Keracunan makanan merupakan gangguan kesehatan yang terjadi akibat mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh mikroorganisme berbahaya. Menurut World Health Organization (WHO), berbagai virus dan bakteri dapat memicu kondisi ini. Dalam kasus yang baru-baru ini terjadi, lebih dari 6.000 siswa mengalami keracunan usai mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), menandakan betapa seriusnya risiko yang ditimbulkan oleh mikroorganisme penyebab keracunan makanan.
Virus Penyebab Keracunan Makanan
Dua virus utama yang sering menjadi biang keracunan makanan adalah Norovirus dan Hepatitis A. Norovirus merupakan penyebab paling umum dari gastroenteritis yang berkaitan dengan makanan. Virus ini bisa menyebar melalui kontak langsung atau makanan yang tercemar, menyebabkan gejala yang meliputi muntah, diare, dan nyeri perut.
Sedangkan virus Hepatitis A dapat ditularkan lewat makanan dan minuman yang terkontaminasi, memicu penyakit hati akut. Infeksi Hepatitis A bisa sangat berbahaya karena menyerang organ vital, terutama jika tidak ditangani dengan cepat. Kedua virus ini diakui secara luas sebagai penyebab utama keracunan makanan oleh WHO.
Bakteri yang Menyebabkan Keracunan Makanan
Selain virus, bakteri juga merupakan penyebab umum keracunan makanan. Berikut adalah empat bakteri yang perlu diwaspadai:
-
Salmonella
Bakteri Salmonella merupakan penyebab infeksi saluran pencernaan yang dikenal dengan istilah salmonellosis. Bakteri ini biasa masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan atau minuman yang kurang matang atau tidak bersih. Gejala yang muncul meliputi diare, kram perut, demam, mual, dan muntah. Biasanya gejala terlihat dalam 8 sampai 72 jam setelah mengonsumsi makanan yang terinfeksi dan berlangsung selama beberapa hari. Beberapa jenis Salmonella, seperti Salmonella typhi, dapat menyebabkan demam tifoid, sedangkan Salmonella non-typhoidal umum menyebabkan diare. -
Escherichia coli (E. coli)
E. coli adalah bakteri yang secara alami hidup di usus manusia dan hewan berdarah panas dan sebagian besar tidak berbahaya. Namun, ada strain yang berbahaya, seperti E. coli O157:H7, yang menghasilkan Shiga toxin (STEC). Strain ini menyebabkan diare berdarah, mual, sakit perut, dan demam. Infeksi oleh E. coli berbahaya terutama bagi anak-anak, lansia, dan orang dengan sistem imun lemah karena dapat menyebabkan sindrom uremik hemolitik, yaitu kerusakan ginjal yang serius. -
Listeria monocytogenes
Listeria dapat ditemukan di berbagai lingkungan, termasuk tanah dan air, serta dalam makanan yang disimpan di suhu dingin seperti susu tidak dipasteurisasi, makanan olahan, dan sayuran mentah. Bakteri ini dapat menyebabkan listeriosis, infeksi yang sangat berbahaya terutama untuk kelompok rentan seperti wanita hamil, bayi, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah. Gejala infeksi meliputi demam, nyeri otot, mual, serta komplikasi serius seperti kebingungan dan kejang. Pada ibu hamil, infeksi ini bisa berujung pada keguguran atau kematian bayi. - Clostridium botulinum
Bakteri ini sangat berbahaya karena menghasilkan neurotoksin botulinum, racun kuat yang menyerang sistem saraf. Clostridium botulinum berkembang di lingkungan tanpa oksigen, seperti pada makanan kaleng yang disimpan tidak tepat atau makanan dengan keasaman rendah. Keracunan dari racun ini menyebabkan botulisme, yang memicu kelumpuhan otot, termasuk otot pernapasan, dan bisa berakibat fatal. Penularan bisa lewat konsumsi makanan beracun, luka terinfeksi, maupun inhalasi racun. Oleh karena itu, penyimpanan dan pengolahan makanan harus dilakukan dengan teliti untuk menghindari pertumbuhan bakteri ini.
Pengetahuan tentang jenis virus dan bakteri yang dapat memicu keracunan makanan penting untuk diterapkan dalam praktik sehari-hari. Upaya pencegahan seperti memasak makanan dengan matang, mencuci tangan dan bahan pangan secara bersih, serta menyimpan makanan pada suhu yang sesuai sangat krusial untuk meminimalkan risiko terjadinya keracunan.
Kasus keracunan massal seperti yang menimpa siswa dalam program MBG menjadi pengingat bahwa pengawasan ketat terhadap kebersihan dan keamanan pangan harus selalu menjadi prioritas, guna melindungi kesehatan masyarakat terutama kelompok rentan seperti anak-anak.
Source: www.suara.com
