Sebuah komet baru-baru ini melintas terlalu dekat dengan Matahari dan hancur menjadi debu, sementara laporan lingkungan terbaru menempatkan Sungai Potomac sebagai sungai paling terancam di Amerika Serikat. Di sisi lain, pengamatan Mars memperlihatkan perubahan permukaan yang jarang terlihat, menunjukkan bahwa aktivitas di Tata Surya masih terus memberi kejutan bagi para ilmuwan.
Komet MAPS tidak bertahan saat mendekati Matahari
NASA merilis gambar yang menunjukkan komet C/2026 A1, yang juga dikenal sebagai MAPS, pecah saat melakukan pendekatan dekat ke Matahari. Komet yang pertama kali ditemukan pada 13 Januari itu sempat dipantau oleh sejumlah instrumen antariksa sebelum akhirnya terurai, dan NASA menyebut peristiwa itu sebagai “first and last observed flyby of the Sun.”
Pengamatan dari berbagai wahana membantu ilmuwan melihat jalur komet dari sudut berbeda. SOHO milik NASA dan ESA, STEREO milik NASA, serta PUNCH milik NASA menangkap momen saat komet itu melintas, sehingga gambaran yang muncul lebih utuh daripada satu sudut pandang saja.
Dalam citra korona sempit SOHO, komet tampak seolah-olah langsung jatuh ke Matahari. Namun, tampilan sudut lebar dari STEREO menunjukkan bahwa komet itu sebenarnya sempat membelok di dekat Matahari sebelum pecah.
Komet MAPS termasuk keluarga komet Kreutz sungrazer, yaitu komet yang dikenal lewat lintasan sangat dekat dengan Matahari. Karl Battams, peneliti utama korona SOHO, menyebut kehancuran komet itu kemungkinan terjadi beberapa jam sebelum titik terdekat yang seharusnya dicapai.
Sungai Potomac masuk daftar paling terancam
Di Bumi, American Rivers menempatkan Sungai Potomac sebagai sungai paling terancam di Amerika Serikat dalam laporan terbarunya. Organisasi nonprofit itu menyoroti dua ancaman utama, yakni pencemaran limbah dari sistem pipa tua dan lonjakan pembangunan pusat data di wilayah sekitarnya.
Cekungan Sungai Potomac membentang melintasi Pennsylvania, Maryland, Virginia, West Virginia, dan Washington, DC. Laporan itu juga menyoroti kegagalan pipa limbah Potomac Interceptor di Montgomery County, Maryland, pada Januari, yang melepaskan ratusan juta galon limbah mentah ke Sungai Potomac dan Chesapeake and Ohio Canal.
Menurut laporan tersebut, kadar bakteri di lokasi yang paling dekat dengan insiden itu melonjak hingga lebih dari 4.000 kali di atas batas aman untuk aktivitas rekreasi. Potomac Interceptor sendiri sudah berusia lebih dari 60 tahun, sementara banyak infrastruktur sejenis di kawasan itu telah mencapai atau melewati masa pakai 50 tahun.
Ancaman lain datang dari pesatnya pembangunan data center di Virginia dan Maryland. American Rivers memperkirakan kawasan itu kini memiliki lebih dari 300 data center dan dapat bertambah menjadi sekitar 1.000 pusat data yang menempati kira-kira 200 juta kaki persegi bangunan di atas 20.000 acre lahan.
Laporan itu menilai fasilitas tersebut dapat menekan pasokan air dan energi lokal, sekaligus memunculkan risiko pencemaran tambahan bagi sungai. Karena itu, American Rivers meminta Kongres memperbarui pendanaan infrastruktur agar sistem tua bisa diperbaiki, serta mendesak regulator mewajibkan transparansi soal penggunaan sumber daya dan penilaian dampak lingkungan yang lebih menyeluruh.
Mars menunjukkan perubahan permukaan yang jarang terlihat
ESA juga menyoroti perubahan di permukaan Mars lewat perbandingan gambar baru dari wahana Mars Express dengan citra lama milik orbiters Viking NASA pada 1976. Fokus pengamatan berada di kawasan Utopia Planitia, tempat debu vulkanik gelap tampak semakin meluas di atas permukaan.
Perbandingan itu memperlihatkan kontras mencolok antara wilayah berpasir terang dan area yang kini tertutup lapisan gelap. ESA menyebut perubahan seperti ini jarang teramati dalam rentang waktu yang relatif singkat, sehingga menjadi petunjuk penting tentang dinamika permukaan Mars.
Ada dua kemungkinan penjelasan dari penyebaran abu atau debu gelap tersebut. ESA menjelaskan bahwa material itu bisa saja dipindahkan oleh angin Mars, atau lapisan debu oker yang sebelumnya menutupinya telah tersapu sehingga permukaan gelap di bawahnya menjadi terlihat.
Rangkaian temuan ini menunjukkan betapa beragamnya fenomena sains yang terjadi dalam waktu bersamaan, mulai dari komet yang hancur di dekat Matahari, tekanan lingkungan di sungai besar Amerika Serikat, hingga perubahan lambat namun nyata di permukaan Mars.







