Dalam beberapa waktu terakhir, pasar kripto mengalami tekanan signifikan, terutama pada harga Bitcoin yang terus menurun drastis. Bitcoin kini berada di level sekitar $83.405, turun lebih dari 6% dari sehari sebelumnya, menandai fase pelemahan yang berpotensi berlanjut.
Fenomena ini diperparah oleh munculnya sinyal teknikal yang dikenal sebagai death cross, sebuah indikator bearish yang menandakan perpotongan rata-rata pergerakan eksponensial (EMA) 50 hari di bawah EMA 200 hari. Sinyal ini sering kali menjadi pertanda koreksi harga yang tajam dan berkepanjangan pada Bitcoin.
Kondisi Pasar dan Perbandingan dengan Aset Safe Haven
Sementara Bitcoin tengah melempem, aset safe haven seperti emas dan perak justru mencatatkan kenaikan harga yang signifikan. Emas berhasil menembus level di atas $5.600 per ounce, sedangkan perak melampaui $121 per ounce.
Kondisi ini menegaskan bahwa saat ketidakpastian makroekonomi meningkat, investor cenderung memilih aset yang sudah teruji dalam jangka panjang seperti logam mulia. Sebaliknya, aset kripto yang relatif baru dengan volatilitas tinggi seperti Bitcoin masih kalah dalam hal kepercayaan sebagai penyimpan nilai.
Penyebab Tekanan Terhadap Bitcoin
Faktor ketidakpastian dari kebijakan pemerintah AS, potensi penutupan aktivitas pemerintah, serta ancaman intervensi mata uang Yen Jepang membuat para investor bergerak ke aset yang dianggap lebih aman. Ketidakpastian Federal Reserve dalam menetapkan kebijakan suku bunga juga berkontribusi pada gejolak pasar kripto.
Altcoin seperti Dogecoin, XRP, dan Cardano bahkan menunjukkan penurunan harga yang lebih dalam dibanding Bitcoin, menambah gambaran buruk di pasar kripto secara keseluruhan.
Analisis Teknikal: Death Cross dan Level Kritis Harga
Death cross terjadi ketika EMA 50 hari turun di bawah EMA 200 hari, menunjukkan bahwa tekanan jual besar sedang terjadi. Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di bawah kedua rata-rata tersebut, menjadikan sekitar $88.000 sebagai resistance kuat yang belum bisa ditembus oleh pasar.
Indeks Average Directional Index (ADX) saat ini di angka 24, nyaris mencapai ambang 25 yang menandakan kekuatan tren. Angka ini menunjukkan bahwa tren turun masih ada, meski kekuatannya mulai melemah.
Jika support di level $80.600 gagal bertahan, target selanjutnya berada di kisaran $74.000, level terendah yang pernah dicapai pada April tahun lalu. Jika level ini juga ditembus, maka skenario terburuk mengarah ke sekitar $65.000 di mana EMA 200 hari memberikan dukungan jangka panjang di grafik bulanan.
Volume dan Momentum Pasar
Volume perdagangan yang tinggi selama penurunan harga menandakan tekanan jual yang nyata, bukan sekadar fluktuasi perdagangan volume rendah. Indikator momentum juga menunjukkan tidak ada energi yang terkumpul untuk rebound cepat.
Hal ini mengindikasikan bahwa pergerakan harga kemungkinan besar akan bergerak terus turun atau sideways dengan volatilitas tinggi.
Resistensi dan Support yang Perlu Diperhatikan
| Jenis | Level Harga | Keterangan |
|---|---|---|
| Resistensi | $88.000 | EMA 50 hari, resistance langsung |
| $92.000 | Support lama yang berubah jadi resistance | |
| $108.757 | Zona volume harga | |
| Support | $83.381 | Zona volume harga |
| $80.601 | Support kuat | |
| $74.000 | Level terendah April tahun lalu |
Hingga saat ini, jalan dengan hambatan paling kecil untuk harga Bitcoin masih mengarah ke bawah. Untuk memulai pergerakan bullish yang signifikan, pasar harus mampu mencatatkan penutupan harian di atas $88.000 dengan ADX yang naik, menandakan kekuatan tren naik.
Namun, hingga kondisi tersebut tercapai, pasar kemungkinan masih akan mengalami tekanan, volatilitas tinggi, dan berlanjutnya narasi bahwa emas menjadi pilihan unggul dibanding Bitcoin sebagai penyimpan nilai.
Investor dan pengamat pasar sebaiknya terus memantau sinyal teknikal maupun perkembangan ekonomi makro global yang berdampak pada sentimen pasar agar dapat mengambil keputusan yang tepat.
