Misi Lucy milik NASA terus bergerak menuju target utamanya, yakni asteroid Trojan yang berbagi orbit dengan Jupiter. Sebelum sampai ke sana, wahana ini lebih dulu memberi petunjuk baru tentang asteroid 52246 Donaldjohanson, objek di sabuk utama yang kini menjadi salah satu bahan penting untuk membaca sejarah awal tata surya.
Temuan dari Donaldjohanson memperlihatkan bahwa target antara dalam perjalanan Lucy juga menyimpan informasi berharga. Data yang dikirim wahana itu membantu ilmuwan menelusuri bentuk, komposisi, umur permukaan, hingga kemungkinan jejak air pada benda langit tersebut.
Misi yang sempat luput dari sorotan publik
Lucy diluncurkan pada Oktober 2021 dan menjalani perjalanan panjang selama 12 tahun. Dalam misi ini, NASA menargetkan kunjungan ke delapan asteroid, dengan peluang bertambah jika ada satelit kecil yang ikut mengorbit objek-objek tersebut.
Misi ini fokus pada asteroid Trojan, kelompok batuan kuno yang bergerak bersama Jupiter dalam dua kumpulan besar di depan dan di belakang planet raksasa itu. Para ilmuwan menilai objek-objek ini sebagai “fosil tata surya” karena diduga membawa material yang hampir tak berubah sejak tata surya terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu.
Sebelum mencapai Trojan pertama, Lucy lebih dulu melewati beberapa asteroid di sabuk utama antara Mars dan Jupiter. Wahana ini mengunjungi Dinkinesh pada 2023 dan kemudian bertemu Donaldjohanson pada April 2025.
Mengapa Donaldjohanson menarik perhatian ilmuwan
Donaldjohanson memang tidak besar, dengan ukuran sekitar 8 kilometer panjang dan 3,5 kilometer lebar. Namun pengamatan Lucy menunjukkan bahwa asteroid ini menyimpan jejak penting tentang bagaimana benda-benda kecil di tata surya terbentuk dan berubah dari waktu ke waktu.
Nama asteroid ini diambil dari paleoantropolog Donald Johanson, penemu fosil hominin Lucy pada 1974. Hubungan nama itu bukan kebetulan, karena misi pesawat ruang angkasa Lucy juga terinspirasi oleh fosil yang membantu mengubah pemahaman manusia tentang asal-usulnya.
Donald Johanson pernah mengatakan dalam wawancara dengan IFLScience bahwa fosil Lucy menjadi lebih dari sekadar kerangka kuno. “Dia menjadi semacam patokan,” ujarnya, menegaskan nilai simbolis penemuan itu bagi ilmu pengetahuan.
Asteroid pertama yang disambangi Lucy, Dinkinesh, juga punya makna simbolis. Nama itu berarti “Lucy” dalam bahasa Amharik Ethiopia, sehingga seluruh rangkaian misi ini terasa terhubung dengan penemuan yang menginspirasi namanya.
Terbentuk dari sisa tabrakan besar
Hasil analisis terbaru menempatkan Donaldjohanson sebagai bagian dari keluarga asteroid Erigone. Kelompok ini berisi sekitar 2.000 asteroid yang diyakini berasal dari satu benda induk yang hancur akibat tabrakan besar sekitar 150 juta tahun lalu.
Bagi skala tata surya, usia itu tergolong muda. Simone Marchi dari Southwest Research Institute, yang juga wakil peneliti utama misi Lucy, mengatakan kondisi itu memberi kesempatan langka untuk mempelajari proses pembentukan asteroid dengan lebih jelas.
Marchi menjelaskan kepada IFLScience bahwa terbang lintas Donaldjohanson membantu tim memahami pembentukan dan evolusinya. Ia juga menekankan bahwa fakta asteroid ini berasal dari keluarga yang relatif muda membuatnya menjadi objek yang sangat berguna untuk menguji pemahaman ilmiah.
Para peneliti menilai banyak asteroid lain terlalu tua dan terlalu rumit sejarahnya untuk dilacak dengan pasti. Donaldjohanson justru memberi gambaran yang lebih terarah karena asal-usulnya dapat diperkirakan dengan cukup baik.
Bentuk menyerupai kacang tanah raksasa
Gambar yang dikirim Lucy menunjukkan bentuk Donaldjohanson yang tidak lazim. Asteroid ini terdiri dari dua lobus besar yang dihubungkan bagian sempit seperti leher, sehingga tampak seperti kacang tanah raksasa di ruang angkasa.
Data wahana itu mengarah pada dugaan bahwa dua lobus tersebut terbentuk dari dua objek yang bergerak lambat lalu menyatu. Setelah itu, pengaruh sinar Matahari perlahan mengubah rotasi asteroid dalam proses yang diduga terkait efek YORP.
