Bitcoin Terjebak Antara Kebijakan Hawkish The Fed dan Gaya Dovish Warsh: Apa Arti Ini untuk Pasar Kripto?

Author: Qoo Media

The Federal Reserve (Fed) menunjukkan sikap yang semakin hawkish pada pertemuan Januari, dengan beberapa pejabat terbuka membahas kemungkinan kenaikan suku bunga. Hal ini menimbulkan ketegangan yang signifikan menjelang pergantian kursi ketua Fed dari Jerome Powell ke Kevin Warsh pada musim panas mendatang.

FOMC memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada level 3,5%-3,75%, dengan dua gubernur yang dissenting mengusulkan pemotongan 0,25 poin persentase karena kekhawatiran kondisi pasar tenaga kerja. Namun, mayoritas anggota komite memilih untuk mempertahankan suku bunga, dengan alasan inflasi yang masih tinggi dan perlunya indikasi kuat bahwa disinflasi sudah kembali berjalan dengan baik sebelum ada pelonggaran kebijakan.

Beberapa pejabat Fed bahkan menuntut agar pernyataan pasca pertemuan mencerminkan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Ini mengindikasikan respons tegas terhadap risiko inflasi yang sedang dihadapi di dalam negeri. Jerome Powell dijadwalkan mengakhiri masa jabatannya pada Mei dan akan digantikan oleh Kevin Warsh, yang dikenal lebih dovish dan mendukung suku bunga lebih rendah.

Ketidaksepakatan ini memunculkan potensi konflik kebijakan ketika Warsh mengambil alih kepemimpinan dalam kondisi mayoritas anggota FOMC tetap hawkish. Warsh harus berhadapan dengan tekanan dari anggota komite yang bersikukuh fokus pada pencegahan inflasi, yang bisa membatasi ruang geraknya untuk melakukan pemotongan suku bunga di awal masa jabatannya.

Berikut adalah beberapa poin penting terkait peralihan kepemimpinan dan kebijakan Fed:

  1. Komposisi suara FOMC: 12 anggota voting dengan mayoritas mengutamakan pengendalian inflasi.
  2. Potensi pemotongan suku bunga: Tren penurunan yang diantisipasi oleh pasar pada Juni masih diragukan.
  3. Risiko inflasi: Indeks Harga PCE diperkirakan akan meningkat lagi dalam beberapa bulan mendatang.
  4. Waktu pertemuan Fed selanjutnya: Jadwal berikutnya pada pertengahan Maret, di mana pemotongan suku bunga dikesampingkan.

Di pasar kripto, Bitcoin menunjukkan reaksi negatif setelah rilis notulen Fed. Harga Bitcoin turun dari sekitar $68.300 menjadi di bawah $66.500 dalam 24 jam berikutnya, turun sekitar 1,6%. Aktivitas perdagangan yang meningkat setelah liburan Tahun Baru Imlek di kawasan Asia memperkuat tekanan jual.

Ketegangan geopolitik yang meningkat antara AS dan Iran juga turut memengaruhi pasar. Harga minyak melonjak lebih dari 4%, menekan sentimen risiko di pasar aset digital secara keseluruhan. Dalam hal ini, Bitcoin menghadapi dilema makroekonomi yang kompleks.

Brian Armstrong, CEO Coinbase, menganggap penurunan harga Bitcoin lebih dipengaruhi faktor psikologis ketimbang fundamental. Coinbase bahkan memanfaatkan momen ini dengan melakukan pembelian kembali saham dan akumulasi Bitcoin pada harga yang lebih rendah.

Kesulitan yang dihadapi Fed dalam mengharmonisasikan kebijakan juga membuat volatilitas pasar crypto meningkat dalam jangka pendek. Warsh harus mengelola komite yang terpolarisasi agar dapat menciptakan jalan kebijakan yang jelas dan mendukung stabilitas ekonomi.

Dengan kondisi ini, risiko ketidakpastian terhadap arah kebijakan moneter tetap tinggi. Pasar menantikan bagaimana Warsh dapat membawa perubahan pada periode berikutnya, terutama dalam menghadapi tekanan inflasi yang masih sulit dikendalikan. Dinamika ini akan terus menjadi faktor penentu terhadap performa Bitcoin dan aset kripto secara keseluruhan dalam beberapa bulan mendatang.

Terbaru