Gempa Kembar Venezuela Mengguncang Dunia, Indonesia Ternyata Punya Jejak Serupa

Gempa kembar yang mengguncang Venezuela menunjukkan betapa cepatnya kehancuran bisa berlipat ketika dua gempa besar datang beruntun. Dalam selang sekitar 40 detik, guncangan M 7,2 disusul M 7,5 membuat rumah runtuh, infrastruktur lumpuh, dan wilayah pesisir hingga ibu kota ikut terdampak berat.

Fenomena ini dikenal sebagai doublet earthquake, yakni dua gempa besar yang muncul di lokasi berdekatan dalam waktu singkat. Pola seperti ini penting dicermati karena Indonesia juga memiliki riwayat serupa yang berkali-kali tercatat dalam sejarah kegempaan nasional.

Apa yang membuat gempa kembar begitu berbahaya

Secara ilmiah, gempa kembar tidak sekadar dua gempa yang kebetulan terjadi berdekatan. Guncangan pertama dapat mengubah distribusi tegangan di sekitar patahan, lalu memicu segmen lain yang sudah rapuh untuk pecah dan melepaskan energi tambahan.

Daryono, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), menyebut pola ini sebagai pukulan ganda tektonik yang menyulitkan respons darurat. Ia menegaskan bahwa upaya pertolongan dan evakuasi menjadi jauh lebih berisiko ketika guncangan kedua datang saat situasi belum pulih.

Dampak terbesarnya ada pada kerusakan yang terakumulasi dengan cepat. Bangunan yang masih berdiri setelah gempa pertama bisa saja sudah melemah, sehingga tidak sanggup menahan guncangan berikutnya.

Jejak serupa juga pernah tercatat di Indonesia

Indonesia bukan wilayah yang asing bagi pola gempa beruntun. Sejumlah peristiwa besar menunjukkan karakter yang mirip dengan gempa kembar, terutama di zona sesar aktif dan wilayah pertemuan lempeng.

Salah satu catatan lama terjadi di Padang Panjang, ketika gempa M 7,1 disusul M 7,2 pada Juni 1926 dan memicu kerusakan luas. Pola serupa kembali muncul pada Maret 2007 di lokasi yang sama, saat gempa M 6,4 diikuti M 6,3.

Peristiwa besar lain terjadi di Bengkulu pada September 2007. Gempa M 8,4 yang kemudian diikuti M 7,9 tidak hanya merusak daratan, tetapi juga memicu tsunami.

Catatan berikutnya datang dari Samudra Hindia barat Aceh. Gempa M 8,6 yang disusul M 8,1 pada April 2012 memicu tsunami kecil, sementara Lombok pada Agustus 2018 mengalami gempa M 7,0 diikuti M 6,9 yang meluluhlantakkan permukiman dan memicu tsunami kecil.

Daryono menilai pengalaman itu memperlihatkan bahwa gempa besar di Indonesia sering memiliki karakter yang menyerupai doublet earthquake. Ia menekankan bahwa wilayah Nusantara yang berada di pertemuan lempeng aktif memang sangat memungkinkan munculnya pola seperti ini.

Pelajaran dari Turki dan Venezuela

Pola gempa beruntun juga pernah memicu bencana besar di negara lain. Pada 6 Februari 2023, gempa Turki M 7,8 memecahkan hampir seluruh segmen Sesar Anatolia Timur dan memicu gempa M 7,5 pada jalur Sesar Surgu.

Rangkaian itu menimbulkan korban jiwa sangat besar, lebih dari 53.000 di Turki dan sekitar 6.000 hingga 8.000 di Suriah. Contoh tersebut memperlihatkan bahwa dua guncangan besar dalam waktu singkat dapat memperluas skala bencana secara drastis.

Venezuela kini menambah daftar panjang peristiwa serupa. Guncangan beruntun di sana menjadi pengingat bahwa ancaman gempa kembar bukan hanya soal kekuatan magnitudo, tetapi juga soal jeda waktu yang terlalu singkat untuk memberi kesempatan pemulihan.

Mitigasi harus menyiapkan skenario guncangan berantai

Ancaman gempa kembar menuntut cara pandang baru dalam kesiapsiagaan bencana. Daryono menyebut konstruksi tidak boleh hanya dirancang untuk satu kali guncangan puncak, melainkan harus tetap mempertahankan integritas struktural setelah gempa pertama.

Penilaian cepat terhadap kondisi bangunan juga menjadi langkah penting sebelum warga kembali masuk. Kerusakan yang tidak terlihat dapat berubah fatal saat gempa kedua datang.

Bangunan vital seperti rumah sakit, sekolah, dan jalur evakuasi perlu mendapat perhatian lebih besar. Jika fasilitas ini ikut lumpuh, maka proses evakuasi dan layanan darurat akan semakin berat saat kebutuhan justru sedang tinggi.

Masyarakat juga perlu mengubah asumsi bahwa gempa susulan pasti lebih kecil dari gempa utama. Dalam pola gempa kembar, guncangan berikutnya bisa setara atau mendekati kekuatan gempa awal, sehingga kewaspadaan tidak boleh turun terlalu cepat setelah getaran pertama berhenti.

Source: www.beritasatu.com

Terkait