Mishmi Takin, Raksasa Gunung Yang Jarang Terlihat Dan Terancam Iklim Hangat

Mishmi takin termasuk hewan yang jarang disebut, padahal tampilannya sangat khas dan statusnya semakin memprihatinkan. Ungulata langka dari Himalaya timur ini hidup di wilayah pegunungan yang sulit dijangkau, sehingga kemunculannya di alam liar juga jarang sekali terlihat.

Di tengah kabar soal penurunan kualitas habitat pegunungan, mishmi takin menjadi contoh satwa yang sangat bergantung pada kondisi alam sekitarnya. Hewan ini bukan hanya unik secara bentuk tubuh, tetapi juga menyimpan sejumlah adaptasi yang membuatnya mampu bertahan di lingkungan ekstrem.

Apa sebenarnya mishmi takin?

Mishmi takin atau Budorcas taxicolor taxicolor adalah salah satu anak jenis takin yang langka. Takin sendiri merupakan hewan berkuku besar, bertubuh kekar, dan bertanduk, dengan tinggi lebih dari satu meter serta berat sekitar 250—400 kilogram.

Takin pernah dianggap berkerabat dengan muskox karena kemiripan fisiknya. Namun, takin sebenarnya lebih dekat dengan domba, tepatnya domba barbari atau aoudad dari Afrika Utara.

Masuk dalam empat anak jenis takin

Mishmi takin adalah satu dari empat anak jenis takin yang tersebar di pegunungan Himalaya. Tiga lainnya adalah takin emas (B. t. bedfordi), takin sichuan (B. t. tibetana), dan takin bhutan (B. t. whitei).

Meski langka di alam liar, mishmi takin justru menjadi anak jenis takin yang paling banyak dipelihara di kebun binatang di seluruh dunia. Kondisi itu membuat banyak orang lebih mengenalnya dari koleksi satwa ketimbang dari habitat aslinya.

Hidup di Himalaya timur

Habitat alami mishmi takin berada di Himalaya timur. Sebarannya meliputi pegunungan di India timur laut, Myanmar utara, Tibet tenggara, dan sebagian Tiongkok.

Hewan ini bisa ditemukan di berbagai tipe habitat, dari lembah berhutan sampai zona pegunungan berbatu. Ia juga mampu hidup di ketinggian hingga 4.500 meter, yang menunjukkan betapa kuatnya adaptasi satwa ini terhadap lingkungan pegunungan.

Tubuhnya dirancang untuk udara dingin

Takin punya kaki pendek dan kokoh, serta kuku lebar yang memberi pijakan mantap di medan curam. Kulitnya juga menghasilkan cairan berminyak yang melapisi rambut tebal dan membantunya menghadapi iklim dingin serta lembap.

Bagian hidungnya pun punya fungsi penting. Rongga sinus besar pada takin membantu menghangatkan udara dingin sebelum masuk ke paru-paru, sehingga hewan ini bisa bertahan di udara pegunungan yang ekstrem.

Hidup berkelompok, tetapi sulit terlihat

Seperti takin pada umumnya, mishmi takin hidup dalam kawanan. Satu kelompok bisa mencapai sekitar 20 ekor, sementara jantan dewasanya biasanya hidup menyendiri.

Meski hidup berkelompok dan bertubuh besar, takin tetap jarang terlihat manusia. Penyebabnya sederhana, karena mereka lebih sering berada di daerah curam dan bervegetasi lebat yang sulit diakses.

Punya kebiasaan migrasi musiman

Setiap musim semi, takin bermigrasi dalam kawanan untuk menghabiskan musim panas di padang rumput pegunungan. Saat musim dingin mendekat, mereka turun ke habitat berhutan yang lebih rendah.

Dalam perjalanan itu, takin cenderung memakai jalur yang sama berulang kali. Kebiasaan tersebut membentuk rangkaian lintasan yang sering dilalui di wilayah pegunungan.

Penikmat dedaunan pegunungan

Mishmi takin adalah pemakan daun atau browser. Makanannya meliputi daun dari semak-semak dan pepohonan, termasuk bambu dan tumbuhan Rhododendron.

Untuk meraih daun yang lebih tinggi, takin bisa berdiri di atas kaki belakangnya. Jika diperlukan, hewan ini juga dapat membengkokkan atau mematahkan pohon untuk menjangkau dedaunan yang diincar.

Rentan saat iklim berubah

Britannica menyebut mishmi takin berstatus terancam punah. Satwa ini juga sangat rentan terhadap perubahan iklim karena hidup di habitat yang sensitif terhadap perubahan suhu dan curah salju.

Menurunnya salju dan mencairnya gletser dapat mengurangi pertumbuhan padang rumput serta semak belukar di pegunungan. Perubahan itu ikut mengubah komposisi satwa liar di habitatnya, termasuk keberadaan takin yang bergantung pada lanskap Himalaya.

Source: www.idntimes.com

Terkait