Jejak Kota Majapahit di Trowulan diduga membentang jauh lebih luas daripada area situs yang selama ini dikenal publik. Berdasarkan sebaran tinggalan arkeologis, kawasan kota itu diperkirakan mencapai sekitar 10×10 kilometer persegi.
Skala tersebut memperlihatkan Trowulan bukan sekadar kumpulan bangunan kuno yang terpisah-pisah. Para peneliti melihat adanya pola permukiman setingkat kota dengan klaster-klaster yang memiliki fungsi berbeda.
Permukiman Kota yang Tumbuh Lintas Zaman
Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, Yusmaini Aryawati, menjelaskan bahwa kawasan Trowulan telah dihuni jauh sebelum Kerajaan Majapahit berdiri. Jejak permukimannya disebut berasal dari abad ke-10 Masehi pada masa Mataram Kuno, lalu berlanjut pada era Singhasari dan berkembang pada masa Majapahit.
Kawasan luas ini mencakup sejumlah desa dan kecamatan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Sebaran tinggalannya menjadi dasar penting untuk membaca kembali susunan ruang dan perkembangan Kota Majapahit di masa lalu.
Menurut Yusmaini, data arkeologi menunjukkan pola permukiman yang terbagi ke dalam sejumlah klaster. Nama-nama kawasan yang disebut antara lain Sentonorejo, Segaran, Pendopo Agung, Nglinguk, Grogol, Pakis, dan Puri.
| Lokasi atau Kawasan | Temuan atau Indikasi | Makna bagi Tata Kota |
|---|---|---|
| Trowulan | Sebaran tinggalan arkeologis sekitar 10×10 kilometer persegi | Menunjukkan skala permukiman setingkat kota |
| Sentonorejo | Diduga menjadi hunian raja dan bangsawan | Memberi petunjuk adanya kawasan elite |
| Nglinguk Wetan | Ditemukan kembali 63 sumur kuno | Menggambarkan akses masyarakat terhadap air bersih |
Sentonorejo dan Jejak Kawasan Elite
Sentonorejo diduga menjadi salah satu bagian penting dalam struktur sosial kota tersebut. Kawasan ini diperkirakan merupakan tempat tinggal raja dan bangsawan, serta dilengkapi area sakral berupa Pamerajan Agung milik istana.
Dugaan mengenai fungsi Sentonorejo memberi gambaran bahwa pembagian ruang di Trowulan kemungkinan tidak berlangsung secara acak. Keberadaan area elite dan sakral menunjukkan adanya pengaturan fungsi permukiman dalam pusat kekuasaan Majapahit.
Informasi itu dipaparkan Yusmaini dalam Webinar Forum Kebhinnekaan Seri #37 bertajuk “Wawasan Baru di Metropolitan Majapahit”. Paparan tersebut dikutip www.kompas.com dari laman BRIN.
63 Sumur Kuno dan Sistem Air Bersih
Petunjuk lain datang dari Nglinguk Wetan, tempat tim peneliti menemukan kembali 63 sumur kuno. Sumur-sumur itu memiliki bentuk, ukuran, serta teknologi pembuatan yang beragam.
Temuan tersebut memperlihatkan masyarakat di permukiman Majapahit telah memiliki akses terhadap sumber air bersih. Variasi bentuk dan teknologi sumur juga membuka ruang kajian lebih lanjut mengenai kebutuhan air serta pengelolaannya di kawasan kota.
Peneliti PRAPS BRIN, Sugeng Riyanto, menilai karakter permukiman Majapahit di Trowulan diduga merupakan kelanjutan dari masa Singhasari. Ia mengaitkan kesinambungan itu dengan asal-usul Singhasari dan Majapahit yang disebut berasal dari garis Wangsa Rajasa.
Garis keturunan tersebut bermula ketika Ken Arok menaklukkan Kerajaan Kediri pada 1222 Masehi. Konteks ini menjadi salah satu dasar untuk melihat perkembangan Trowulan sebagai bagian dari proses sejarah yang tidak berdiri sendiri.
Batas Kota hingga Jalan Masih Ditelusuri
Kepala PRAPS BRIN, Irfan Mahmud, menyebut proyek Indonesian Field of Archaeology di Trowulan pada dekade 1990-an telah menghasilkan data arkeologi yang sangat kaya. Meski begitu, sejumlah persoalan mendasar tentang kota Majapahit masih belum terungkap sepenuhnya.
Peneliti masih menelusuri batas kota, struktur permukiman, sistem pengelolaan air, jaringan jalan, kawasan industri, hingga lanskap budaya Majapahit. Rangkaian pertanyaan itu menunjukkan luas kawasan belum otomatis menjawab seluruh cara kota tersebut diatur dan dijalankan.
“Majapahit merupakan memori kolektif bangsa yang merekam perkembangan politik, ekonomi, teknologi, tata kota, hingga interaksi budaya Nusantara,” ujar Irfan. Karena itu, pembacaan atas tinggalan di Trowulan juga berkaitan dengan upaya memahami warisan sejarah yang lebih luas.
Upaya pelestarian turut dilakukan di Situs Bhre Kahuripan melalui inventarisasi, ekskavasi, penetapan zonasi, dan konservasi berkala. Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur juga menempatkan juru pelihara untuk menjaga kelestarian situs tersebut.







