Seorang profesor dari Universitas Köln, Jerman, kehilangan dua tahun hasil penelitian akademisnya setelah menggunakan ChatGPT. Peristiwa ini terjadi ketika ia mencoba mematikan opsi “data consent” pada layanan ChatGPT Plus yang diikutinya. Semua riwayat chat dan folder proyek—yang memuat aplikasi dana, materi pengajaran, rancangan publikasi, dan lainnya—lenyap tanpa peringatan dan tanpa opsi pemulihan.
Profesor Marcel Bucher menjelaskan bahwa meski sadar ChatGPT bisa memberikan informasi yang keliru, ia mempercayai keberlanjutan dan stabilitas ruang kerja digital tersebut. Sayangnya, setelah pengaturan diubah, data yang tersimpan di ChatGPT terhapus permanen. Upaya mengembalikan data itu dengan menghubungi OpenAI gagal karena kebijakan privasi dan perlindungan data yang ketat dari penyedia layanan.
Risiko penyimpanan data pada layanan AI
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa meskipun teknologi cloud dan AI memudahkan pekerjaan, risiko kehilangan data digital nyata adanya. Tidak hanya ChatGPT, kasus kehilangan data besar juga terjadi di layanan cloud populer seperti Amazon Web Services dan Microsoft OneDrive. Seorang insinyur perangkat lunak pernah kehilangan 10 tahun data di AWS, sedangkan pengguna OneDrive tidak bisa mengakses karya dan foto selama 30 tahun karena terkunci.
OpenAI menjelaskan bahwa sebelum penghapusan permanen, pengguna memang mendapatkan konfirmasi sebagai peringatan. Namun, setelah data dihapus, tidak ada cara mengembalikannya baik lewat antarmuka pengguna, API, maupun dukungan teknis. Hal ini dipertahankan sesuai dengan standard perlindungan privasi serta regulasi hukum yang berlaku.
Kebutuhan fitur proteksi dan backup lebih baik pada AI
Profesor Bucher menegaskan pentingnya fitur perlindungan tambahan, seperti peringatan lebih kuat, opsi pemulihan yang terbatas waktu, serta sistem backup ganda. Sebagai pelanggan berbayar ChatGPT Plus dengan biaya 20 euro per bulan, ia menganggap hal-hal tersebut mestinya menjadi fitur standar untuk menjamin keamanan data profesional.
Pentingnya backup dilakukan bukan hanya sekadar menyimpan data di cloud. Dampak kehilangan dua tahun kerja dalam sekejap menunjukkan perlunya cadangan fisik atau metode lain yang tidak bergantung sepenuhnya pada satu platform atau server. Langkah tersebut bisa menghindarkan kerugian besar akibat kesalahan teknis atau kebijakan layanan.
Impak pada kepercayaan pengguna terhadap teknologi AI
Kasus ini menyoroti tantangan yang harus dihadapi saat AI semakin diintegrasikan dalam aktivitas profesional maupun akademik. Jika pengguna merasa tidak aman dalam menyimpan data penting, kepercayaan terhadap layanan AI dapat menurun drastis. Perusahaan penyedia teknologi harus merespons dengan memperbaiki sistem perlindungan data dan memberikan layanan yang transparan serta andal.
Berbagai pihak juga diingatkan untuk tidak bergantung penuh pada AI sebagai satu-satunya sumber penyimpanan data penting. Pengamanan yang lebih matang dan kesadaran pengguna menjadi kunci utama. Peristiwa ini menjadi studi kasus penting mengenai keseimbangan antara kemudahan teknologi dan risiko yang melekat di dalamnya.
Dalam konteks ini, penggunaan AI seperti ChatGPT sebaiknya diimbangi dengan prosedur penyimpanan dan backup yang ketat. Kejadian kehilangan riset dua tahun bukan hanya tragedi personal, tapi juga sinyal peringatan bagi ekosistem digital yang semakin bergantung pada teknologi yang belum sempurna.
