Dalam kecelakaan di Stasiun Bekasi yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line, perhatian publik langsung tertuju pada tingkat kerusakan dua rangkaian itu. KRL terlihat lebih ringsek, sementara KA jarak jauh tampak tidak separah lawannya.
Perbedaan itu bukan semata soal kerasnya benturan, melainkan juga soal cara tiap kereta dibangun. Desain, fungsi, material, dan kekuatan rangka membuat KRL dan kereta jarak jauh merespons tabrakan dengan cara yang berbeda.
Desain yang memang dibuat untuk kebutuhan berbeda
KRL dirancang untuk perjalanan jarak pendek dengan banyak pemberhentian di area perkotaan dan sekitarnya. Britannica menjelaskan bahwa sistem kereta komuter seperti ini memang dibuat untuk mengangkut penumpang secara cepat dan berulang dalam satu wilayah.
Sebaliknya, kereta api jarak jauh seperti KA Argo Bromo Anggrek dipakai untuk perjalanan antarkota dengan jarak lebih panjang dan pemberhentian lebih sedikit. Fungsi yang berbeda ini membuat karakteristik operasional keduanya tidak sama.
Material rangka ikut menentukan tingkat kerusakan
Kedua jenis kereta sama-sama memakai material berbasis logam, terutama baja dan aluminium. Namun, komposisi serta desainnya berbeda, dan itu memengaruhi kekuatan saat menerima benturan.
KRL umumnya memakai stainless steel atau aluminium alloy agar lebih ringan dan efisien untuk operasi harian. Sementara itu, kereta api jarak jauh lebih sering menggunakan carbon steel atau high-strength steel yang lebih berat, tetapi punya kekuatan struktural lebih tinggi.
Studi dalam jurnal Future Transportation dari MDPI pada 2025 menyebut perbedaan material ini berpengaruh langsung pada kekuatan rangka dan respons terhadap beban serta benturan. Artinya, rangka yang lebih ringan memang membantu efisiensi, tetapi juga lebih mudah berubah bentuk saat menerima pukulan keras.
Benturan tidak membagi energi secara merata
Saat dua kereta bertabrakan, tenaga besar dari gerakan kereta tidak hilang begitu saja. Energi itu justru disalurkan ke bagian-bagian kereta dan berubah menjadi kerusakan atau perubahan bentuk.
Studi dalam jurnal Chinese Journal of Mechanical Engineering pada 2025 menyebut dampak tabrakan pada kereta tidak terbagi rata ke seluruh bagian. Energi benturan lebih banyak terkonsentrasi di titik tertentu, sehingga ada bagian yang rusak lebih parah dibanding bagian lain.
Karena itu, bagian dengan struktur lebih lemah biasanya menerima dampak lebih besar terlebih dulu. Pada kasus Stasiun Bekasi, struktur KRL yang lebih ringan membuatnya cenderung menyerap dampak lebih besar dan lebih mudah ringsek dibanding rangka kereta yang lebih berat dan kokoh.
Mengapa hasilnya tampak timpang
Perbedaan kerusakan antara KRL dan KA Argo Bromo Anggrek bukan berarti salah satu tidak terdampak. Keduanya sama-sama mengalami benturan dalam peristiwa yang sama, tetapi cara masing-masing rangka menyerap energi tidak identik.
Kombinasi desain untuk perjalanan komuter, material yang lebih ringan, dan distribusi energi benturan yang tidak merata membuat KRL terlihat lebih parah. Itulah alasan mengapa dalam kecelakaan seperti di Stasiun Bekasi, kerusakan pada KRL bisa tampak jauh lebih ringsek meski tabrakan terjadi pada dua rangkaian sekaligus.
