Pergerakan harga Bitcoin mengalami kejatuhan dramatis, dengan penurunan hampir $15.000 dalam waktu 24 jam. Kejadian ini merupakan reli besar yang belum pernah terlihat sejak runtuhnya kerajaan crypto dari Sam Bankman-Fried pada 2022.
Bitcoin sempat kembali pulih dan diperdagangkan di kisaran $70.000, namun peristiwa tersebut membuat banyak pelaku pasar bertanya-tanya penyebab sebenarnya di balik keruntuhan mendadak ini.
Dugaan Penyebab: Hedge Fund di Hong Kong
Parker White, mantan trader saham dan kini COO di DeFi Development Corporation, mengemukakan sebuah teori penting di platform X. Menurutnya, keruntuhan harga Bitcoin ini kuat diduga berawal dari gagalnya beberapa hedge fund di Hong Kong. Dana tersebut memegang opsi panggilan (call options) pada IBIT, ETF Bitcoin terbesar di dunia, yang diterbitkan oleh BlackRock.
Strategi risiko tinggi yang digunakan hedge fund ini melibatkan penggunaan carry trade Yen, suatu bentuk arbitrase tingkat bunga. Mereka membiayai posisi besar pada opsi IBIT di luar uang (out-of-the-money), berharap terjadi reli harga Bitcoin yang sebelumnya lesu sejak penjualan besar pada Oktober lalu.
Namun, reli yang diharapkan tidak muncul. Ditambah lagi, ada tekanan besar pada carry trade Yen yang membuat biaya pendanaan mereka naik. Ekspose mereka pada gejolak pasar perak juga turut memperparah posisi keuangan hedge fund tersebut.
Dampak dari Gagalnya Strategi Leverage
Situasi ini menciptakan badai sempurna bagi hedge fund tersebut. Saat pasar kripto terus menurun, nilai aset mereka merosot dan akhirnya posisi mereka dilikuidasi. Proses likuidasi ini memicu penjualan besar-besaran saham IBIT, yang berkontribusi pada penurunan tajam harga Bitcoin secara keseluruhan.
Parker White menjelaskan bahwa hedge fund tersebut kemungkinan besar menjalankan perdagangan opsi leveraged pada IBIT yang sangat berisiko. Setelah kejadian besar pada 10 Oktober yang merusak neraca mereka, hedge fund ini mencoba memulihkan kerugian dengan menambah leverage menunggu rebound yang “jelas”.
Namun, kerugian yang semakin besar ditambah biaya pendanaan Yen yang menyulitkan membuat mereka semakin putus asa dan memicu masuknya mereka ke perdagangan perak yang tidak stabil. Dalam kondisi memburuk inilah tekanan terakhir pada Bitcoin menciptakan kejatuhan harga yang fatal.
Hedge Fund Hong Kong dan Ekosistem Kripto Tradisional
Menariknya, interaksi hedge fund ini dengan Bitcoin hanya melalui ETF, bukan transaksi langsung di pasar kripto konvensional. Hal ini membuat informasi tentang masalah mereka tidak tersebar luas di komunitas “Crypto Twitter” yang biasanya cepat menyebarkan berita dan membuat rekanan lain terkena dampak.
Ketiadaan sinyal peringatan dari counter-parties di ekosistem utama kripto ini membuat kejadian tersebut lebih mengejutkan dan tidak terprediksi oleh kebanyakan pelaku pasar.
Faktor-Faktor Lain yang Mempengaruhi Crash Bitcoin
Meski teori White menonjol, banyak faktor lain yang diyakini turut memperparah kejatuhan pasar kali ini. Penurunan aset terkait kecerdasan buatan (AI), ketidakpastian terhadap undang-undang blockchain, serta munculnya nama kripto dalam dokumen rahasia Epstein, juga turut memberikan tekanan negatif.
Keputusan terbaru SEC yang mencabut batasan perdagangan opsi Bitcoin juga menambah bahan bakar volatilitas pasar.
Tokoh-tokoh kripto senior, seperti investor modal ventura Haseeb Qureshi, menyatakan bahwa teori hedge fund Hong Kong sangat masuk akal. Namun, untuk memverifikasi fakta ini diperlukan waktu dan pengamatan terhadap dokumen regulasi yang mungkin baru terungkap dalam beberapa bulan ke depan.
Kemungkinan, pelaku kunci dalam insiden ini tetap anonim dan hanya mereka yang terlibat yang mengetahui identitas sebenarnya. Di sisi lain, sudah terdapat platform taruhan Polymarket yang berfokus pada spekulasi pelaku di balik krisis ini.
Informasi ini menegaskan bahwa volatilitas pasar kripto masih sangat rentan terhadap faktor eksternal dan perilaku leverage besar. Pemahaman lebih dalam tentang hubungan antar pasar modal tradisional dan kripto kian penting untuk mencegah terulangnya keruntuhan mendadak di masa depan.
