Commvault menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar fokus di Asia Pasifik, seiring klaim pertumbuhan yang disebut berlangsung pesat di kawasan tersebut. Perusahaan juga menyiapkan penguatan organisasi lokal melalui penambahan sumber daya manusia dan perluasan kemitraan untuk mendorong penetrasi pasar.
Vice President Asia Pacific Commvault, Martin Creighan, menyebut platform perusahaan terus berkembang cepat di Asia Pasifik. Ia menegaskan Indonesia menjadi geografi penting karena menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan bagi bisnis Commvault.
Indonesia jadi fokus ekspansi
Commvault tidak membeberkan angka pencapaian spesifik di Indonesia, tetapi perusahaan memastikan langkah ekspansi tetap berlanjut. Fokus utamanya adalah memperkuat tim di dalam negeri dan membangun ekosistem mitra yang lebih luas.
“Kami mengembangkan tim kami di Indonesia dan lebih penting, kami juga mengembangkan ekosistem partner-partner yang kami bekerja dengan mereka,” ujar Martin di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Langkah tersebut menunjukkan bahwa strategi pertumbuhan Commvault di Indonesia tidak hanya bertumpu pada penjualan produk. Perusahaan juga ingin memperdalam kehadiran operasional agar bisa lebih dekat dengan kebutuhan pelanggan dan mitra teknologi di Tanah Air.
Kinerja regional ikut dorong ambisi global
Pertumbuhan di Asia Pasifik menjadi bagian penting dari strategi bisnis global Commvault. Di tingkat perusahaan, target pendapatan tahunan dipatok mencapai US$1,18 miliar atau naik 19% dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, pendapatan tahunan berulang atau Annual Recurring Revenue (ARR) ditargetkan mencapai US$1,12 miliar. Angka itu mencerminkan kenaikan 21% secara tahunan, sementara laba operasional tahunan atau EBIT tercatat US$74 juta dengan margin operasi 6,3%.
Target ini memperlihatkan bahwa Commvault tengah mengandalkan ekspansi pasar sekaligus penguatan portofolio untuk menjaga momentum pertumbuhan. Asia Pasifik, termasuk Indonesia, disebut sebagai salah satu wilayah dengan laju pertumbuhan tertinggi bagi perusahaan.
Strategi lewat kemitraan teknologi
Untuk mengejar target tersebut, Commvault menggenjot kolaborasi dengan sejumlah pemain teknologi global. Salah satu kerja sama yang disorot adalah integrasi dengan Microsoft Security untuk menghubungkan deteksi ancaman dengan sistem pemulihan data tepercaya secara lebih efisien.
Perusahaan juga memperluas integrasi dengan CrowdStrike melalui CrowdStrike Falcon Next-Gen SIEM. Di sisi infrastruktur, Commvault menjalin aliansi strategis dengan NetApp guna menghadirkan solusi terpadu bagi perlindungan data perusahaan dan ketahanan siber.
Di luar kemitraan, Commvault turut memperkuat langkah inovasi lewat akuisisi Satori, perusahaan keamanan data berbasis kecerdasan buatan atau AI. Akuisisi itu membuka perluasan cakupan ketahanan perusahaan ke data terstruktur dan data berbasis AI.
Tantangan keamanan data di Indonesia
Commvault melihat banyak organisasi di Indonesia masih menghadapi kendala akibat penggunaan perangkat keamanan yang terfragmentasi. Pendekatan yang terpisah antara perlindungan data, keamanan identitas, dan proses pemulihan dinilai membuat visibilitas serta koordinasi kerja menjadi terbatas.
Martin menilai situasi tersebut diperburuk oleh ancaman siber yang terus muncul dan semakin kompleks karena AI. Ia menyebut tantangan pemulihan bisa berdampak langsung pada pendapatan dan reputasi perusahaan.
Perusahaan juga menyoroti lamanya waktu pemulihan bisnis setelah serangan siber. Harapan banyak pemimpin perusahaan adalah sistem bisa kembali normal dalam waktu maksimal 7 hari, namun kenyataannya rata-rata waktu pemulihan justru mencapai 48 hari.
Dorong resiliensi siber lewat platform terpadu
Untuk merespons kondisi itu, Commvault mendorong pendekatan resiliensi siber agar bisnis tetap berjalan meski serangan terus datang. Martin menekankan bahwa ketahanan saat ini tidak cukup hanya berbicara soal perlindungan, tetapi juga kepastian pemulihan dan keberlanjutan operasional.
“Saat ini, ketahanan bukan hanya soal perlindungan, tetapi tentang memastikan organisasi dapat pulih dengan kepastian dan menjaga kelangsungan bisnis dalam kondisi apa pun,” kata Martin.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, Commvault memperkenalkan platform Commvault Cloud Unity. Platform ini menggabungkan perlindungan data, pemulihan siber, ketahanan identitas, dan arsitektur cloud-native dalam satu ekosistem terpadu.
Dengan dukungan AI, sistem tersebut dapat menemukan workload, mengklasifikasikan data, dan merekomendasikan kebijakan perlindungan secara otomatis. Perusahaan menilai integrasi tata kelola, perlindungan, dan pemulihan dalam satu platform akan memberi kendali respons yang lebih lengkap bagi organisasi.
Field CTO Security APAC Commvault, Gareth Russell, menambahkan bahwa visibilitas terhadap data yang bersih dan tepercaya menjadi kunci dalam proses pemulihan. Ia juga menilai perluasan penggunaan AI akan menambah kompleksitas pada data, akses, dan lingkungan kerja organisasi.
Source: teknologi.bisnis.com






