Kucing hutan sering luput dari perhatian karena namanya terdengar seperti penghuni rimba, padahal spesies ini punya kemampuan yang tidak biasa. Hewan bernama ilmiah Felis chaus ini bisa menggonggong keras seperti anjing besar dan juga jago berenang.
Ciri fisiknya juga mudah dikenali jika diperhatikan lebih dekat. Kucing hutan termasuk kucing berukuran sedang dengan panjang tubuh sekitar 59–76 cm, tinggi 36 cm, dan bobot 2–16 kg, sementara betina umumnya lebih kecil dari jantan.
Sebaran luas dan habitat yang beragam
Kucing hutan tersebar luas di Asia dan sekitarnya. Populasinya banyak ditemukan di India, Bangladesh, dan Pakistan, lalu menyebar ke Mesir, Asia Barat Daya, Asia Tenggara, Asia Tengah, hingga selatan China.
Meski namanya mengarah ke hutan, hewan ini tidak hanya hidup di kawasan hutan. Kucing hutan lebih sering berada di lahan basah, semak lebat, padang rumput tinggi, dan area dekat sumber air, meski juga mampu beradaptasi di habitat lain seperti gurun.
Aktif berburu saat fajar dan petang
Kucing hutan bukan satwa nokturnal murni seperti banyak kucing liar lain. Mereka cenderung berburu saat fajar dan petang, lalu beristirahat di area tutupan dedaunan pada siang hari.
Saat musim dingin, kucing hutan juga bisa berjemur untuk menghangatkan tubuh. Pola ini menunjukkan bahwa mereka menyesuaikan aktivitas dengan kondisi lingkungan dan ketersediaan mangsa.
Jelajah malam yang cukup jauh
Dalam satu malam, kucing hutan bisa menjelajah sejauh 3–6 km untuk mencari makan. Jarak jelajah itu bergantung pada ketersediaan mangsa di wilayahnya.
Menu makanannya juga tergolong luas. Kucing hutan memburu hewan pengerat, kadal, katak, ular, burung, ikan, serangga, terwelu, bahkan hewan ternak, lalu sesekali menambah buah-buahan saat musim dingin.
Suara mirip anjing dan perilaku sosial
Salah satu fakta paling mengejutkan dari kucing hutan adalah suaranya. Melansir Big Cat Rescue, vokalisasinya bisa terdengar sangat keras seperti gonggongan anjing besar, selain kicauan, dengkuran, geraman, dan desisan.
Dalam kelompok keluarga di alam liar, kucing hutan terdiri dari jantan, betina, dan anak-anaknya. Di penangkaran, jantan disebut tampak lebih protektif terhadap anak-anak dibanding betina.
Ahli berenang dan berlari cepat
Banyak kucing menghindari air, tetapi kucing hutan justru mampu berenang dengan baik. Mereka bisa berenang hingga 1,5 km di dalam air untuk menangkap ikan.
Kemampuan itu melengkapi kecepatan larinya yang bisa mencapai 32,18 km/jam. Kombinasi ini membuat kucing hutan efektif berburu di darat maupun di perairan dangkal.
Sangat teritorial dan punya sistem perkawinan poligami
Kucing hutan dikenal sangat teritorial. Jantan biasanya menandai wilayah dengan menggosokkan aroma pada benda-benda di sekitarnya, meski wilayahnya kadang tumpang tindih dengan beberapa betina.
Mereka juga saling menggosok pipi untuk saling menempelkan aroma, dan jantan dapat menggosok pipi betina. Sistem perkawinannya poligami, sehingga jantan dan betina sama-sama dapat memiliki beberapa pasangan sepanjang hidupnya.
Musim kawin berlangsung dari Januari hingga Maret, tetapi waktunya bergantung pada lokasi. Masa kehamilan betina 63–66 hari, dan biasanya mereka melahirkan 1–3 anak, bahkan bisa memiliki dua anak dalam setahun.
Anak kucing mencapai usia dewasa reproduktif pada umur 11–18 bulan. Di alam liar, populasinya diperkirakan belum pasti, tetapi ada sekitar 500 individu di Rusia dan lebih dari 10.000 di Nepal, sementara statusnya masih tergolong tidak terancam punah meski trennya menurun di beberapa wilayah.
