Sejumlah gim populer di Steam mendadak memicu pertanyaan publik setelah label rating yang tampil dinilai tidak sesuai dengan aturan klasifikasi usia di Indonesia. Komdigi pun angkat bicara dan menyebut rating Indonesia Game Rating System atau IGRS yang muncul di platform itu bukan klasifikasi resmi.
Persoalan ini mencuat setelah warganet menemukan sejumlah gim besar seperti Cyberpunk 2077, Persona 5 Royal, Grand Theft Auto V, dan Papers, Please berstatus “Unfit for Distribution” atau tidak cocok didistribusikan. Temuan itu lalu memunculkan tanda tanya besar karena label yang tampil di Steam berbeda dengan hasil klasifikasi resmi yang seharusnya berlaku di Indonesia.
Komdigi sebut label di Steam bukan hasil verifikasi resmi
Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Ditjen Ekosistem Digital Komdigi, Sonny Hendra Sudaryana, menyatakan rating yang beredar di Steam berasal dari mekanisme internal self-declare. Menurut dia, sistem itu belum melalui proses verifikasi resmi sesuai ketentuan yang berlaku di Indonesia.
“Rating yang beredar tersebut bukan merupakan hasil klasifikasi resmi IGRS. Hal ini berpotensi menimbulkan kesalahpahaman publik, terutama terkait kelayakan usia suatu gim,” ujar Sonny dalam keterangan resmi yang dikutip pada Senin.
Komdigi juga menyebut ada indikasi penggunaan label IGRS di Steam tanpa verifikasi resmi. Karena itu, label tersebut dinilai belum mencerminkan hasil klasifikasi yang sah dan berpotensi membingungkan pengguna, termasuk orang tua yang mengandalkan informasi rating untuk memilih gim yang layak dimainkan anak.
Steam diminta beri klarifikasi
Kementerian menyampaikan akan meminta klarifikasi resmi dari Steam terkait tampilnya label rating tersebut. Langkah itu ditempuh untuk memastikan platform mematuhi regulasi nasional dan menampilkan informasi yang akurat kepada publik.
Sonny menegaskan bahwa akurasi informasi dalam platform digital bukan sekadar urusan administrasi. Menurut dia, hal itu juga menyangkut perlindungan pengguna, terutama anak-anak, yang menjadi kelompok paling rentan saat memilih konten hiburan digital.
“Kami meminta platform untuk memastikan bahwa setiap informasi yang ditampilkan kepada publik akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Ini bukan hanya soal kepatuhan, tetapi juga tanggung jawab dalam melindungi pengguna, khususnya anak-anak,” katanya.
Komdigi juga menyatakan akan menindaklanjuti temuan itu bila ditemukan pelanggaran. Masyarakat diminta mengacu pada laman resmi IGRS serta kanal resmi Kemkomdigi untuk mendapatkan informasi yang benar soal klasifikasi gim.
Daftar gim yang ikut terdampak
Berdasarkan pantauan di media sosial dan penelusuran di Steam, sejumlah gim yang disebut bermasalah antara lain:
- Cyberpunk 2077
- Persona 5 Royal
- Grand Theft Auto V
- Papers, Please
Keempat gim tersebut menjadi sorotan karena sebagian warganet melihat adanya label yang tidak selaras dengan klasifikasi yang biasa muncul pada sistem IGRS. Dalam temuan yang dibagikan akun Ecommurz, gim-gim itu tercantum sebagai tidak cocok didistribusikan.
Steam sebut Indonesia masuk negara yang wajibkan rating usia
Dalam rilis resmi di Steam Community pada Maret lalu, Steam menjelaskan bahwa Indonesia telah ditambahkan ke daftar negara yang mewajibkan rating usia untuk gim yang dijual kepada pelanggan lokal. Steam juga menyatakan bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk memperbarui sistem rating bawaan di platform mereka.
Namun, pantauan CNBC Indonesia menunjukkan bahwa sebagian gim yang sebelumnya menampilkan IGRS kini justru memakai rating PEGI atau Pan European Game Information. Sistem itu merupakan standar rating yang digunakan di sejumlah negara Eropa.
Sebagai contoh, Cyberpunk 2077 tampil dengan rating PEGI 18, sementara Persona 5 Royal tercatat PEGI 16. Hingga kini, belum ada penjelasan rinci dari Steam mengenai alasan perubahan label tersebut pada halaman gim yang dapat diakses pengguna Indonesia.
Mengapa kasus ini penting bagi pengguna
Kasus ini menjadi penting karena rating usia bukan sekadar label visual. Informasi itu membantu pengguna memahami tingkat kesesuaian sebuah gim dengan usia pemain, konten kekerasan, bahasa, hingga tema dewasa yang mungkin muncul di dalamnya.
Saat label muncul tidak konsisten, risiko salah tafsir ikut meningkat. Dalam konteks Indonesia, kejelasan klasifikasi sangat penting karena pasar gim terus bertumbuh dan pengguna semakin bergantung pada platform digital untuk membeli atau mengunduh konten secara langsung.
Komdigi kini menunggu penjelasan resmi dari Steam sambil menegaskan bahwa informasi publik yang tampil di platform digital harus dapat dipertanggungjawabkan. Di sisi lain, pengguna diimbau tetap memeriksa laman resmi IGRS dan memperhatikan pembaruan dari Kemkomdigi sebelum mengandalkan rating yang tampil di toko gim digital.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbcindonesia.com