Gajah Liar Masuk Permukiman Lampung, Pakar UGM Ungkap Akar Konflik yang Tak Sederhana

Tragedi tewasnya seorang petani di Lampung setelah diduga diserang kawanan gajah liar kembali menyorot konflik manusia dan satwa liar di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Di balik peristiwa itu, pakar UGM menyebut masalah utamanya bukan sekadar satu serangan, melainkan ruang hidup gajah yang terus menyempit.

Gubuk korban ditemukan rusak dan berantakan setelah kawanan gajah melintas di kawasan Kabupaten Lampung Barat. Petugas TNBBS juga menyebut sudah berulang kali mengingatkan warga agar tidak mendirikan pondok di jalur lintasan gajah.

Bukan Agresi, Melainkan Respons Bertahan Hidup

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. Wisnu Nurcahyo, menjelaskan bahwa gajah yang mendekati atau masuk ke area manusia tidak selalu menunjukkan agresi. Menurutnya, perilaku itu sering muncul sebagai respons alami ketika habitat mereka menyusut dan terfragmentasi.

“Kawanan gajah biasanya mendekati atau menyerang area manusia terutama karena menyusutnya atau terfragmentasinya habitat alami mereka. Hal ini memaksa mereka mencari sumber pakan dan air yang ada di wilayah yang kini dihuni manusia. Perilaku ini sebenarnya merupakan suatu respons alami untuk bertahan hidup, bukan sekadar agresi,” ungkap Wisnu, Jumat (3/7/2026), dikutip laman UGM.

Alih fungsi hutan, pembukaan perkebunan kelapa sawit, dan deforestasi membuat gajah kehilangan ruang jelajah. Saat sumber pakan di hutan menipis, mereka terdorong mencari area yang lebih mudah menyediakan makanan dan air.

Tanaman Budidaya Jadi Daya Tarik

Wisnu juga menyoroti bahwa gajah tertarik ke wilayah manusia bukan hanya karena terdesak, tetapi juga karena menemukan tanaman budidaya yang lebih mudah dimakan. Kelapa sawit, padi, dan pisang disebut sebagai tanaman yang sangat disukai gajah.

Menurutnya, tanaman-tanaman itu bisa memenuhi kebutuhan nutrisi gajah dengan lebih mudah dibandingkan pakan yang tersedia di habitat alaminya. Kondisi ini membuat kawasan manusia menjadi lokasi yang berisiko tinggi ketika jalur satwa dan lahan budidaya saling bertemu.

FaktorDampak pada GajahImplikasi
Habitat menyusut dan terfragmentasiGajah mencari sumber pakan dan air di luar hutanKonflik dengan manusia meningkat
Tanaman budidaya di wilayah manusiaGajah tertarik karena mudah dimakan dan bergiziWilayah permukiman dan kebun menjadi sasaran lintasan
Jalur migrasi tradisional terblokirGajah tetap mencoba melewati rute turun-temurunRisiko pertemuan dengan manusia makin besar

Jalur Migrasi yang Tidak Hilang dari Ingatan Gajah

Faktor lain yang kerap diabaikan adalah jalur migrasi turun-temurun yang diwariskan antarkawanan gajah. Wisnu mengatakan gajah memiliki rute jelajah sendiri yang tetap mereka ikuti dari generasi ke generasi.

Jika jalur itu terputus oleh jalan, bangunan, atau pondok, gajah cenderung menerobos wilayah tersebut. Mereka tidak memahami batas wilayah manusia dan hanya mengikuti rute yang selama ini mereka lewati.

Kapan Situasi Menjadi Berbahaya

Wisnu menegaskan serangan gajah terhadap manusia umumnya bersifat defensif. Gajah cenderung menyerang saat merasa terancam, terutama ketika melindungi diri atau anak-anaknya.

Upaya pengusiran dengan kekerasan, suara bising, atau pelemparan benda justru dapat memperburuk keadaan. Cara-cara itu bisa memicu kepanikan dan meningkatkan risiko serangan fatal.

“Ketika kawanan gajah melintas untuk mencari makan atau melewati jalur alaminya, tempat masyarakat menginap dapat menjadi sasaran atau dirobohkan oleh kawanan gajah, yang berpotensi menyebabkan serangan fatal terhadap manusia,” jelas Wisnu.

Apa yang Disarankan Jika Bertemu Gajah Liar

Wisnu memberikan panduan agar masyarakat tidak mengambil tindakan yang memicu kepanikan. Jika bertemu kawanan gajah liar, ia menyarankan menjaga jarak minimal 50 meter dan mencari perlindungan di balik pohon besar.

Ia juga menyarankan bergerak melawan arah angin agar aroma manusia tidak mudah terdeteksi. Menurutnya, ketenangan sangat penting karena gajah memiliki pendengaran dan penciuman yang tajam.

  • Jaga jarak minimal 50 meter.
  • Cari perlindungan di balik pohon besar.
  • Bergerak melawan arah angin agar aroma manusia tidak terdeteksi.

Krisis Ekologis yang Lebih Luas

Wisnu menilai setiap konflik gajah-manusia adalah cermin dari krisis ekologis yang lebih dalam. Penyusutan lahan, deforestasi, dan fragmentasi habitat tidak hanya mendorong gajah keluar dari hutan, tetapi juga mengancam kelestarian populasi mereka.

Ia menjelaskan bahwa stres kronis akibat konflik yang berulang dapat menurunkan kekebalan tubuh gajah dan menekan tingkat reproduksi. Dengan ruang gerak yang semakin sempit, konflik seperti di Lampung berpotensi terus berulang jika tidak ada penanganan yang lebih serius.

Teknologi Ada, tapi Masih Reaktif

Berbagai teknologi sebenarnya sudah digunakan untuk meminimalkan konflik, mulai dari pagar listrik, meriam karbit, bola asap, hingga sistem peringatan dini berbasis IoT, jaringan LoRaWAN, kamera jebak pintar dengan kecerdasan buatan, dan deteksi bioakustik. Namun, Wisnu menilai penerapannya masih cenderung reaktif karena baru bergerak setelah konflik terjadi.

Ia menekankan perlunya pendekatan sains yang lebih kuat terkait perilaku hewan dan manajemen lanskap. Pemerintah, menurutnya, perlu mengintegrasikan koridor jelajah gajah ke dalam perencanaan tata ruang agar pembangunan tidak memutus habitat satwa liar.

Pengelola kawasan konservasi juga diminta memperkuat restorasi habitat dan patroli. Di sisi lain, masyarakat dapat menerapkan mitigasi berbasis komunitas seperti pagar hayati atau menanam tanaman yang tidak disukai gajah di perbatasan hutan, agar ruang hidup manusia dan gajah bisa dilindungi secara seimbang.

Terkait