Mengapa Bitcoin Turun di Bawah $75.000? 3 Faktor Utama Analis Sebut Penyebab Bear Market

Bitcoin kembali memasuki fase pasar bearish setelah nilainya anjlok di bawah angka $75.000. Penurunan ini menandai kemerosotan sekitar 37% dari puncak tertingginya yang terjadi pada Oktober lalu. Meski sempat terjadi reli ringan menuju angka $80.000, penurunan tersebut mencerminkan tekanan signifikan di pasar aset kripto.

Para analis menunjukkan tiga faktor utama yang menjadi penyebab turunnya harga Bitcoin. Pertama, laporan pendapatan sektor teknologi yang mengecewakan melemahkan sentimen pasar. Perusahaan-perusahaan besar yang tergabung dalam kelompok “Magnificent Seven” melaporkan hasil yang tidak memenuhi ekspektasi, yang pada gilirannya meruntuhkan narasi optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI).

Faktor kedua berasal dari ketidakstabilan pada pasar logam mulia. Harga emas dan perak yang sempat meroket ke level tertinggi dalam beberapa waktu terakhir, turun dengan tajam hingga 11% untuk emas dan 32% untuk perak dalam waktu singkat. Fluktuasi ekstrem ini mengguncang kepercayaan investor yang sebelumnya mencari aset pengaman alternatif di tengah gejolak ekonomi global.

Ketiga, ketidakpastian atas penunjukan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve di Amerika Serikat menambah tekanan pasar finansial. Kebijakan moneter yang bakal diambil Warsh diyakini berpotensi mempengaruhi likuiditas dan tingkat bunga, sehingga memicu kekhawatiran di kalangan investor aset berisiko seperti kripto.

Selain itu, tarik ulur kebijakan regulasi juga semakin menyulitkan pasar kripto. RUU Clarity Act yang dirancang untuk mendirikan aturan pasar bagi perdagangan kripto masih menghadapi hambatan legislasi. Penolakan dari tokoh penting seperti CEO Coinbase Brian Armstrong, yang menyayangkan larangan atas yield untuk stablecoin, semakin memperpanjang ketidakpastian. Perselisihan antar pelaku industri ini membuat langkah legislatif menjadi tidak pasti dan menimbulkan kekhawatiran bagi investor.

Dalam konteks volatilitas yang meluas, mata uang kripto selain Bitcoin juga mengalami penurunan signifikan. Ethereum turun sekitar 24% dalam sebulan terakhir, diperdagangkan di kisaran $2.354, sementara Solana melemah sekitar 20% menjadi sekitar $105. Kondisi ini mencerminkan ketidakpastian pasar yang lebih luas dan kecenderungan investor untuk menghindari risiko.

Sejarah pasar kripto memang tidak asing dengan siklus penurunan. Periode kripto musim dingin yang terjadi pada 2022–2023, dipicu keruntuhan Terraform Labs dan FTX, merupakan contoh ekstrim dari krisis struktural yang mempengaruhi pasar. Namun, penurunan kali ini bukan disebabkan oleh skandal besar, melainkan oleh proses deleveraging atau pengurangan risiko portofolio secara alami saat investor menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Jasper de Maere, strategist dari Wintermute, menyebut bahwa pasar kripto saat ini sedang menjalani masa pelepasan risiko yang bersifat organik, bukan krisis struktural yang mendalam. Ini menunjukkan bahwa meskipun Bitcoin dan aset kripto lainnya mengalami tekanan, kondisi ini lebih merupakan fase normal dari siklus pasar daripada tanda kehancuran permanen.

Faktor-faktor makroekonomi, ketidakpastian regulasi, dan fluktuasi harga logam mulia secara kolektif memengaruhi putaran harga Bitcoin yang turun saat ini. Penurunan ini memperlihatkan bahwa pasar kripto sangat sensitif terhadap dinamika ekonomi global dan kebijakan moneter yang belum jelas arahannya. Investor perlu terus memonitor perkembangan ekonomi, regulasi, dan sentimen pasar agar dapat mengambil keputusan investasi yang tepat dalam ekosistem digital yang masih sangat volatile ini.

Berita Terkait

Back to top button