World War 3 Menggema di Crypto, Tapi Pasar Tetap Tenang — Apakah Ini Penipuan Sentimen Atau Tanda Ketenangan Sebelum Badai?

Analisis terbaru menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai “Perang Dunia 3” sedang meningkat pesat di kalangan komunitas kripto, mencapai puncaknya sejak Juni 2025. Kenaikan ini terjadi di tengah ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran akibat serangan terkoordinasi yang memicu reaksi balasan di wilayah Teluk.

Data dari Santiment, sebuah perusahaan analitik on-chain, memperlihatkan lonjakan diskusi sosial di media sosial seputar topik Perang Dunia 3. Ketegangan ini mengingatkan publik pada konflik sebelumnya pada Juni tahun lalu, ketika serangan Israel terhadap fasilitas nuklir dan militer Iran memicu serangan balasan dan eskalasi militer yang akhirnya mereda pada tanggal 24 Juni.

Namun, meski kekhawatiran sosial meningkat, pasar keuangan tradisional tidak menunjukkan tanda-tanda panik yang biasanya menyertai potensi perang besar. Laporan dari The Kobeissi Letter menegaskan bahwa pasar berjangka (futures market) belum mencerminkan risiko sistemik yang besar saat ini. Misalnya, harga minyak yang awalnya melonjak, kini sudah kehilangan hampir separuh kenaikannya, sementara indeks S&P 500 hanya turun kurang dari 1%. Emas mengalami kenaikan sekitar 2%, dan Bitcoin justru menunjukkan tren positif pada hari yang sama.

Kyle Doops, analis pasar, mencatat bahwa emas bisa menjadi indikator yang lebih signifikan selama ketegangan geopolitik seperti ini. Pengalaman masa lalu sejak Perang Dunia I dan II hingga inflasi pada tahun 1970-an menunjukkan bahwa porsi emas dalam portofolio global saham meningkat secara signifikan. Namun, saat ini, meskipun hutang global mencapai rekor tertinggi dan ketegangan geopolitik menguat, proporsi tersebut masih jauh di bawah level ekstrem historis.

Di sisi komunitas kripto, sentimen terpecah. Beberapa trader berpendapat bahwa investor ritel cenderung panik lebih dulu, sementara pelaku besar secara diam-diam melakukan akumulasi. Pendapat ini didukung oleh data on-chain dari CryptoQuant yang menunjukkan bahwa pemegang Bitcoin jangka pendek, kelompok yang biasanya paling reaktif, belum menunjukkan aksi penjualan besar-besaran.

Metode pengukuran CryptoQuant yang mengamati loss-driven selling dari pembeli terbaru menunjukkan tekanan jual yang menurun sejak peristiwa capitulasi besar pada awal Februari lalu. Saat itu, lebih dari 89.000 BTC dikirim ke bursa dengan kerugian dalam 24 jam. Meski harga Bitcoin sempat turun ke kisaran $63.000 hingga $64.000 akibat eskalasi geopolitik terbaru, tidak ada lonjakan signifikan dalam aliran penjualan dari pemegang jangka pendek.

CryptoQuant menyatakan bahwa “tidak ada aksi ambil untung panik, tidak ada capitulasi kerugian,” yang menandakan bahwa tekanan jual besar sudah banyak terserap pasar. Biasanya, setelah tekanan dari investor yang lebih lemah hilang, pasar akan menunjukkan stabilitas.

Secara keseluruhan, meskipun media sosial dan komunitas kripto tengah merespons ketegangan geopolitik dengan kekhawatiran akan Perang Dunia 3, pasar kripto dan aset lain seperti emas, saham, dan minyak masih mencerminkan respons yang terbatas dan terkendali. Sinyal utama ke depan adalah apakah aliran aset dari pemegang jangka pendek tetap rendah. Jika penjualan panik tidak terjadi, gelombang ketakutan ini kemungkinan hanya merupakan lonjakan sentimen sementara, bukan awal dari runtuhnya sistem pasar secara luas.

Terkait