Meta Platforms mulai kembali mengeksplorasi penggunaan cryptocurrency, khususnya stablecoin, dalam ekosistem media sosialnya. Percobaan kecil ini akan mengintegrasikan pembayaran menggunakan stablecoin di platform seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp dengan kemungkinan peluncuran di akhir tahun ini.
Dalam uji coba ini, Meta tidak berencana menciptakan stablecoin sendiri. Seorang juru bicara Meta, Andy Stone, menegaskan bahwa langkah ini bertujuan memberi kemudahan bagi pengguna dan bisnis dalam melakukan pembayaran dengan metode yang mereka pilih.
Potensi Penggunaan Stablecoin oleh Meta
Analisis dari para ahli menunjukkan bahwa stablecoin dapat dimanfaatkan terutama untuk pembayaran di pasar negara berkembang dengan penetrasi perbankan yang rendah. WhatsApp menjadi kunci karena banyak digunakan untuk transaksi harian di negara-negara seperti India, Brasil, dan Asia Tenggara.
Selain itu, penggunaan stablecoin juga dinilai dapat menekan biaya dan mengurangi hambatan transfer uang lintas negara, termasuk dalam pembayaran bagi kreator konten di Instagram dan Facebook. Dengan stablecoin, biaya pengiriman uang yang tinggi melalui jalur tradisional dapat berkurang secara signifikan.
Kolaborasi dengan Pihak Ketiga
Meta telah mengajukan permintaan produk ke beberapa pihak yang menangani stablecoin, dan perusahaan fintech Stripe disebut sebagai kandidat utama dalam proyek ini. Stripe dikenal dengan kemampuan menerima pembayaran stablecoin dan transfer lintas negara, terutama setelah akuisisi Bridge, sebuah fintech yang memfasilitasi penggunaan stablecoin untuk bisnis internasional.
Hubungan strategis juga terjalin karena CEO Stripe, Patrick Collison, bergabung sebagai direktur di Meta pada tahun lalu. Kolaborasi ini dianggap penting untuk memperkuat kapabilitas pembayaran Meta dan mempercepat adopsi stablecoin di ekosistem mereka.
Tantangan dan Peluang Integrasi Stablecoin di Media Sosial
Meski memiliki potensi besar, menggabungkan sistem pembayaran dengan interaksi sosial tetap menghadapi tantangan. Menurut Aaron Press dari IDC Global, meskipun Meta memiliki basis pengguna harian aktif mencapai 3,58 miliar, adopsi pembayaran sosial masih sulit diterapkan secara luas di luar beberapa pasar tertentu. Stablecoin belum secara fundamental mengubah dinamika tersebut.
Namun, Josh Istas dari The Strawhecker Group menyoroti manfaat nyata stablecoin, terutama dalam pembayaran lintas batas untuk kreator dan kontraktor, karena dapat menghilangkan biaya, gesekan nilai tukar mata uang, dan keterlambatan penyelesaian transaksi yang sering menjadi masalah dalam sistem tradisional.
Meta Kembali ke Cryptocurrency Setelah Empat Tahun
Kembali menjajaki stablecoin menjadi babak baru setelah Meta sebelumnya menutup proyek digital currency mereka, Libra (kemudian Diem), karena mendapat penolakan regulasi keras. Di masa lalu, mantan Presiden AS Donald Trump bahkan menentang konsep cryptocurrency Meta.
Kini, situasi regulasi di Amerika Serikat telah berubah lebih mendukung. Bahkan undang-undang Genius Act telah disahkan sebagai kerangka hukum yang mengatur stablecoin. Dengan demikian, inisiatif Meta kini dinilai sejalan dengan perkembangan regulasi dan pemanfaatan aset digital di pasar Amerika.
Signifikansi Langkah Meta untuk Industri Fintech
Menurut Maghnus Mareneck dari Cosmos Labs, tindakan Meta mengintegrasikan stablecoin menjadi sinyal penting bagi industri teknologi finansial. Stablecoin kini dikembangkan sebagai infrastruktur pembayaran utama oleh berbagai institusi besar.
Keseriusan Meta dalam mengadopsi stablecoin tidak hanya membawa dampak langsung ke penggunaan platform mereka, tetapi juga mempertegas posisi stablecoin sebagai metode pembayaran yang layak untuk skala global dan lingkungan fintech yang terus berkembang.
Langkah ini sekaligus menunjukkan perubahan paradigma dalam cara perusahaan teknologi besar memandang dan memanfaatkan aset digital, dari sekadar inovasi crypto menjadi infrastruktur penting dalam ekosistem pembayaran masa depan.
