AI kini menjadi salah satu penentu arah industri fintech karena mampu mempercepat proses kerja, meningkatkan efisiensi operasional, dan memperkuat deteksi fraud. Di saat transaksi pembayaran digital terus tumbuh, perusahaan fintech dituntut tidak hanya cepat, tetapi juga akurat, aman, dan mampu menjaga kualitas layanan.
Di tengah kebutuhan itu, kecerdasan buatan tidak lagi diposisikan sebagai fitur tambahan. Teknologi ini mulai menjadi fondasi penting untuk menjaga daya saing, terutama pada layanan keuangan yang mengelola data sensitif dan berhadapan langsung dengan risiko konsumen.
Tiga pilar utama agar AI benar-benar efektif
Wulung Anggara Hanandita, VP of Data Platform and Data Science DANA, menilai ada tiga kunci utama agar AI bisa dimaksimalkan di perusahaan fintech. “Pertama kita harus punya infrastruktur dan teknologi yang harus berdiri sendiri. Kedua kita harus punya talentanya, dan yang terakhir harus ada yang mengaturnya agar penggunaannya tepat sasar,” ujarnya dalam seminar Indonesia Ethical AI Summit.
Pilar pertama adalah infrastruktur yang kuat dan mandiri. Dalam praktiknya, DANA menghubungkan seluruh karyawan pengguna AI melalui AI gateway agar pemakaian teknologi tetap terkontrol sekaligus mendukung inovasi dan operasional yang lebih cepat.
Perusahaan itu juga mengembangkan AI di atas GPU milik sendiri. Langkah ini penting karena kepemilikan GPU memberi kontrol lebih besar atas penyimpanan dan pemrosesan data, terutama di industri finansial yang sangat bergantung pada privasi data.
Kedaulatan data jadi perhatian utama
Menurut Wulung, kedaulatan AI sulit tercapai jika proses inferensi terus bergantung pada pihak luar. Ia menegaskan, “Kedaulatan AI bergantung pada kepemilikan GPU, terutama di industri finansial yang mengelola data dengan privasi tinggi.”
Di sektor fintech, kontrol atas data tidak hanya menyangkut efisiensi, tetapi juga menyentuh aspek kepercayaan pengguna. Karena itu, infrastruktur yang berdiri sendiri menjadi syarat agar pemanfaatan AI tetap aman, sesuai kebutuhan, dan tidak menimbulkan ketergantungan berlebihan pada sistem eksternal.
Pilar kedua adalah talenta yang memahami seluk-beluk AI. DANA menempatkan sumber daya manusia sebagai penggerak penting, termasuk dalam penggunaan AI untuk pekerjaan coding yang tetap diawasi melalui proses supervisi lanjutan.
SDM dan pengawasan tetap menentukan hasil
Kehadiran AI tidak otomatis menggantikan peran manusia dalam pengambilan keputusan. Justru, talenta yang paham teknologi dibutuhkan untuk memastikan hasil kerja sistem tetap sesuai standar, terutama saat AI dipakai dalam proses yang berpengaruh pada layanan finansial.
Pilar ketiga adalah tata kelola atau governance, baik untuk data maupun AI. Tata kelola ini mencakup edukasi, etika penggunaan, serta pengaturan agar teknologi tidak dipakai sembarangan dan tetap menghasilkan keputusan yang adil.
Wulung juga menyebut DANA memperketat tata kelola input dan proses data untuk memastikan implementasi AI berjalan optimal. Langkah ini penting karena kualitas hasil AI sangat bergantung pada data yang masuk ke sistem.
Risiko bias algoritma tidak bisa diabaikan
Salah satu tantangan terbesar dalam penerapan AI di fintech adalah bias algoritma. DANA berupaya memitigasi risiko ini karena keputusan digital yang keliru bisa merugikan konsumen, termasuk dalam kredit scoring.
Wulung menilai kualitas data menjadi landasan paling dasar dalam seluruh proses. Jika data mentah dimasukkan tanpa penyelarasan yang baik, sistem penilaian kredit bisa secara otomatis menyingkirkan kelompok masyarakat tertentu dari pantauan teknologi.
Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan model yang canggih. Mereka juga perlu memastikan data bersih, prosesnya terukur, dan keputusan sistem bisa dipertanggungjawabkan.
Wulung menyebut ekosistem teknologi juga memerlukan kepemimpinan yang kuat agar orang yang tepat berada di posisi yang tepat. Pendekatan ini membantu perusahaan mengurangi bias sekaligus menjaga agar pemanfaatan AI tetap relevan dengan kebutuhan industri keuangan.
Di sisi lain, DANA menggabungkan pelajaran dari ekosistem global dalam pengembangan Agentic AI. Perusahaan menilai inovasi, replikasi, dan regulasi harus berjalan seimbang agar industri lokal bisa tumbuh tanpa mengabaikan perlindungan konsumen.
Dalam industri finansial, keseimbangan itu menjadi kunci karena sektor ini bergerak dengan perputaran modal besar dan risiko yang tinggi. Karena itu, dorongan inovasi perlu berjalan bersama tata kelola yang memadai agar AI benar-benar menjadi game changer, bukan justru menambah risiko baru bagi pengguna layanan digital.
