Nuclear Startup Pamer DGX Spark, Demo Web-Nya Malah Lebih Boros Daya

Valar Atomics sedang menarik perhatian bukan hanya karena reaktor nuklir mikro yang dikembangkannya, tetapi juga karena cara perusahaan itu memamerkan teknologinya. Start-up ini menghubungkan demo publik Ward 250 dengan Nvidia DGX Spark, namun ironisnya, demo web yang dibuat untuk menunjukkan kemampuan sistem justru tampak lebih boros daya daripada perangkat yang ingin dipamerkan.

Perusahaan itu mengklaim menjadi start-up nuklir pertama yang menghasilkan listrik sambil menyalakannya untuk sebuah NVIDIA Spark. Langkah ini menempatkan Valar Atomics di tengah pembicaraan soal kebutuhan energi besar yang terus mendorong industri AI mencari sumber daya listrik yang lebih lokal dan efisien.

Ward 250 dan alasan Nvidia ikut terlibat

Ward 250 adalah reaktor mikro nuklir tipe high-temperature gas-cooled reactor atau HTGR. Sistem ini memakai helium sebagai pendingin dan media pemindah panas, bukan air seperti pada sebagian besar reaktor di dunia.

Alih-alih memakai penukar panas besar untuk mengubah air menjadi uap dan memutar turbin, Valar menggunakan helium untuk menggerakkan generator termoelektrik yang ringkas. Pendekatan ini membuat sistemnya menarik untuk skala kecil seperti pusat data, meski HTGR sendiri belum banyak dipakai secara luas.

HTGR sebenarnya sudah dikenal sejak lama dan menawarkan efisiensi termal serta aspek keselamatan yang menarik. Namun, biaya konstruksi yang lebih mahal dan kebutuhan material yang lebih tahan panas membuat reaktor jenis ini kurang populer dibanding PWR atau pressurised water reactor.

Di sinilah kaitan dengan Nvidia menjadi relevan. Demonstrasi Valar menyoroti bagaimana konsumsi energi pusat data AI yang terus membengkak mendorong minat pada sumber listrik alternatif, termasuk reaktor mikro yang bisa dipasang lebih dekat ke kebutuhan beban komputasi.

Demo publik yang justru memakan daya

Valar tidak berhenti pada menyalakan DGX Spark. Start-up ini juga menjalankan situs web yang diklaim di-host di server bertenaga Ward 250, lengkap dengan demo interaktif di bagian bawah halaman untuk mengendalikan batang kendali reaktor secara visual.

Demo itu memang terlihat menarik, tetapi efeknya pada perangkat pengguna justru cukup terasa. Saat dibuka, kipas pendingin CPU bisa langsung bekerja keras, dan sebuah prosesor Core Ultra 7 270K Plus disebut naik dari 28 W menjadi sekitar 72 W konsumsi daya.

Dalam pengujian yang digambarkan, dua P-core ikut terdengar bekerja keras saat demo dijalankan. Jika efek seperti itu dikalikan dengan 100.000 pengunjung situs, maka beban daya tambahan untuk menampilkan sistem bisa mencapai banyak megawatt.

Itulah ironi yang membuat demo ini menonjol. Teknologi yang dipromosikan sebagai bagian dari solusi energi untuk AI justru dipamerkan lewat halaman web yang sendiri tampak haus daya.

Pesan yang ingin disampaikan

Valar Atomics tampaknya ingin menunjukkan bahwa reaktor mikro lokal bisa menjadi jawaban untuk kebutuhan energi AI yang terus meningkat. Karena itu, demonstrasi dengan DGX Spark dan situs interaktif dibuat sebagai bukti bahwa teknologi nuklir maju bisa hadir dalam bentuk yang lebih kecil dan lebih dekat ke beban komputasi modern.

Tetapi cara pamer itu juga memunculkan kritik tersendiri. Reaktor lokal mungkin cocok untuk menyuplai pusat data, namun akan terasa janggal jika teknologi seperti itu harus dipakai hanya untuk menopang demo pemasaran yang berat di sisi komputasi.

Bagi publik, kombinasi antara reaktor mikro, Nvidia DGX Spark, dan situs demo interaktif membuat Valar Atomics terlihat ambisius sekaligus provokatif. Di saat industri AI terus mencari pasokan listrik baru, start-up ini mencoba menempatkan nuklir mikro sebagai bagian dari percakapan itu, meski alat promosi digitalnya sendiri belum sepenuhnya hemat energi.

Terkait