Bitdeer, salah satu raksasa penambangan Bitcoin, baru-baru ini melakukan aksi likuidasi seluruh cadangan Bitcoin miliknya. Perusahaan menjual total sekitar 1.127 BTC pada akhir minggu lalu saat harga Bitcoin berada di kisaran $65.000 hingga $68.000, angka yang hampir setengah dari puncak tertinggi sepanjang masa.
Penjualan ini terjadi saat margin keuntungan dari operasi penambangan Bitcoin mencapai titik terendah sepanjang sejarah. Bitdeer bahkan menghentikan rencana ekspansi ke Amerika Serikat dan memilih melepas semua Bitcoin milik sendiri, tidak termasuk setoran dari pelanggan.
Penurunan Cadangan Bitcoin Bitdeer Secara Bertahap
Pada awal tahun, Bitdeer memegang sekitar 2.000 BTC. Namun, dalam beberapa minggu, cadangan ini terus turun menjadi 1.530 BTC di akhir Januari, kemudian 943,1 BTC pada pertengahan Februari, hingga akhirnya dilikuidasi seluruhnya. Aksi ini menegaskan bahwa perusahaan tidak lagi menyimpan Bitcoin sebagai aset cadangan utama.
Beberapa platform pelacak seperti The Block dan bitcointreasuries.net masih menunjukkan Bitdeer memiliki antara 943 BTC sampai lebih dari 2.000 BTC. Namun, data ini berasal dari laporan kuartalan atau catatan lama sehingga belum memperbarui penjualan terakhir. Bitdeer sendiri telah memberikan pembaruan terakhir melalui akun resmi di X.
Perubahan Strategi Bitdeer dari Bitcoin Mining ke AI dan HPC
Perusahaan menyatakan bahwa keputusan likuidasi ini tidak mencerminkan masalah keuangan. Bitdeer tengah mengalokasikan modalnya untuk pengembangan di bidang kecerdasan buatan (AI) dan komputasi performa tinggi (HPC). Hal ini tercermin dari kesepakatan pendanaan baru senilai $43,7 juta melalui penawaran ekuitas dan fasilitas convertible note hingga $325 juta.
Bisnis AI dan HPC dapat menghasilkan pendapatan per megawatt jauh lebih besar dibandingkan penambangan Bitcoin tradisional. Bahkan margin keuntungan sektor ini dapat mencapai 80% hingga 90%, jauh mengungguli profitabilitas penambangan Bitcoin yang semakin menipis.
Tren Industri: Para Penambang Mulai Diversifikasi
Bitdeer bukan satu-satunya yang melakukan penyesuaian bisnis ini. Perusahaan-perusahaan publik lain seperti Cipher Mining, Core Scientific, Riot, dan TeraWulf juga mulai menjual sebagian Bitcoin hasil tambangnya atau mengalihkan fokus infrastrukturnya ke beban kerja AI. Saat ini, sekitar 70% penambang publik memiliki inisiatif terkait AI atau HPC.
Pendapatan dari bisnis AI bisa mencapai 3 hingga 25 kali lipat lebih tinggi per kilowatt dibandingkan penambangan Bitcoin. Kondisi ini mendorong penambang untuk menjual Bitcoin secara berkala dan menggunakan dana cadangan guna ekspansi ke pusat data AI.
Dampak Terhadap Industri Penambangan dan Investasi
Langkah Bitdeer keluar dari penyimpanan Bitcoin sendiri menandai perubahan struktural dalam sektor penambangan crypto. Dengan kapasitas hashrate sendiri yang terbesar di antara perusahaan publik, keputusan ini menjadi indikator bagi pelaku industri lain.
Sektor penambangan tetap menjadi bisnis inti, namun ketergantungan penuh pada Bitcoin semakin berisiko. Operator lebih memilih memaksimalkan kapasitas listrik untuk pekerjaan AI yang menjanjikan hasil jauh lebih tinggi.
Diperkirakan tren ini akan berlanjut sepanjang tahun ini. Banyak penambang besar kemungkinan akan menjual Bitcoin mereka, memperbaiki struktur utang, dan membangun pusat data yang dioptimalkan untuk AI. Bagi para investor, saham perusahaan penambangan mungkin akan semakin mirip dengan saham infrastruktur teknologi daripada aset crypto murni.
Masa depan industri penambangan Bitcoin menunjukkan akselerasi menuju diversifikasi ke teknologi AI, meninggalkan era “HODL semua Bitcoin hasil tambang” demi meraih peluang ekonomi yang lebih besar dan stabil. Perubahan ini sejatinya merupakan adaptasi vital terhadap kondisi margin penambangan yang semakin ketat dan dinamika pasar crypto global.
