Menjadi astronaut tidak selalu berawal dari satu jalur yang sama. Di balik misi luar angkasa, ada kebutuhan akan kemampuan terbang, riset ilmiah, rekayasa sistem, kesehatan, hingga teknologi digital yang saling melengkapi.
Itu sebabnya, peluang menuju profesi astronaut ternyata lebih terbuka dari yang sering dibayangkan. NASA sendiri menempatkan latar belakang STEM, pengalaman profesional, dan kemampuan bekerja dalam sistem kompleks sebagai bagian penting dari perjalanan itu.
Pilot masih jadi jalur paling dikenal
Di antara banyak profesi, pilot tetap menjadi salah satu jalur paling umum menuju astronaut. Sejak awal program luar angkasa, banyak astronaut datang dari dunia penerbangan, dan NASA menyebut astronaut pertama yang dipilih pada 1959 seluruhnya merupakan pilot militer.
Pengalaman terbang memberi bekal penting saat menghadapi situasi ekstrem. Pilot uji terbang juga terbiasa dengan sistem yang kompleks dan berisiko tinggi, sehingga kemampuan itu sangat relevan saat harus mengendalikan wahana antariksa.
Ilmuwan dibutuhkan untuk riset di orbit
Profesi ilmuwan juga punya posisi besar dalam eksplorasi luar angkasa. Banyak misi tidak hanya membawa kru, tetapi juga menuntut penelitian dan eksperimen yang dilakukan langsung di ruang angkasa.
NASA menjelaskan bahwa astronaut di Stasiun Luar Angkasa Internasional tidak hanya berperan sebagai kru, tetapi juga sebagai ilmuwan. Bidang yang dibutuhkan mencakup fisika, biologi, kimia, dan astronomi, karena eksperimen bisa menyentuh kesehatan manusia, mikroorganisme, hingga teknologi baru.
Insinyur jadi tulang punggung misi teknis
Latar belakang teknik juga sangat relevan untuk menjadi astronaut. Misi luar angkasa mengandalkan sistem yang rumit, sehingga kemampuan memahami, mengoperasikan, dan memperbaiki teknologi menjadi kebutuhan utama.
NASA menyebut salah satu syarat utama untuk menjadi astronaut adalah latar belakang di bidang STEM, termasuk fisika, biologi, teknik, dan matematika. Karena itu, insinyur mesin, aerospace, maupun elektro termasuk di antara jalur yang paling dekat dengan kebutuhan misi.
Dokter dan tenaga medis punya peran vital
Profesi medis juga masuk daftar jalur yang bisa mengarah ke astronaut. NASA menyebut gelar kedokteran seperti Doctor of Medicine dapat memenuhi syarat, dan pengalaman residensi juga dihitung sebagai pengalaman profesional.
Peran tenaga medis dibutuhkan untuk memantau kesehatan kru selama misi berlangsung. Mereka juga harus siap menangani kondisi darurat di lingkungan yang serba terbatas dan jauh dari fasilitas kesehatan lengkap.
Teknologi, komputer, dan robotika makin penting
Bidang teknologi, komputer, dan robotika kini menjadi bagian besar dari misi modern. Sistem digital dan otomatis membuat operasi luar angkasa semakin bergantung pada keahlian di bidang ini.
Mengutip arXiv, repositori ilmiah yang dikelola Cornell University, kecerdasan buatan dipakai untuk membantu mengelola sistem pesawat dan mendukung operasi misi secara mandiri. Robot juga banyak digunakan untuk tugas berisiko tinggi di lingkungan ekstrem, sehingga ahli teknologi dan robotika punya peran besar dalam mendukung astronaut.
Pada akhirnya, jalur menuju astronaut tidak berhenti pada keberanian semata. Pilot, ilmuwan, insinyur, tenaga medis, dan ahli teknologi sama-sama menunjukkan bahwa misi luar angkasa dibangun oleh banyak keahlian yang berbeda, bukan oleh satu profesi saja.
Source: www.idntimes.com






