Analis Terpecah Antara Krisis Minyak Mematikan Bitcoin, Atau Gejolak Energi Jadi Mesin Rally Kripto Besar?

Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz telah memicu rally tajam Bitcoin mendekati harga $73.000. Namun, para analis terkemuka menunjukkan pandangan yang bertentangan tentang dampak guncangan pasar energi terhadap prospek Bitcoin ke depan.

Mike McGlone, analis senior Bloomberg Intelligence, memperingatkan bahwa volatilitas minyak dapat merembet ke pasar saham dan menghancurkan pasar kripto. Sebaliknya, Arthur Hayes dari Maelstrom CIO justru melihat situasi saat ini bisa memicu rally besar bagi Bitcoin di masa depan.

Pandangan Pesimistis Mike McGlone

McGlone menilai Bitcoin sebagai aset yang rentan di pasar bearish. Ia mengaitkan harga Bitcoin erat dengan indeks Nasdaq, yang saat ini menunjukkan volatilitas terendah dalam sepuluh tahun terakhir. Menurutnya, agar aset digital naik signifikan, volatilitas pasar saham harus tetap rendah.

McGlone menegaskan, "Poin utama agar aset berisiko tinggi ini naik adalah volatilitas Nasdaq," dan apabila volatilitas minyak kasar merambat ke pasar saham, kondisi tersebut akan menjadi racun bagi pasar kripto. Ia juga menyatakan bahwa puncak pasar kripto kemungkinan besar sudah tercapai saat masih dipimpin oleh Presiden Trump.

Terkait krisis energi, McGlone skeptis akan kenaikan harga minyak dalam jangka panjang. Meskipun penutupan sementara Selat Hormuz mendorong harga Brent crude naik di atas $85, ia melihat ini sebagai sinyal puncak klasik. Ia menyebutkan kontrak minyak Desember yang sudah diperdagangkan sekitar $70 dan diprediksi turun ke level $58.

Selain itu, surplus produksi minyak Amerika Serikat dan Kanada yang mencapai hampir 8 juta barel per hari diyakini akan mempercepat pemulihan pengiriman minyak. McGlone juga memproyeksikan pemerintah AS akan berupaya menjaga harga minyak tetap rendah menjelang pemilihan tengah periode.

Optimisme dari Arthur Hayes

Berbeda dengan McGlone, Arthur Hayes memberikan proyeksi yang lebih optimistis untuk Bitcoin, meski berangkat dari jalan ekonomi yang tidak mulus. Ia mengamati kenaikan imbal hasil obligasi Treasury 10-tahun yang mencapai puncak tiga minggu terakhir di angka 4,143%. Biasanya, ketika investor cemas, imbal hasil ini justru turun.

Hayes menilai pergeseran ini sebagai gangguan dalam perilaku normal investor yang berpotensi memaksa pemerintah bertindak. Kunci analisisnya adalah indeks MOVE yang mengukur volatilitas pasar obligasi; jika indeks ini melewati angka 130, pemerintah AS biasanya melakukan "bailout moneter."

Hayes menyatakan, "Kemudian pencetakan uang akan dimulai dalam berbagai bentuk, dan hal ini menguntungkan Bitcoin." Dia mematok target harga besar, yaitu Bitcoin mencapai $250.000 pada 2026 dan bahkan $750.000 di akhir 2027.

Situasi Energi dan Dampaknya pada Pasar

Di Timur Tengah, situasi tetap kritis karena penangguhan pengiriman melalui Selat Hormuz membuat negara seperti Irak melakukan pemotongan produksi besar-besaran akibat kapasitas penyimpanan minyak yang penuh. JPMorgan Chase memperingatkan bahwa Uni Emirat Arab dan Arab Saudi juga menghadapi risiko masalah penyimpanan dalam beberapa minggu mendatang.

Harga minyak yang sempat turun ke sekitar $82 setelah laporan potensi perdamaian masih menghadirkan ketidakpastian. Pernyataan Presiden Donald Trump bahwa AS akan memberikan pengawalan angkatan laut dan jaminan asuransi untuk kelancaran pengiriman minyak masih disikapi hati-hati oleh industri pengapalan.

Bitcoin di Persimpangan Teknis

Bitcoin kini menghadapi titik krusial secara teknikal. McGlone mengingatkan bahwa Bitcoin pernah dianggap sebagai "posisi jual yang menarik" pada harga $94.000 karena minim dukungan di level $64.000. Sekarang, harga Bitcoin sedang diuji di level resistensi sekitar $74.000, yang harus dipertahankan untuk menjaga momentum kenaikannya.

Di sisi lain, Hayes berpandangan bahwa eskalasi ketegangan militer dapat memaksa Federal Reserve untuk meningkatkan pencetakan uang demi membiayai konflik. Langkah ini pada akhirnya akan menjadi pendorong utama kenaikan harga Bitcoin. Pertanyaan besar bagi investor saat ini adalah apakah volatilitas pasar akan "membunuh" pasar kripto atau justru "mendanai" lonjakan harganya selanjutnya.

Faktor-faktor Utama yang Perlu Diperhatikan Investor

  1. Volatilitas pasar saham Nasdaq sebagai indikator kunci bagi pergerakan Bitcoin.
  2. Harga dan produksi minyak global, khususnya pengaruh gangguan di Selat Hormuz.
  3. Pergerakan imbal hasil obligasi Treasury dan indeks MOVE yang mencerminkan ketegangan pasar keuangan.
  4. Respons kebijakan pemerintah AS, terutama kebijakan moneter dan dukungan terhadap sektor energi.
  5. Tingkat dukungan teknikal Bitcoin di sekitar level $74.000 sebagai titik penentu tren harga.

Dengan beragam pandangan yang ada, perkembangan berikutnya dalam pasar minyak dan respons kebijakan moneter global akan menjadi faktor penting yang menentukan arah Bitcoin dan aset digital secara umum. Investor disarankan untuk memonitor volatilitas energi dan kebijakan ekonomi yang dipicu oleh ketegangan geopolitik tersebut.

Berita Terkait

Back to top button