Pertamax Tembus Rp16.250, Garda Indonesia Sebut Beban Ojol Tetap Minim

Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green per 10 Juni 2026 dinilai belum akan mengguncang biaya operasional driver ojek online secara besar. Garda Indonesia menyebut dampaknya relatif terbatas karena mayoritas pengemudi masih memakai BBM subsidi dalam aktivitas harian mereka.

Ketua Umum Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono, mengatakan hanya sekitar 5% pengemudi ojol yang menggunakan BBM nonsubsidi seperti Pertamax. Karena itu, kenaikan harga di segmen tersebut belum memicu perubahan besar pada pengeluaran operasional di lapangan.

Sebagian besar pengemudi masih bergantung pada BBM subsidi

Garda Indonesia menaksir sekitar 95% pengemudi ojol masuk kelompok pengguna BBM subsidi. Kondisi itu membuat fluktuasi harga Pertamax tidak langsung terasa luas di struktur biaya harian para mitra pengemudi.

Igun menegaskan bahwa beban yang paling banyak dirasakan pengemudi bukan berasal dari BBM nonsubsidi. Ia menyebut biaya operasional masih lebih dipengaruhi oleh jenis bahan bakar yang dipakai sehari-hari dan pola penggunaan kendaraan masing-masing pengemudi.

Tekanan utama justru datang dari beban cicilan

Di luar isu BBM, Garda Indonesia menyoroti tekanan ekonomi lain yang berasal dari tren kenaikan suku bunga acuan. Kenaikan itu dinilai ikut memengaruhi biaya modal dan biaya operasional pengemudi yang memiliki kewajiban cicilan di lembaga keuangan.

Asosiasi kemudian meminta pemerintah memberi relaksasi atas utang perbankan para pengemudi ojol. Langkah tersebut dianggap penting untuk menahan risiko kredit macet di sektor informal yang juga bergantung pada penghasilan harian.

Dorongan agar subsidi motor listrik diperbesar

Selain relaksasi perbankan, Garda Indonesia juga menilai kebijakan yang lebih strategis diperlukan untuk menjaga daya tahan ekonomi pengemudi. Salah satu usul utama adalah menaikkan subsidi pembelian sepeda motor listrik khusus ojol.

Skema bantuan yang sebelumnya direncanakan sebesar Rp5 juta per unit diminta naik menjadi Rp10 juta per unit. Garda menilai insentif yang lebih besar bisa mempercepat perpindahan dari kendaraan berbahan bakar fosil ke motor listrik.

Menurut Igun, kebijakan itu juga penting agar pengemudi ojol tidak turun kelas ekonomi saat melakukan transisi energi. Ia menyebut migrasi ke motor elektrik harus dibuat lebih menarik agar peralihan dari pengguna BBM subsidi berjalan lebih luas dan lebih cepat.

Dampak kenaikan Pertamax tetap perlu dicermati

Meski efek langsungnya dinilai minim, Garda Indonesia tetap memandang perubahan harga BBM nonsubsidi sebagai sinyal yang perlu dipantau. Situasi ini menunjukkan bahwa tantangan utama pengemudi ojol tidak hanya datang dari harga bahan bakar, tetapi juga dari kombinasi beban finansial lain yang memengaruhi ketahanan usaha mereka.

Source: teknologi.bisnis.com

Berita Terkait

Back to top button