Lonjakan gempa dangkal di Gunung Anak Krakatau menandakan aktivitas vulkanik yang kembali menguat di sistem dekat kawah. Data pemantauan menunjukkan gempa hembusan, hybrid, dan low frequency naik tajam, sementara tanda suplai magma dari kedalaman belum terlihat kuat.
Sejak awal Juni, satelit Sentinel merekam emisi gas sulfur dioksida atau SO2 serta anomali panas di kawasan gunung api tersebut. Api di kawah mulai terpantau pada 10 Juni disertai embusan asap berintensitas tinggi, lalu lonjakan seismik paling menonjol muncul pada 18-19 Juni dengan rata-rata lebih dari 50 kejadian per hari untuk beberapa jenis gempa dangkal.
Aktivitas Dangkal Jadi Sumber Utama
Ketua Tim Kerja Gunung Api PVMBG, Heruningtyas Desi Purnamasari, menyebut pola itu mengarah pada dinamika di sistem dangkal gunung api. Ia menjelaskan bahwa gempa hembusan, hybrid, dan low frequency mencerminkan pergerakan gas dan fluida di konduit dekat kawah.
Gempa hembusan terjadi saat gas menerobos rekahan di jalur konduit. Gempa hybrid menunjukkan patahan batuan akibat tekanan fluida, sedangkan gempa low frequency menandakan pergerakan cairan atau gas di bagian dangkal tubuh gunung.
Menurut Heruningtyas, pola tersebut belum menunjukkan peningkatan aktivitas magma dari kedalaman. “Ini penanda pergerakan magma dari kedalaman tidak ikut meningkat,” ujarnya, seraya menegaskan belum ada indikasi kuat suplai magma baru dari bawah.
Belum Ada Deformasi Signifikan
Selain data gempa, pemantauan juga memakai instrumen deformasi seperti GPS, GNSS, dan tiltmeter. Perangkat itu mengirimkan data secara telemetri ke pos PGA Pasauran dan Kalianda, sehingga pemantauan tetap berjalan meski tidak ada orang di pulau.
Hingga saat ini, instrumen tersebut belum mendeteksi perubahan bentuk tubuh gunung yang signifikan. Kondisi itu membuat aktivitas yang meningkat lebih cocok dibaca sebagai proses dangkal, seperti degassing, daripada intrusi magma berskala besar.
Heruningtyas juga mengingatkan bahwa jumlah gempa bukan satu-satunya dasar penilaian status gunung api. PVMBG selalu menggabungkan data seismik, deformasi, visual, dan gas sebelum mengambil keputusan.
Satelit Penting, Tetapi Bukan Satu-Satunya Acuan
Temuan anomali termal dan emisi SO2 dari satelit menjadi sinyal awal yang penting. Namun data satelit tetap harus diverifikasi dengan pengamatan seismik, deformasi, dan visual agar interpretasinya lebih kuat.
Heruningtyas menjelaskan citra satelit punya keterbatasan karena dapat dipengaruhi awan, abu, uap air, dan kondisi atmosfer. Karena itu, satu data saja tidak cukup untuk menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan.
Status Masih Waspada
Meski aktivitas meningkat, status Gunung Anak Krakatau masih berada di level II atau waspada. Pada level ini, masyarakat, wisatawan, dan pendaki dilarang memasuki radius 2 kilometer dari kawah aktif.
Larangan tersebut ditegakkan lewat jalur laut karena pulau itu berada di tengah Selat Sunda. Pengawasan melibatkan berbagai pihak, termasuk KSOP, Polairud, TNI AL, Basarnas, BPBD, dan pemerintah daerah.
Radius 2 kilometer ditetapkan untuk mengurangi risiko bahaya langsung seperti lontaran batu pijar, abu, dan gas yang bisa muncul tanpa peringatan. Situasi ini membuat akses ke sekitar kawah tetap harus diawasi ketat, terutama bagi kapal wisata dan nelayan yang melintas.
Bayang-Bayang Tsunami 2018 Masih Menjadi Pelajaran
Nama Anak Krakatau tidak bisa dilepaskan dari tragedi 22 Desember 2018, saat longsoran sebagian tubuh gunung memicu tsunami yang menelan ratusan korban di pesisir Banten dan Lampung. Peristiwa itu mengubah pendekatan mitigasi secara mendasar.
Setelah kejadian tersebut, skenario tsunami akibat longsoran tubuh gunung api sudah masuk ke dalam perencanaan mitigasi. Jalur evakuasi, rambu, simulasi, rencana kontinjensi, dan koordinasi antarinstansi kini diperkuat untuk menghadapi kemungkinan serupa.
Perhatian terhadap ancaman tsunami vulkanik juga semakin besar, bukan hanya tsunami akibat gempa tektonik. Karena itu, pemantauan di Anak Krakatau tidak hanya melihat erupsi, tetapi juga potensi dampak yang dapat menjalar ke kawasan pesisir.
Hubungan dengan Megathrust Belum Terbukti
Heruningtyas menegaskan belum ada bukti yang menunjukkan lonjakan aktivitas saat ini dipicu langsung oleh megathrust. Pola yang terlihat justru lebih sesuai dengan dinamika internal sistem vulkanik Anak Krakatau, bukan respons cepat terhadap aktivitas tektonik regional.
Secara geologi, gunung api ini memang terbentuk dari proses subduksi yang sama dengan sistem Megathrust Sunda. Namun hubungan itu bersifat jangka panjang, bukan bukti bahwa aktivitas tektonik tertentu sedang memicu gejolak yang terjadi sekarang.
Zona Megathrust Selat Sunda sendiri membentang dari selatan Sumatera hingga selatan Jawa Barat. Di wilayah itu, lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah lempeng Eurasia, sementara Anak Krakatau berdiri di atas sistem geologi yang sama dan terus dipantau karena potensi bahayanya belum hilang.
Source: www.beritasatu.com






