Strategy Terus Borong Bitcoin Meski $48 Miliar Asetnya Terperangkap Rugi, Apakah Ini Keputusan Berani atau Bencana Finansial yang Akan Datang?

Author: Qoo Media

Strategi pembelian Bitcoin sebuah perusahaan asal Tysons Corner, Virginia, semakin agresif meski nilai aset kripto ini tengah mengalami tekanan pasar. Terbaru, perusahaan tersebut melaporkan pembelian 2.500 Bitcoin dengan total senilai $168 juta, sehingga total kepemilikan mereka mencapai sekitar 717.100 BTC atau senilai hampir $48 miliar saat harga Bitcoin berada di kisaran $67.000 per unit.

Untuk mendanai akuisisi tersebut, perusahaan mengeluarkan saham biasa senilai $90,5 juta dan menjual saham preferen STRC senilai $78,5 juta. Saham preferen ini memberikan dividen bulanan dengan tingkat imbal hasil tahunan sebesar 11,25% dalam bentuk tunai. Pendekatan ini mencerminkan perubahan strategi perusahaan terhadap cara pembiayaan Bitcoin yang semakin mengoptimalkan penerbitan saham preferen sebagai sumber modal, yang disebut oleh Michael Saylor sebagai “kredit digital.”

Pendanaan dan Strategi Saham Preferen

Strategi menggunakan saham preferen STRC tidak hanya untuk mengumpulkan dana, tetapi juga sebagai instrumen alternatif yang lebih stabil dibandingkan simpanan berisiko rendah dan hasil tinggi. Produk ini, dengan nilai pasar saat ini sebesar $3,4 miliar, dianggap sebagai inovasi penting yang setara dengan “momennya iPhone” oleh salah satu pendiri perusahaan. Penjualan saham preferen membantu memperkuat kas perusahaan tanpa harus melakukan likuidasi aset Bitcoin.

Perusahaan juga memperkuat saldo kasnya hingga $2,25 miliar, yang digunakan sebagai cadangan guna menutupi kebutuhan biaya operasional terkait pembelian Bitcoin. Dalam sepekan terakhir, pembelian Bitcoin sedikit lebih kecil daripada dana yang dihimpun, memperlihatkan perusahaan cenderung menjaga likuiditas di tengah volatilitas pasar.

Penurunan Harga Saham dan Tantangan Keuangan

Harga saham perusahaan turun 2,6% menjadi $130 setelah pengumuman tersebut, menandakan tekanan pasar saham yang cukup besar selama enam bulan terakhir, dengan penurunan kumulatif mencapai 64%. Investor pun khawatir tentang ketahanan finansial perusahaan dalam menghadapi penurunan nilai Bitcoin yang cukup dalam. Fokus perdebatan juga tertuju pada utang konversi perusahaan yang mencapai $8,2 miliar dan akan mulai jatuh tempo pada tahun 2028.

Michael Saylor menegaskan niat perusahaan untuk "mengequitykan" utang konversi tersebut dalam tiga sampai enam tahun mendatang alih-alih membayar dalam bentuk tunai. Ia menegaskan komitmennya untuk menahan posisi Bitcoin walaupun harga jatuh drastis, bahkan jika turun hingga 90% dan bertahan selama empat tahun. Dalam sebuah wawancara di CNBC, Saylor menyatakan akan terus “merefinansiasi” utang untuk memastikan perusahaan tidak perlu menjual Bitcoin.

Risiko dan Persepsi Pasar

Pernyataan Saylor mendapat tanggapan skeptis dari komunitas investor dan media, yang mempertanyakan ketersediaan pinjaman bank jika kondisi pasar semakin memburuk. Respons tersebut dengan cepat menjadi viral dan menjadi bahan sindiran dalam diskusi keuangan.

Meski menghadapi kerugian di atas kertas sebesar 12% atau sekitar $3,6 miliar terhadap total pembelian Bitcoin senilai $54,5 miliar, perusahaan tetap menjadi pelaku pembelian Bitcoin publik terbesar saat ini. Pada Januari, perusahaan tersebut menyumbang 93% dari total Bitcoin yang dibeli oleh perusahaan publik lainnya, menunjukkan keputusan berani dalam memperbesar eksposur kripto di tengah kondisi pasar yang tidak menentu.

Perbandingan dengan Pemegang Bitcoin Korporat Lain

Perusahaan tidak sendirian mengalami tekanan akibat jatuhnya harga Bitcoin. Misalnya, Metaplanet di Jepang melaporkan kerugian sebesar ¥102 miliar (sekitar $664 juta) pada kuartal terakhir. Namun, perusahaan Jepang tersebut sejauh ini belum melakukan pembelian Bitcoin baru di tahun ini. Sementara itu, langkah agresif perusahaan asal Virginia ini justru semakin nyata dan memberi tekanan positif terhadap volume transaksi Bitcoin di pasar korporasi.

Langkah strategi pembelian Bitcoin yang tampak berani ini menggambarkan keyakinan jangka panjang terhadap nilai aset digital tersebut sekaligus mengindikasikan pendekatan yang semakin cerdas dalam hal pengelolaan keuangan dan pendanaan. Meskipun menghadapi risiko pasar dan pertanyaan atas model bisnis, aktivitas pembelian Bitcoin mereka tetap menjadi titik fokus penting dalam dinamika pasar aset digital global.

Terbaru