Pasar Bitcoin sedang mengalami tekanan signifikan seiring dengan penurunan harga yang drastis. Banyak analis kini mempertanyakan nilai fundamental Bitcoin setelah harga terjun lebih dalam ke zona pasar bearish yang sebelumnya mendukung reli sejak awal tahun.
Sentimen negatif semakin menguat di kalangan pelaku pasar dan kritikus aset digital ini. Seorang influencer kripto dengan julukan Mr. Bitcoin Whale bahkan mengungkapkan keraguannya, mengatakan bahwa Bitcoin berpotensi menjadi “tidak bernilai” dalam jangka panjang. Pernyataan ini diperkuat oleh Jacob King, seorang kritikus lama Bitcoin, yang mempertanyakan narasi optimis pendukung Bitcoin di tengah terus merosotnya harga sampai ke titik terendah tahunan.
Sinyal Teknis dan On-Chain Mengindikasikan Risiko Penurunan
Data teknis menunjukkan adanya risiko penurunan yang tinggi ke depannya. Menurut Victor Olanrewaju, analis dari CCN, Bitcoin kini melewati titik penting yang disebut True Market Mean — level harga rata-rata yang biasanya berfungsi sebagai gravitasi untuk harga di masa-masa transisi pasar. Penurunan di bawah level ini menandakan volatilitas downside yang meningkat, yang dalam histori siklus sebelumnya sering diikuti oleh fase penurunan berkepanjangan atau konsolidasi lama.
Selain itu, harga Bitcoin juga turun di bawah realized price jangka pendek para pemegang, mengindikasikan bahwa pembeli baru saat ini sedang mengalami kerugian. Kondisi ini memungkinkan rally-rally yang terjadi akan cepat dijual kembali sehingga momentum penguatan harga menjadi terbatas.
Penyebab Penurunan dan Pandangan Pasar
Julio Moreno, kepala riset di CryptoQuant, menyebut strategi treasury perusahaan sebagai salah satu penyebab utama penurunan pasar Bitcoin saat ini. Menurutnya, aksi korporasi yang mungkin mengambil keuntungan dari reli sebelumnya justru mempercepat masuknya Bitcoin ke fase bear market. Sejalan dengan ini, The Kobeissi Letter memperkirakan siklus bearish ini bisa berlanjut selama beberapa tahun mendatang, sampai sekitar pertengahan dekade.
Namun, beberapa tokoh industri masih menyimpan harapan positif. Changpeng Zhao, pendiri Binance, berpendapat bahwa ketidakpastian makroekonomi justru bisa mendukung aset digital dalam jangka panjang. Ia menjelaskan bahwa saat ketegangan global meningkat, investor akan lebih dulu mengalihkan dana ke aset safe haven tradisional seperti emas dan perak, sebelum menuju ke alternatif digital seperti Bitcoin.
Optimisme dari Beberapa Trader dan Analis
Mike Alfred, seorang trader terkenal yang tetap bullish, memproyeksikan adanya koreksi kecil terlebih dahulu sebelum Bitcoin kembali naik dan mencapai level di atas 80.000 dolar. Alfred menyatakan dalam unggahan terbarunya bahwa jika harga turun ke sekitar 74.000 dolar, itu akan menjadi peluang untuk membeli menjelang kenaikan yang terjadi sampai menjelang bulan Juni.
Sementara Joel Kruger, strategist di LMAX Group, menyebut bahwa fundamental Bitcoin secara keseluruhan masih kuat meski harga turun. Menurut dia, adopsi struktural semakin mendalam dan infrastruktur blockchain masih terus membaik. Kruger menilai penurunan baru-baru ini bisa mendekatkan harga ke level menarik bagi investor jangka menengah hingga panjang, yang berpotensi menjadi titik awal stabilisasi dan pemulihan.
Tantangan Jangka Pendek di Tengah Potensi Jangka Panjang
Meski ada proyeksi optimistis, pasar Bitcoin harus menghadapi peningkatan risiko volatilitas dalam waktu dekat. Penurunan di bawah True Market Mean dan posisi sebagian pembeli baru yang sedang rugi menimbulkan tekanan jual yang mungkin menghambat laju kenaikan. Namun, pemegang jangka panjang masih mencatat keuntungan dan belum melakukan penjualan besar-besaran.
Fakta ini mengindikasikan bahwa walau risiko menurun semakin menonjol, adanya dukungan dari pemegang berpengalaman tetap memberikan bantalan untuk potensi rebound di masa depan. Dengan dinamika pasar yang kompleks, investor perlu mencermati perkembangan teknis dan fundamental secara hati-hati dalam mengambil keputusan.







