
Sentimen terhadap Bitcoin semakin memburuk seiring harga aset digital ini turun di bawah angka $63.000. Penurunan ini membuat harga Bitcoin jatuh lebih dari 50% dari puncak tertingginya, yang memicu kekhawatiran investor akan tekanan lanjutan di pasar kripto.
Di platform pasar prediksi Myriad, yang dimiliki oleh perusahaan induk Decrypt, Dastan, pengguna memprediksi peluang sekitar 71% bahwa harga Bitcoin akan turun ke level $55.000 sebelum bisa kembali naik ke $84.000. Sentimen pesimistis ini meningkat hampir 12% dalam satu hari terakhir.
Pergerakan Harga Bitcoin Terkini
Pada saat penulisan, harga Bitcoin sedikit naik ke $63.829 setelah mengalami penurunan 3% dalam 24 jam terakhir, berdasarkan data dari CoinGecko. Harga sempat menyentuh titik terendah $62.802 semalam, yang merupakan harga terendah sejak Oktober. Dalam satu bulan terakhir, Bitcoin telah kehilangan sekitar 28% nilainya dan sekarang berada lebih dari 49% di bawah harga tertinggi sepanjang masa sebesar $126.080 yang tercapai pada awal Oktober.
Dampak Kebijakan Tarif Global Terhadap Pasar
Selain faktor internal pasar kripto, penurunan Bitcoin juga dipengaruhi oleh ketidakpastian kebijakan ekonomi global. Pemerintah Amerika Serikat mulai memberlakukan tarif baru sebesar 10% untuk semua barang impor yang berdampak pada pasar global. Kebijakan ini justru bertentangan dengan keputusan Mahkamah Agung yang sebelumnya menyatakan kebijakan tarif darurat tersebut tidak sah.
Ketidakpastian Pemulihan Bitcoin di Tengah Tekanan Makro
Situasi ini menimbulkan ketegangan hukum dan ekonomi yang tinggi, yang menurut Jimmy Xue, COO dan pendiri bersama perusahaan infrastruktur kripto Axis, akan menciptakan volatilitas besar di pasar kripto. Ia menyebut bahwa minggu ini akan menjadi penting untuk mengamati perubahan kebijakan dari Mahkamah Agung dan respon pemerintah AS yang langsung beralih menggunakan pasal 122 untuk menerapkan tarif tersebut.
Bitcoin Melawan Tren Emas sebagai Safe Haven
Menurut Xue, penurunan ke harga sekitar $64.000 lebih merupakan dampak dari "guncangan makro" dibandingkan dengan keruntuhan pasar Bitcoin secara fundamental. Emas justru menunjukkan performa sebaliknya, menguat sebagai aset lindung nilai (safe haven). Dalam enam bulan terakhir, harga emas telah meningkat 54%, meskipun sempat turun 1% menjadi $5.154 per ons dalam 24 jam terakhir.
Bitcoin terlihat masih mengikuti siklus likuiditas "risk-on", sehingga sering diperlakukan seperti saham teknologi dengan pertumbuhan tinggi yang dijual oleh investor saat terjadi kepanikan geopolitik atau fiskal. Kondisi ini menegaskan bahwa Bitcoin sangat rentan terhadap ketidakpastian makroekonomi saat ini.
Faktor-Faktor Kunci yang Perlu Diperhatikan Investor
- Kebijakan tarif baru AS dan respon hukum yang bisa memicu ketidakpastian pasar lebih lanjut.
- Sentimen pasar prediksi yang sekarang berpihak pada skenario harga Bitcoin turun ke sekitar $55.000.
- Pergerakan harga emas sebagai indikator safe haven di tengah volatilitas.
- Respons pasar terhadap berita geopolitik dan fiskal yang dapat menimbulkan efek domino di aset berisiko seperti Bitcoin.
Investor disarankan untuk memantau dinamika kebijakan dan pergerakan likuiditas global karena faktor-faktor tersebut masih menjadi penentu utama arah pergerakan harga Bitcoin dalam waktu dekat. Volatilitas tinggi berpotensi berlanjut mengingat kondisi pasar yang belum stabil dan adanya risiko legislatif serta ekonomi makro yang sedang bergolak.





