
Bitcoin, yang selama ini dikenal sebagai aset safe haven dan “emas digital,” kini mulai dipertanyakan perannya oleh para analis veteran seperti Ran Neuner. Meskipun dolar AS melemah dan ketidakpastian global meningkat, Bitcoin tidak tampil sesuai harapan sebagai lindung nilai terhadap depresiasi mata uang fiat.
Indeks Dolar AS (DXY) turun sekitar 9% sepanjang 2025 dan tambahan 2% di tahun berjalan, tetapi Bitcoin justru merosot antara 20-22% tahun ini, diperdagangkan pada harga sekitar $68.255. Di sisi lain, harga emas justru melonjak dan menunjukkan ketahanan tinggi ketika pasar bergejolak. Ran Neuner menyoroti bahwa saat ketegangan tarif dan ketidakstabilan fiskal terjadi, modal mengalir ke emas, bukan Bitcoin.
Bitcoin Tidak Lagi Berperan Sebagai Safe Haven
Para analis lain seperti Willy Woo dan Henrik Zeberg menguatkan pandangan tersebut dengan menyatakan Bitcoin lebih berperilaku sebagai aset berisiko tinggi (high-beta) yang bergerak dalam mode risiko (risk-on). Keterlibatan investor ritel turun ke titik terendah dalam beberapa tahun terakhir, sementara para pendukung awal Bitcoin mulai meninggalkan pasar.
Neuner juga menegaskan bahwa setelah era persetujuan ETF Bitcoin dan akses institusional, narasi lama Bitcoin sebagai alat penyimpan nilai menjadi kehilangan relevansi. “Kami berjuang untuk persetujuan ETF dan akses institusional, kini semuanya sudah tercapai,” katanya. “Jika Bitcoin tidak digunakan sebagai uang tunai dan tidak menyerap tekanan pasar, lalu apa narasi yang tersisa?”
Integrasi Bitcoin dalam Sistem Keuangan Tradisional
Saat ini, ada 11 jenis ETF Bitcoin spot yang disetujui dan sejumlah besar dana perusahaan sudah mengalokasikan portofolio ke Bitcoin. Kerangka regulasi yang pro-kripto juga mulai diterapkan, menandai integrasi penuh Bitcoin ke dalam sistem keuangan tradisional (TradFi). Namun, peringatan datang dari Michael Burry yang memperingatkan risiko erosi nilai signifikan bagi perusahaan yang memegang Bitcoin jika pasar terus terkoreksi.
Menurut laporan SwanDesk yang mengutip Burry, “Bitcoin gagal sebagai safe haven seperti emas dan berperilaku lebih seperti saham volatil yang terkait dengan indeks S&P 500.”
Potensi Era Baru Kripto di Tengah Perubahan
Ran Neuner melihat masa depan kripto bukan pada tesis penyimpanan nilai Bitcoin, melainkan pada ekonomi baru yang didorong oleh agen kecerdasan buatan (AI). Dalam ekosistem ini, triliunan mikrotransaksi otonom memerlukan sistem penyelesaian instan dan dapat diprogram, yang hanya bisa dipenuhi oleh jaringan blockchain.
“AI tidak akan menggunakan bank atau kartu kredit,” kata Neuner. “Mereka memerlukan jalur penyelesaian instan dan dapat diprogram. Di sinilah peran kripto.”
Kunci Era Digital Baru: Infrastruktur Kripto dan Blockchain
Meskipun Bitcoin kesulitan mengukuhkan perannya yang lama, infrastruktur kripto yang lebih luas dapat menjadi fondasi ekonomi digital berikutnya. Para analis memperkirakan meskipun Bitcoin melemah, jaringan desentralisasi, altcoin, dan solusi berbasis blockchain akan mampu menangkap utilitas serta model pendapatan di era AI.
Neuner menegaskan bahwa titik balik ini sangat penting bagi dunia kripto secara keseluruhan. Bitcoin mungkin tidak lagi menjadi mesin ideologis utama, tetapi potensi industri kripto jauh melampaui satu token saja dan membuka peluang revolusi teknologi keuangan di masa mendatang.





