Buaya Rawa Bisa Memancing Mangsa Dengan Ranting, Reptil Ini Ternyata Sangat Cerdas

Author: Qoo Media

Buaya rawa sering dianggap hanya sebagai reptil besar yang menakutkan. Padahal, spesies yang juga disebut mugger crocodile ini menyimpan perilaku yang jauh lebih unik, termasuk kebiasaan memancing mangsa dengan alat sederhana.

Reptil bernama ilmiah Crocodylus palustris ini hidup di air tawar dan tersebar di anak benua India serta wilayah sekitarnya. Dari India, buaya rawa juga ditemukan di Iran, Sri Lanka, Pakistan, dan Nepal, lalu beradaptasi dengan waduk, kolam buatan, hingga kanal irigasi ketika habitat aslinya makin berkurang.

Moncong lebar dan tubuh yang khas

Buaya rawa punya bentuk tubuh yang mudah dikenali. Ukurannya tergolong sedang, dengan panjang sekitar 4—5 meter dan bobot yang umumnya 450 kilogram, meski bisa mencapai 700 kilogram.

Ciri paling mencolok ada pada moncongnya yang lebar. Bahkan, moncong buaya rawa disebut sebagai yang terlebar di antara semua spesies buaya, termasuk bila dibandingkan dengan buaya muara.

Seluruh tubuhnya tertutup sisik tebal dan kasar berwarna cokelat keruh. Penampilan ini membuatnya terlihat sangar, meski perilakunya tidak selalu seagresif buaya lain.

Hidup tenang di perairan dangkal

Buaya rawa lebih suka air tenang seperti rawa, danau, kolam, serta perairan dangkal. Habitat pilihannya biasanya tidak lebih dalam dari lima meter, sehingga cocok untuk bergerak dan bersembunyi di lingkungan yang relatif stabil.

Nama “mugger” berasal dari kata magar dalam bahasa Hindi dan Urdu. Maknanya secara longgar merujuk pada “monster air”, sebutan yang pas untuk reptil besar yang kerap berdiam di air tawar ini.

Pemburu oportunis, bukan penyergap yang hanya mengandalkan kekuatan

Meskipun berwajah garang, buaya rawa dikenal tidak terlalu agresif dibanding saudara-saudaranya yang lebih besar. Mereka lebih banyak memakan ikan, tetapi juga memanfaatkan apa saja yang mudah ditangkap, mulai dari serangga, mamalia, burung, hingga rusa.

Mangsa kecil seperti burung biasanya langsung ditelan bulat-bulat. Sementara itu, mangsa besar seperti babi hutan atau rusa akan dicabik-cabik dengan putaran tubuh yang mematikan.

Ahli menggali liang untuk bertahan hidup

Buaya rawa termasuk sedikit jenis buaya yang menggali liang tanah. Dengan kaki berselaput, mereka membuat lubang besar untuk berlindung dari cuaca ekstrem.

Liang ini bisa mencapai kedalaman 6,1 meter dan cukup luas untuk membuat buaya rawa bisa berputar di dalamnya. Kebiasaan ini tidak hanya dilakukan buaya dewasa, tetapi juga buaya dari berbagai usia.

Liang tanah itu juga memberi manfaat bagi spesies lain. Beberapa hewan seperti ular dan reptil lain ikut memanfaatkannya sebagai tempat berlindung.

Reptil pertama yang diketahui memakai alat

Salah satu fakta paling menonjol dari buaya rawa adalah kecerdasannya. Reptil ini pernah diamati menggunakan tongkat atau ranting sebagai umpan saat berburu burung.

Caranya sederhana tetapi efektif. Buaya rawa menyeimbangkan ranting di atas kepalanya untuk menarik burung yang sedang mencari bahan sarang, terutama saat musim bersarang.

Perilaku itu menjadi catatan penting dalam dunia satwa karena disebut sebagai penggunaan alat pertama yang diketahui pada reptil. Strategi ini menunjukkan bahwa kemampuan berburu buaya rawa tidak hanya bergantung pada kekuatan fisik.

Buaya yang juga lembut dan sosial

Di balik reputasinya yang buas, buaya rawa memiliki sisi lain yang jarang disorot. Betinanya menggunakan rahang yang sama untuk meremukkan cangkang telur secara lembut agar anak-anaknya bisa keluar.

Buaya rawa juga memiliki jaringan sensorik di seluruh tubuh yang membantu mendeteksi mangsa secara akurat. Menariknya, jaringan ini juga berperan dalam perilaku kawin.

Spesies ini dikenal sosial dan senang hidup berkelompok. Mereka saling berkomunikasi, dan menurut Animal Diversity, ada banyak vokalisasi antara buaya dewasa dan anak-anaknya.

Source: www.idntimes.com
Terbaru