Di dunia hewan, insting bertahan hidup sering identik dengan persaingan keras. Namun, pada sejumlah mamalia, justru muncul perilaku yang mengejutkan: mereka merawat anak yang bukan darah daging sendiri, terutama ketika si kecil kehilangan induknya.
Perilaku ini menunjukkan bahwa kasih sayang dan perlindungan tidak selalu berhenti pada garis keturunan. Dari darat hingga laut, ada mamalia yang dikenal mampu membentuk pengasuhan komunal, mengadopsi yatim piatu, dan menjaga anak lain seolah milik sendiri.
Gajah, pemimpin kawanan yang paling protektif
Gajah dikenal sebagai induk yang sangat protektif. Kawanan gajah betina dan anak-anaknya biasanya berjalan dalam lingkaran, dengan anak termuda berada di bagian dalam agar lebih aman dari predator.
Saat ada anak yang menjadi yatim piatu, anggota kawanan lain akan mengadopsinya. Gajah juga menunjukkan duka yang kuat ketika ada sesama yang mati, bahkan dengan perilaku murung selama berhari-hari.
Mereka juga membuat kuburan untuk gajah yang mati dan menutupi tubuhnya dengan daun serta ranting. Bertahun-tahun kemudian, gajah pernah diamati kembali ke tempat salah satu anggota kawanan mereka mati.
Di Thailand, gajah kerap diburu dari induknya saat masih muda untuk dijual ke industri hiburan. Di Suaka Gajah Boon Lott, gajah-gajah yang diselamatkan dari nasib itu dirawat oleh Panton, gajah betina yang memimpin suaka dan mengasuh mereka agar bisa beradaptasi di rumah baru.
Gorila, pengasuhan yang kuat di dalam kelompok
Gorila juga memperlihatkan ikatan keluarga yang erat. Induk gorila sangat dekat dengan anaknya, sementara gorila jantan dominan berperan menjaga, memimpin kelompok, dan memperhatikan seluruh anggota.
Betina gorila biasanya melahirkan anak pertama sekitar usia 10 tahun. Setelah itu, mereka berubah menjadi ibu yang sangat protektif dan mencurahkan waktu untuk merawat bayi yang baru lahir.
Kasus anak gorila yatim piatu juga memperlihatkan solidaritas kelompok yang kuat. Seekor gorila gunung muda bernama Urusobe kehilangan ibunya saat berusia hampir 3 tahun, masa yang masih rentan karena ia belum sepenuhnya mandiri.
Dalam kelompok itu, gorila jantan tertua bernama Lisangna mengambil peran sebagai pengasuh utama. Ia menjaga Urubose tetap mengikuti pergerakan kelompok, merawatnya, dan memberi kehangatan saat istirahat siang maupun malam.
Gorila lain juga ikut membantu. Saudara kandungnya, Ubugeni, gorila punggung perak tertua Wakawaka, serta neneknya Mugeni dan Okapi, sama-sama memberi perawatan tambahan yang dipercaya.
Paus, perawatan panjang di lautan
Paus termasuk mamalia dengan insting keibuan yang sangat tinggi di air. Paus sperma, misalnya, menyusui anaknya selama lebih dari dua tahun, sedangkan banyak spesies paus menjaga ikatan jangka panjang dengan anak-anak mereka.
Pada orca resident, hubungan itu bahkan bertahan seumur hidup. Induk hanya punya satu anak setiap lima tahun dan mengawasi anaknya selama 24 jam penuh, sementara anak paus pada bulan pertama kehidupannya tidak tidur sehingga induknya juga ikut terjaga.
Bentuk perawatan yang umum terlihat adalah posisi berenang yang disebut eselon. Dalam posisi ini, anak paus berada di dekat sisi induknya dan memanfaatkan gelombang yang dihasilkan tubuh induk.
Beberapa paus juga menerima bantuan dari betina lain dalam kelompok. Perilaku perawatan alomaternal ini tercatat pada paus sperma, paus beluga, dan paus pilot.
Lumba-lumba, pengasuh sosial yang juga menerima anak yatim
Lumba-lumba dikenal sebagai mamalia air yang sangat sosial dan cerdas. Di luar merawat anak sendiri, mereka juga membantu membesarkan anak dari induk lain.
Pengamatan pada lumba-lumba betina menunjukkan bahwa mereka dapat membantu anak yang bukan anak biologisnya, terutama jika induknya meninggal tiba-tiba. Anak lumba-lumba yatim piatu juga bisa berintegrasi ke lingkaran betina lain secara alami.
Selain induk angkat, lumba-lumba dewasa lain dalam kelompok turut membimbing dan melindungi anak-anak itu. Pola ini memperlihatkan bahwa perlindungan pada lumba-lumba berjalan dalam jaringan sosial yang kuat.
Singa, sang predator dengan pengasuhan komunal
Di balik citranya yang garang, singa justru dikenal sebagai pengasuh yang baik. Pengasuhan anak singa dilakukan secara komunal, karena anggota kawanan ikut menjaga dan melindungi anak yang lahir.
Saat seekor singa betina melahirkan, saudara perempuan dan singa jantan dominan juga ikut terlibat. Karena banyak betina melahirkan hampir bersamaan, perhatian biasanya diprioritaskan untuk anak sendiri, lalu ke anak kerabat terdekat.
Singa betina menyusui anak-anaknya dan mengajari mereka keterampilan bertahan hidup. Mereka melatih anak singa mengintai, menerkam, dan berburu lewat permainan yang menjadi bagian dari pembentukan naluri predator.
Sistem ini juga membantu anak singa yang kehilangan induknya. Anak tersebut tetap tinggal di kawanan, lalu singa betina lain mengambil peran sebagai ibu pengganti dan terus menyusuinya.
Source: www.idntimes.com






