Tersimpan di Galon, BPA Merusak Gen: Pria Jadi Feminin, Wanita Maskulin, dan Risiko Penyakit Mengintai Seumur Hidup

Paparan bahan kimia bisfenol A (BPA) yang terdapat pada galon air mineral dan kemasan makanan dapat menyebabkan perubahan hormon yang signifikan pada pria dan wanita. Studi terbaru menemukan bahwa paparan BPA dalam dosis sangat rendah saat masa janin memicu perubahan permanen pada metabolisme dan sistem kekebalan tubuh, dengan efek feminisasi pada pria dan maskulinisasi pada wanita.

Bisfenol A adalah senyawa kimia buatan yang memiliki efek menyerupai hormon estrogen. Zat ini banyak digunakan dalam produk kemasan makanan dan minuman meski telah dibatasi penggunaannya. Penelitian yang dilakukan pada tikus mengungkapkan bahwa paparan BPA sebelum kelahiran mengubah aktivitas genetik yang mengatur perkembangan fungsi hormonal dan metabolik hewan tersebut.

Dampak Paparan BPA pada Perkembangan Genetik dan Metabolisme
Penelitian melibatkan tikus yang diberi air minum mengandung BPA selama masa kehamilan. Dua tingkat paparan diuji: dosis rendah setara dengan rata-rata paparan manusia sebanyak 0,5 mikrogram per kilogram berat badan per hari; dan dosis lebih tinggi yakni 50 mikrogram per kilogram berat badan per hari—jumlah yang pada sebelumnya dianggap aman oleh beberapa regulasi. Hasilnya menunjukkan perubahan ekspresi gen yang berbeda sesuai jenis kelamin.

Tikus betina yang terpapar BPA menunjukkan pola ekspresi gen yang lebih maskulin, sementara tikus jantan menunjukkan pola feminin. Perubahan ini disertai efek biologis yang berbeda, di mana tikus betina mengarah ke kondisi yang menyerupai kanker dan tikus jantan menunjukkan tanda sindrom metabolik, seperti risiko diabetes dan penyakit jantung.

Perubahan Sistem Kekebalan dan Risiko Penyakit Spesifik
Selain metabolisme, sistem kekebalan tikus jantan dan betina mengalami perubahan. Sel T, bagian dari sistem kekebalan, meningkat aktivitasnya pada tikus jantan dan menurun pada tikus betina. Hal ini berpotensi memengaruhi kemampuan tubuh melawan infeksi dan mengatur respon imun.

Analisis darah tikus jantan mengungkapkan gangguan profil lipid dan aktivitas tiroid yang berlebihan. Sementara pada tikus betina ditemukan penurunan kadar glukosa darah, peningkatan insulin, serta aktivitas testosteron yang menyerupai kondisi sindrom ovarium polikistik (PCOS). Temuan ini menguatkan bukti dari studi manusia bahwa perempuan dengan PCOS cenderung memiliki kadar BPA lebih tinggi, yang dapat menimbulkan penurunan kesuburan dan pengaruh hormon seks laki-laki yang berlebih.

Impak Terhadap Kesehatan Manusia dan Regulasi BPA
Penulis utama penelitian, Thomas Lind, menegaskan bahwa paparan BPA dalam dosis rendah saat perkembangan prenatal dapat menyebabkan perubahan genetik permanen yang berdampak pada risiko kesehatan jangka panjang. Efek feminisasi pada pria dan maskulinisasi pada wanita menjadi indikasi perubahan hormon secara signifikan yang merusak keseimbangan biologis alami tiap jenis kelamin.

Temuan ini memberikan dukungan ilmiah atas keputusan Otoritas Keamanan Pangan Eropa untuk menurunkan batas asupan harian BPA yang dapat ditoleransi menjadi 0,2 nanogram per kilogram berat badan per hari. Angka ini jauh lebih rendah dari batas sebelumnya dan bertujuan mengurangi paparan BPA dalam kehidupan sehari-hari.

Langkah Mengurangi Eksposur BPA dalam Kehidupan Sehari-hari
Mengingat risiko yang ditimbulkan, masyarakat disarankan untuk memperhatikan penggunaan produk yang terbuat dari plastik mengandung BPA, terutama kemasan makanan dan minuman. Berikut beberapa langkah pencegahan sederhana:

  1. Gunakan wadah makanan dan minuman bebas BPA.
  2. Hindari menyimpan bahan makanan panas dalam kemasan plastik.
  3. Pilih botol kaca atau stainless steel sebagai alternatif penyimpanan minuman.
  4. Periksa label produk untuk memastikan bebas BPA.
  5. Kurangi konsumsi makanan yang dikemas dalam plastik berlapis BPA.

Paparan BPA yang terus berlangsung dapat membawa dampak kesehatan serius, terutama pada anak-anak dan wanita hamil. Oleh karena itu, kesadaran publik serta regulasi ketat menjadi kunci penting untuk mengurangi risiko gangguan hormon dan penyakit kronis akibat bahan kimia ini.

Penelitian ini menyoroti urgensi untuk mengendalikan penggunaan BPA dalam kemasan pangan guna melindungi kesehatan generasi mendatang. Upaya global dalam menurunkan batas aman paparan BPA memberikan harapan agar efek negatif zat ini dapat diminimalisir di masa depan.

Baca selengkapnya di: www.cnbcindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button