Efek ini membuat putaran asteroid melambat dan memicu perpindahan material di permukaan. Perubahan itu ikut membentuk rupa Donaldjohanson seperti yang diamati saat ini.
Marchi menyebut data Lucy membantu membatasi sejumlah proses fisik yang membentuk karakter asteroid tersebut, termasuk penggabungan dua lobus, perlambatan rotasi, longsoran material, keberadaan air purba, kawah, dan perkiraan umur permukaan.
Kawah kecil yang hampir hilang
Salah satu petunjuk paling menarik berasal dari distribusi kawah di permukaan asteroid. Ilmuwan biasanya menghitung jumlah kawah untuk memperkirakan usia permukaan objek antariksa, karena semakin lama berada di ruang angkasa, semakin banyak tumbukan yang meninggalkan jejak.
Dari gambar beresolusi tinggi yang dikirim Lucy, peneliti memperkirakan umur permukaan Donaldjohanson sekitar 155 juta tahun. Angka itu cocok dengan teori bahwa asteroid ini merupakan pecahan dari peristiwa yang membentuk keluarga Erigone sekitar 150 juta tahun lalu.
Namun tim juga menemukan hal yang janggal. Donaldjohanson hampir tidak memiliki kawah kecil dengan diameter di bawah sekitar 400 meter hingga 500 meter.
Menurut Marchi, kondisi itu menunjukkan permukaan asteroid mengalami perubahan aktif selama jutaan tahun. Ia mengatakan kurangnya kawah kecil mengindikasikan ada pergerakan material lepas yang menghapus fitur permukaan dan membuat wilayah leher asteroid tampak sangat halus.
Para peneliti menduga longsoran asteroid atau guncangan dari tumbukan lain sekitar 40 juta tahun lalu ikut menghilangkan banyak kawah kecil. Proses itu diperkirakan berlangsung cepat dalam ukuran waktu geologi, yakni hanya puluhan juta tahun.
Jejak air purba di permukaan asteroid
Analisis komposisi mineral memberi petunjuk lain yang tak kalah penting. Instrumen Lucy menemukan filosilikat yang mengandung besi, jenis mineral yang umumnya terbentuk melalui interaksi dengan air cair.
Temuan ini mengarah pada kemungkinan bahwa benda induk keluarga Erigone pernah mengandung air pada tahap awal pembentukan tata surya. Marchi menyebut komposisi Donaldjohanson menunjukkan air sudah hadir pada fase awal, mungkin tidak lama setelah badan induknya terbentuk.
Meski begitu, perubahan kimia akibat air pada asteroid ini tidak sebesar yang terlihat pada Bennu dan Ryugu, dua asteroid yang juga pernah diteliti lewat misi luar angkasa. Perbedaan itu tetap penting, karena memberi gambaran tentang variasi proses yang terjadi pada benda-benda kecil di tata surya.
Bukti keberadaan air purba membantu ilmuwan memahami bagaimana air dan senyawa pembentuk kehidupan menyebar ke berbagai wilayah tata surya. Banyak peneliti menilai asteroid dan komet ikut membawa air serta bahan organik ke Bumi muda, sehingga membantu menciptakan kondisi bagi munculnya kehidupan.
Langkah menuju target utama Lucy
Donaldjohanson memang bukan tujuan akhir, tetapi hasil pengamatannya memperkuat kemampuan ilmiah Lucy sebelum memasuki fase paling penting. Wahana ini berhasil menggabungkan data tentang bentuk, sejarah tumbukan, evolusi permukaan, dan komposisi mineral ke dalam satu gambaran yang cukup utuh.
Marchi menyebut pencapaian itu luar biasa karena tidak semua asteroid bisa dipelajari dengan detail serupa. Ia juga menegaskan bahwa pemahaman tentang Donaldjohanson belum lengkap, tetapi data yang ada sudah membentuk cerita yang masuk akal dan selaras dengan pengetahuan sebelumnya.
Langkah berikutnya bagi Lucy adalah asteroid Trojan Eurybates, yang berdiameter sekitar 68 kilometer, beserta satelit kecilnya Queta. Pertemuan itu dijadwalkan berlangsung pada 12 Agustus 2027.
Setelah itu, Lucy akan melanjutkan kunjungan ke tiga asteroid Trojan lain di kelompok depan Jupiter sebelum kembali melintas dekat Bumi pada 2031 untuk bantuan gravitasi. Manuver ini akan memberi tambahan kecepatan sebelum wahana bergerak ke kelompok Trojan di belakang Jupiter pada 2033, sambil membuka lebih banyak petunjuk tentang sejarah awal tata surya.
