Ketegangan Iran Mengguncang Pasar, Apakah Harga Bitcoin Siap Melonjak atau Terperosok Lebih Dalam?

Bitcoin mengalami tekanan harga yang tidak terlalu tajam meski ketegangan di Timur Tengah meningkat. Setelah sempat turun hingga di bawah $63.000, harga Bitcoin kini telah naik kembali ke kisaran $66.600, menunjukkan pasar mulai menyerap dampak dari konflik tersebut.

Serangan udara pimpinan AS terhadap target Iran memicu serangan balasan berupa rudal dan drone, yang menimbulkan kekhawatiran soal eskalasi menjadi konflik regional yang lebih luas. Iran memperingatkan akan adanya pembalasan lebih lanjut, sementara gangguan di jalur pelayaran dan penerbangan Teluk Persia menambah kekhawatiran akan konflik yang melebar.

Dampak Geopolitik terhadap Pergerakan Bitcoin
Data menunjukkan penurunan mingguan Bitcoin sekitar 2,8%, lebih kecil dibandingkan indeks saham AS seperti Nasdaq, Dow, dan S&P 500 yang turun lebih dari 1%. Ini menandakan investor menilai risiko secara luas dengan lebih waspada terhadap situasi makro dan politik.

Menurut Ryan McMillin, Chief Investment Officer Merkle Tree Capital, penurunan harga Bitcoin yang awal adalah respons pasar terhadap ketidakpastian. Setelah situasi diyakini masih terkendali, permintaan terhadap Bitcoin langsung meningkat kembali secara cepat.

Indeks Fear and Greed untuk Bitcoin berada pada angka 11, dan tingkat pendanaan futures Bitcoin turun ke minus 6%. Hal ini menandakan posisi short (jual) memerlukan biaya tinggi untuk dipertahankan, yang tidak terlihat sejak harga Bitcoin masih di sekitar $16.000 pada tahun lalu. McMillin menyimpulkan bahwa secara mekanis, pasar mendorong untuk mengambil posisi beli atau long pada Bitcoin.

Analisis Harga dan Sentimen Pasar
Pratik Kala, kepala riset Apollo Crypto, menyatakan bahwa reaksi harga Bitcoin sudah mencerminkan sebagian besar kejutannya. Jika ada potensi penurunan lanjutan, harga sudah harus bergerak turun drastis sejak kejadian di akhir pekan lalu. Selain itu, pembukaan kontrak futures CME juga belum menunjukkan tekanan jual signifikan.

Fokus pasar saat ini juga tertuju pada gangguan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak global. Harga minyak Brent melonjak sekitar 8–10% ke level $80 per barel, sementara minyak mentah AS (WTI) naik 7–8%.

Kala menuturkan bahwa jika harga minyak tetap tinggi, risiko inflasi lebih tinggi akan menjadi ancaman bagi aset berisiko termasuk Bitcoin. Namun, ia tidak memandang hal ini sebagai skenario dominan karena pasokan minyak dari negara-negara OPEC dan upaya politik dapat menahan lonjakan harga tersebut.

Reaksi Pasar Safe-Haven dan Prospek Bitcoin
Emas sebagai aset safe-haven naik lebih dari 2%, mencapai $5.388 per troy ounce, didorong oleh permintaan perlindungan terhadap ketidakpastian geopolitik. Han Tan, analis pasar Bybit, memperkirakan konflik di Timur Tengah akan semakin memperkuat tren kenaikan harga emas.

Meski demikian, Tan menekankan bahwa risiko geopolitik biasanya cepat berkurang setelah pasar dan ekonomi mencerna serta menilai risiko tersebut terkendali. Hal ini juga dapat memberikan ruang bagi Bitcoin untuk beradaptasi dan menemukan level harga yang stabil.

Ringkasan Dampak Konflik Terhadap Bitcoin

  1. Ketidakpastian geopolitik menyebabkan volatilitas awal di pasar Bitcoin, namun sentimen membaik seiring situasi terlihat terkendali.
  2. Penurunan Bitcoin lebih kecil dibandingkan pasar saham utama AS, menunjukkan perbedaan dinamika risiko.
  3. Faktor minyak dan inflasi dapat menjadi variabel penting untuk pergerakan harga jangka menengah Bitcoin.
  4. Posisi short yang mahal menunjukkan tekanan beli dari trader yang optimistis pada Bitcoin.
  5. Emas menguat sebagai safe-haven, namun risiko geopolitik biasanya cepat mereda sehingga dampaknya terhadap aset digital masih perlu dipantau.

Dengan melihat data dan analisis tersebut, perkembangan konflik Iran tetap menjadi variabel penting bagi investor dan trader Bitcoin. Pergerakan harga dalam waktu dekat akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana ketegangan ini berkembang dan respons pasar terhadap risiko global yang muncul.

Terkait