Bitcoin Memelas Di Maret 2026, Peluang Bounce Sementara Atau Jebakan Bear Flag Besar Menanti?

Author: Qoo Media

Bitcoin memasuki bulan Maret dalam kondisi yang kurang menguntungkan setelah mencatat penurunan hampir 15% pada bulan sebelumnya. Tren negatif ini mengikuti pola penurunan serupa yang pernah terjadi pada bulan Februari tahun lalu, yaitu penurunan lebih dari 17%.

Bitcoin telah mengalami lima bulan merah berturut-turut sejak Oktober, dengan median pengembalian pada bulan Maret sekitar −1,31%. Data historis tersebut menunjukkan bahwa secara musiman, bulan Maret tidak memberikan banyak harapan bagi pergerakan harga Bitcoin. Namun, terdapat indikasi perubahan sentimen yang mulai terlihat di permukaan pasar.

Korelasi Bitcoin dan Pasar Saham AS

Faktor signifikan saat ini adalah korelasi kuat antara harga Bitcoin dan indeks saham Amerika Serikat, khususnya S&P 500. Sebagai contoh, penurunan indeks S&P 500 pada bulan Februari ikut menarik harga Bitcoin turun. Korelasi rolling 30 hari antara Bitcoin dan S&P 500 pada awal bulan Maret mencapai 0,55, meningkat dari 0,50 pada Oktober tahun sebelumnya.

Situasi ini menurunkan daya tarik Bitcoin sebagai aset lindung nilai terhadap risiko pasar tradisional. Tekanan tambahan dari situasi geopolitik dan kebijakan tarif global memperburuk sentimen risiko investor. Kevin Crowther, pendiri KC Private Wealth, menjelaskan bahwa tingginya korelasi Bitcoin terhadap saham teknologi melemahkan posisinya sebagai aset pelindung saat ketidakpastian ekonomi meningkat.

Peran Emas, Perak, dan Potensi Rotasi Modal

Sementara Bitcoin mengalami tekanan, harga emas dan perak justru terus mengalami kenaikan. Jika ketegangan geopolitik mereda, terutama di kawasan Timur Tengah, kemungkinan sentimen risiko akan membaik. Hal ini dapat memicu rotasi modal dari logam mulia ke Bitcoin sebagai aset alternatif yang belum terlalu banyak diminati. Namun, perubahan ini sangat tergantung pada pemisahan korelasi Bitcoin dengan pasar saham.

Data ETF Spot Bitcoin dan Aktivitas Institusional

Data terbaru dari ETF Bitcoin menunjukkan penurunan arus keluar dana yang signifikan. Pada bulan November tahun lalu, arus keluar mencapai $3,48 miliar, namun pada Februari hanya tersisa sekitar $206,52 juta, menandakan pengurangan hingga 94%. Orkun Mahir Kılıç, Co-Founder Citrea, menilai bahwa arus keluar ini lebih merupakan penyesuaian posisi daripada penarikan struktur institusional dari pasar.

Nima Beni, pendiri Bitlease, menambahkan bahwa arus keluar ETF mencerminkan kepanikan di kalangan ritel, yang justru membuka kesempatan masuk bagi institusi. Meskipun BlackRock melakukan penarikan dana sebesar $2,13 miliar pada IBIT, 94% dari kepemilikan ETF Bitcoin tetap bertahan, menandakan keyakinan institusional yang kuat.

Perilaku Penjual dan Pembeli Dalam Rantai

Penjualan dari pemegang jangka panjang (lebih dari setahun) dan penambang Bitcoin menunjukkan tren penurunan yang signifikan. Pada awal Februari, posisi bersih penjualan pemegang jangka panjang mencapai −243.737 BTC, namun berkurang drastis menjadi −31.967 BTC pada awal Maret. Hal serupa juga terlihat pada penambang yang menjual BTC untuk menutupi biaya operasional; penjualan mereka menurun tajam dari −4.718 BTC menjadi −837 BTC dalam periode yang sama.

Han Tan, analis utama pasar di Bybit, menjelaskan bahwa penurunan hashrate yang terjadi bukan tanda kapitulasi struktural, melainkan diversifikasi strategis oleh para penambang akibat harga Bitcoin yang turun dan biaya energi yang meningkat.

Akumulasi oleh Whale dan Indikator Teknis

Kelompok whale pemegang Bitcoin besar mulai menunjukkan aktivitas akumulasi. Wallet dengan 100.000 hingga 1.000.000 BTC menambah kepemilikan mereka dari 676.540 menjadi 690.000 BTC pada pertengahan Februari dan tidak melakukan penjualan setelah itu. Whale dengan kepemilikan antara 1.000 hingga 10.000 BTC juga mulai menambah aset sejak akhir Februari.

Salah satu alasan akumulasi tersebut berkaitan dengan level Moving Average 20 hari (SMA 20) yang menjadi indikator tren jangka pendek. Harga Bitcoin saat ini berada sedikit di bawah SMA 20 pada kisaran $67.100, dengan catatan bahwa saat menembus level tersebut pada awal tahun, harga pernah naik lebih dari 12%. Namun, untuk konfirmasi pembalikan tren bullish jangka panjang diperlukan harga menembus SMA 50 hari yang sekitar $77.200, dan terutama SMA 200 hari di level $96.800.

Han Tan menegaskan pentingnya melewati SMA 50 hari dan level psikologis $80.000 agar pembeli benar-benar tertarik kembali ke pasar.

Struktur Harga dan Potensi Arah Harga

Pada grafik tiga hari, Bitcoin tampak membentuk pola bear flag, sebuah pola yang biasanya menunjukkan kelanjutan tren turun setelah periode konsolidasi harga. Jika pola ini terkonfirmasi, penurunan harga bisa mencapai sekitar 39%. Selain itu, indikator RSI menunjukkan divergensi bearish tersembunyi antara awal dan akhir Februari, yang memperkuat pandangan bahwa momentum pelemahan masih dominan.

Level resistensi utama berada di $71.300, dengan resistance tambahan di $79.000 yang jika ditembus dapat membatalkan pola bear flag. Sementara level support kritis adalah $62.300, dengan level support Fibonacci berikutnya berada di kisaran $56.800, $52.300, $47.800, dan terendah di $41.400.

Prediksi dan Sentimen Pasar

Kevin Crowther memperkirakan bahwa pergerakan harga Bitcoin pada bulan ini kemungkinan akan cukup stabil atau sedikit positif, menandakan peluang bounce ringan. Sementara Orkun Mahir Kılıç menilai sentimen pasar saat ini sebagai fase kapitulasi klasik yang menyingkirkan investor lemah dan memperketat suplai.

Secara keseluruhan, penurunan penjualan dan akumulasi oleh whale menjadi sinyal penting bahwa tekanan jual mulai melemah. Namun, pemulihan harga penuh masih bergantung pada apakah support di $62.300 dapat bertahan atau resistance di $79.000 berhasil ditembus. Momen ini akan menjadi penentu arah tren selanjutnya bagi Bitcoin dalam bulan Maret.

Terbaru