
Investor kini tengah menunggu data inflasi Januari yang tertunda, setelah laporan ketenagakerjaan kuat menunjukkan penambahan 130.000 pekerjaan baru dalam bulan tersebut. Data indeks harga konsumen AS yang sempat tertunda karena penutupan parsial pemerintah ini diantisipasi rilis pada Jumat, dengan proyeksi penurunan inflasi tahunan menjadi 2,5% dari bulan Desember.
Inflasi dianggap lebih krusial ketimbang data ketenagakerjaan oleh para analis pasar kripto. Derek Lim, kepala riset di perusahaan pembuat pasar kripto Caladan, menyampaikan bahwa inflasi yang lebih rendah akan menambah tekanan pada Federal Reserve (Fed) untuk segera menurunkan suku bunga, kondisi yang biasanya mendukung aset berisiko termasuk aset kripto.
Dampak Kebijakan Suku Bunga Terhadap Pasar Kripto
Penurunan suku bunga oleh Fed umumnya melonggarkan kondisi keuangan dan menurunkan tingkat diskonto, sehingga mendorong investor mengambil risiko lebih besar. Dalam periode likuiditas yang melimpah, hal ini sering kali menjadi katalis positif bagi pasar saham dan kripto. Namun, jika angka inflasi ternyata lebih tinggi dari ekspektasi, rezim suku bunga tinggi yang lebih panjang kemungkinan akan bertahan. Kondisi ini dapat menekan harga aset berisiko seperti Bitcoin dan Ethereum.
Data nonfarm payrolls yang menunjukkan kinerja pasar tenaga kerja yang kuat membuat pasar semakin yakin bahwa Fed kemungkinan besar tidak akan segera melakukan pelonggaran kebijakan moneter. Penggunaan alat CME FedWatch memperlihatkan probabilitas sebesar 94,6% bahwa suku bunga acuan akan dipertahankan pada kisaran 3,50% hingga 3,75%. Sentimen ini telah memicu koreksi pada aset kripto dan aset risiko lainnya secara luas.
Prospek Bitcoin: Antara Harapan dan Risiko
Tim Sun, peneliti senior di HashKey Group, menyatakan bahwa meskipun data ketenagakerjaan tersebut menggambarkan situasi ekonomi yang kuat, berita ini justru kurang menguntungkan bagi pasar aset berisiko saat ini. Setelah data tersebut dirilis, ekspektasi pasar terhadap pemotongan suku bunga diperkirakan akan tertunda hingga paruh kedua tahun ini.
Menurut Sun, ketahanan ekonomi saat ini berarti Fed tidak memiliki alasan mendesak untuk melonggarkan kebijakan secara dini. Selama hasil surat utang (Treasury yields) tetap tinggi, biaya pembiayaan dan tingkat diskonto akan sulit menurun. Kondisi ini memberi tekanan lanjutan pada aset berisiko tinggi seperti Bitcoin.
Meski pasar masih rapuh, Sun mengamati bahwa tekanan jual mulai melambat dan mungkin mendekati titik kelelahan. Dari sisi harga dan distribusi on-chain, laju penurunan mulai melambat, namun belum ada sinyal kuat untuk membalikkan tren penurunan.
Bitcoin tercatat turun 0,5% dalam 24 jam terakhir ke level $67.200, sementara Ethereum stabil di sekitar $1.970, berdasarkan data dari CoinGecko. Dalam beberapa pekan terakhir, Bitcoin bergerak dalam konsolidasi antara $62.822 hingga $72.000, dengan volatilitas relatif rendah setelah penjualan tajam akhir Januari dan awal Februari.
Pengumuman data inflasi minggu ini akan menjadi penentu sentimen pasar selanjutnya. Penurunan inflasi berpotensi mendorong penguatan kripto karena harapan pelonggaran suku bunga, sementara inflasi lebih tinggi memicu kekhawatiran berlanjutnya kebijakan moneter ketat. Investor dan pelaku pasar di sektor kripto direkomendasikan memantau dengan cermat perkembangan data ini untuk mengambil keputusan investasi yang tepat.





