Perdebatan mengenai regulasi mata uang kripto di Amerika Serikat semakin memanas. Pemerintahan Donald Trump menunjukkan sikap tegas untuk mendorong disahkannya rancangan undang-undang (RUU) struktur pasar kripto yang sempat tertunda di Kongres. Namun, di sisi lain, perusahaan kripto milik keluarga Trump justru memiliki pandangan yang berbeda terkait RUU tersebut.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, melontarkan kritik keras terhadap para eksekutif kripto, termasuk CEO Coinbase Brian Armstrong, yang menolak RUU kecuali persyaratannya dianggap ideal. Bessent menilai mereka sebagai “nihilis” dan “pemberontak” yang seharusnya pindah ke negara seperti El Salvador. Kontras dengan itu, di konferensi kripto di Mar-a-Lago, Zach Witkoff selaku CEO perusahaan kripto keluarga Trump, World Liberty Financial, menunjukkan dukungan penuh kepada Armstrong dan upaya Coinbase dalam menghadapi RUU tersebut.
Ketidaksesuaian Pendapat Antara Pemerintahan dan Perusahaan Keluarga Trump
Coinbase, perusahaan besar industri kripto, menarik dukungannya dari RUU struktur pasar ini karena adanya perubahan pada regulasi terkait imbal hasil stablecoin. Stablecoin sendiri adalah aset kripto yang biasanya dipatok pada nilai dolar AS, dan Coinbase menawarkan imbal hasil sekitar 4% kepada pengguna yang memegang USDC, stablecoin yang dibuat bersama oleh perusahaan tersebut. Namun, bank-bank menginginkan larangan terhadap program ini dengan alasan mengurangi daya tarik tabungan konvensional yang berimbal hasil rendah.
Sementara itu, World Liberty Financial—perusahaan yang menonjolkan stablecoin milik mereka bernama USD1—mengembangkan ekosistem yang memungkinkan pengguna memperoleh imbal hasil dari USD1 yang dimiliki. Mereka meluncurkan aplikasi WLFI Markets yang memungkinkan kegiatan pinjam-meminjam serta penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk mengotomatisasi pengeluaran dan investasi menggunakan USD1. Rencana lain termasuk aplikasi konsumen mirip Venmo untuk menukar stablecoin dengan mata uang fiat serta mengirim uang ke luar negeri.
Strategi dan Prioritas Legislasi Trump di Tengah Dinamika Industri Kripto
World Liberty mengaku sangat sejalan dengan pandangan dan tindakan Coinbase dalam menanggapi RUU yang sedang diperdebatkan. Co-founder perusahaan ini, Zak Folkman, menyatakan kekaguman terhadap kepemimpinan Brian Armstrong di industri kripto. Namun, keputusan mendadak Coinbase menarik dukungan sempat mengejutkan Kongres dan istana kepresidenan. Akibatnya, suara penting di Senat untuk RUU ini terpaksa ditunda tanpa jadwal pasti, sehingga masa depan regulasi tersebut semakin tidak pasti.
Meskipun demikian, pemerintahan Trump menetapkan agar RUU ini disahkan pada musim semi sebagai prioritas utama. Berbagai pertemuan telah diadakan yang melibatkan eksekutif Coinbase, perusahaan kripto lain, dan perwakilan perbankan demi mencapai kesepakatan terkait imbal hasil stablecoin. Coinbase dianggap terlalu besar untuk diabaikan dalam proses pembahasan ini. Apabila RUU gagal disahkan, kemungkinan besar imbal hasil dari stablecoin seperti yang ditawarkan oleh Coinbase dan World Liberty akan tetap legal di bawah ketentuan GENIUS Act yang diresmikan tahun lalu.
Ketidakpastian Keterkaitan Antara World Liberty dan Pemerintahan Trump
Sejak kembalinya Trump ke panggung politik, World Liberty menjadi sorotan di Washington. Namun, para pengelola perusahaan menegaskan bahwa mereka berjalan secara independen dari pemerintahan, yang terlihat dari perbedaan sikap mereka terhadap RUU struktur pasar kripto. Folkman menegaskan bahwa mereka sama-sama “berdiri di luar” dan mengikuti perkembangan legislatif seperti banyak pihak lain.
Berikut poin penting yang menjadi perhatian dalam perdebatan regulasi kripto ini:
- Pemerintahan Trump mendorong pengesahan RUU struktur pasar kripto sebagai prioritas legislasi.
- Menteri Keuangan AS keras mengkritik penolakan eksekutif kripto terhadap RUU.
- Coinbase menolak RUU karena perubahan terkait imbal hasil stablecoin.
- Perusahaan keluarga Trump, World Liberty, mendukung Coinbase dan mengembangkan stablecoin dengan imbal hasil.
- RUU mengalami penundaan suara di Senat dan masa depan legislasi masih tidak pasti.
- Jika RUU gagal, stablecoin rewards tetap aman berdasarkan GENIUS Act sebelumnya.
Situasi ini memperlihatkan kompleksitas hubungan antara pemerintahan, legislatif, dan perusahaan swasta dalam mengatur pasar kripto yang terus berkembang. Di tengah persaingan kepentingan, perusahaan keluarga Trump memilih untuk berjalan berdampingan dengan raksasa industri seperti Coinbase, meskipun berbeda dengan sikap resmi Gedung Putih. Upaya lanjutan akan menentukan bagaimana kebijakan stabilisasi pasar kripto Amerika Serikat ke depan.
