. Ada yang menyebut rasanya mirip ayam, babi, atau lobster, tetapi karakter rasa itu sangat dipengaruhi ukuran, jenis, dan pola makan ikan.
Perbedaan rasa ini membuat ikan sapu-sapu tidak cocok untuk semua selera. Dalam praktiknya, rasa yang tidak konsisten justru menjadi kendala saat ikan ini hendak dijadikan bahan makanan.
3. Sulit diolah dan bagian dagingnya sedikit
Salah satu hambatan terbesar ada pada anatominya. Dilansir dari A-Z Animals, ikan sapu-sapu punya kulit yang keras dan kuat, sehingga sulit dihancurkan meski digoreng atau direbus.
Selain itu, dagingnya tidak banyak. Bagian kepala dan badan cenderung minim daging, sementara ekornya memang lebih berisi, tetapi tetap tidak sepraktis ikan konsumsi yang umum dijual di pasar.
4. Berisiko mengandung logam berat
Ini alasan yang paling serius. Artikel di jurnal Aquatic Invertebrates and Ecosystem Research menjelaskan bahwa daging ikan sapu-sapu dapat mengandung logam berat seperti tembaga, timbal, kadmium, dan merkuri.
Risiko ini muncul karena ikan sapu-sapu sering hidup di perairan tercemar, termasuk selokan, sungai dekat pabrik, atau area dengan limbah rumah tangga. Jika logam berat masuk ke tubuh manusia dalam jangka panjang, dampaknya bisa berbahaya bagi organ dan kesehatan.
Gejala yang bisa muncul jika terpapar
- Sakit perut
- Diare
- Rasa gatal di tenggorokan
- Muntah-muntah
- Penurunan suhu tubuh
Paparan berkepanjangan juga dapat memicu gangguan serius pada tubuh. Karena itu, makanan dari perairan tercemar selalu memerlukan perhatian ekstra, terutama jika sumber airnya tidak jelas.
Mengapa ikan ini juga dianggap invasif?
Selain soal konsumsi, ikan sapu-sapu juga sering disebut sebagai spesies invasif di beberapa wilayah. The Spruce Pet menyebut ada ratusan spesies ikan sapu-sapu di dunia, dan banyak di antaranya berasal dari Amerika Tengah dan Selatan.
Di lingkungan baru tanpa predator alami, ikan ini bisa berkembang cepat dan mengganggu ekosistem lokal. Mereka dapat bersaing dengan ikan asli, memakan sumber pakan secara masif, dan pada beberapa kasus mengubah keseimbangan perairan.
Faktor itulah yang membuat ikan sapu-sapu lebih tepat dipandang sebagai ikan hias atau ikan pengendali lumut di akuarium, bukan bahan pangan. Jika berbicara soal konsumsi yang aman dan bernilai gizi baik, masih banyak pilihan ikan lain yang lebih layak diprioritaskan dibanding ikan sapu-sapu.
Source: www.idntimes.com








