Saturnus kini memegang rekor sebagai planet dengan bulan terbanyak di Tata Surya, dengan 285 satelit alami yang telah dikonfirmasi hingga 2026. Jumlah itu hampir tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan Jupiter yang berada di kisaran 101 bulan.
Yang menarik, lonjakan angka itu bukan karena Saturnus mendadak “menumbuhkan” bulan baru. Para astronom menyebut peningkatan tersebut lahir dari kemampuan pengamatan yang semakin canggih, sehingga bulan-bulan kecil yang dulu tak terlihat kini berhasil dideteksi.
Bukan Penambahan Baru, Tapi Penemuan yang Terlambat
Selama beberapa tahun, jumlah bulan Saturnus terus berubah drastis. Pada Mei 2023, astronom menemukan lebih dari 60 bulan baru yang membuat totalnya melampaui 145.
Perubahan berikutnya datang pada Maret 2025, ketika 128 bulan lagi ditemukan sekaligus dan totalnya melonjak menjadi 274. Lalu pada Maret 2026, penambahan 11 bulan membuat angka resmi Saturnus mencapai 285.
| Waktu Temuan | Tambahan Bulan | Total Bulan Saturnus |
|---|---|---|
| Mei 2023 | Lebih dari 60 | Lebih dari 145 |
| Maret 2025 | 128 | 274 |
| Maret 2026 | 11 | 285 |
SpaceDaily mengutip pernyataan astronom bahwa ini adalah kisah tentang kemampuan mendeteksi, bukan tentang Saturnus yang berubah. Dengan kata lain, bulan-bulan itu memang sudah ada sejak lama, hanya saja baru sekarang bisa terlihat.
Kenapa Sebelumnya Sulit Terlihat?
Sebagian besar bulan yang baru ditemukan berukuran sangat kecil, hanya beberapa kilometer. Selain itu, orbit mereka sangat jauh dari Saturnus sehingga cahaya yang dipantulkan nyaris tenggelam oleh gangguan latar.
Untuk menemukannya, astronom memakai teknik image stacking. Mereka mengambil banyak foto area di sekitar Saturnus, lalu menggeser setiap gambar mengikuti perkiraan gerak bulan sebelum menggabungkannya menjadi satu citra.
Teknik itu membuat objek yang tadinya terlalu redup perlahan tampak lebih jelas. Dengan bantuan metode tersebut, gangguan cahaya yang sebelumnya menutupi bulan-bulan kecil bisa dikurangi secara efektif.
Peran Teleskop Besar dan Jenis Bulan Saturnus
Salah satu instrumen penting dalam penemuan ini adalah Canada-France-Hawaii Telescope atau CFHT di Hawaii. Teleskop besar itu membantu astronom memetakan wilayah sekitar Saturnus dengan ketelitian yang lebih baik.
Meski jumlahnya kini mencapai ratusan, sebagian besar bulan Saturnus bukanlah objek besar seperti Titan atau Enceladus. Mayoritas merupakan satelit tidak beraturan atau irregular moons dengan diameter sekitar 1-3 kilometer.
Bulan-bulan kecil itu mengorbit sangat jauh dari Saturnus dan diduga merupakan asteroid yang tertangkap gravitasi planet tersebut miliaran tahun lalu. Karena karakteristiknya yang mini dan redup, penemuan mereka sangat bergantung pada teknik pengamatan yang semakin maju.
Pada akhirnya, rekor Saturnus sebagai “raja bulan” di Tata Surya masih berpotensi bertambah lagi. Para astronom memperkirakan jumlah satelit alami planet bercincin itu akan terus naik seiring teleskop dan metode observasi yang makin sensitif.
