Bitcoin ETFs mengalami penarikan dana sebesar $227,9 juta pada 5 Maret, yang merupakan hari terburuk dalam tiga minggu terakhir. Penarikan dana tersebut menjadi keluarnya uang terbesar dalam satu hari sejak 12 Februari yang tercatat sebesar $410 juta, menurut data dari Farside Investors.
Meski demikian, tren aliran dana jangka panjang untuk Bitcoin ETF menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Data dari perusahaan analitik Glassnode mengungkapkan bahwa tren netflow ETF Bitcoin spot dalam 14 hari terakhir mulai meningkat, mengurangi volatilitas harian yang sempat terjadi. Posisi ETF selama 30 hari pun telah stabil sekitar angka 23.943, setelah sempat berada di posisi negatif -35.000 pada awal Februari, menandakan tekanan distribusi mulai mereda.
Kondisi Harga dan Pergerakan Pasar Bitcoin
Harga Bitcoin yang sempat naik hingga $72.993 pada awal Maret akhirnya kembali turun ke bawah angka $70,000. Penurunan 4,3% dalam 24 jam terakhir mengindikasikan adanya koreksi harga setelah tren kenaikan yang cukup kuat. Meski demikian, beberapa analis berpendapat bahwa koreksi ini adalah bagian dari dinamika pasar normal dan bukan pertanda awal dari penurunan signifikan.
Menurut Andri Fauzan Adziima, research lead di Bitrue, sinyal multi-hari lebih dapat diandalkan daripada fluktuasi satu hari. Ia menilai pergeseran dari kondisi negatif menjadi positif yang stabil merupakan indikasi awal bahwa institusi mulai melakukan re-akumulasi Bitcoin. “Penurunan penarikan dana secara tajam dan masuknya dana dalam beberapa hari terakhir lebih mengarah ke permintaan baru dibandingkan sekadar jeda sementara,” ujarnya kepada Decrypt.
Pandangan Para Analis dan Peran Institusi
Justin d’Anethan, kepala riset di Arctic Digital, juga menyoroti pentingnya melihat tren mingguan daripada hanya penarikan dana dalam satu hari. Ia memperkirakan bahwa titik Rp 60.000 dollar (sekitar level $60.000) bisa menjadi titik masuk yang menarik untuk investor institusional dalam jangka menengah. "Outflow yang terjadi dalam satu hari memang patut diperhatikan, tapi jarang bisa menggambarkan keseluruhan kondisi pasar," ujarnya.
Nick Ruck, direktur riset LVRG Research, memperkuat pandangan tersebut dengan mengatakan bahwa kenaikan posisi 30 hari ETF lebih mencerminkan sinyal akumulasi ulang oleh institusi besar. “Peningkatan ini menunjukkan adanya keyakinan jangka panjang dari para pemain besar seiring membaiknya kondisi pasar secara keseluruhan,” jelas Ruck kepada Decrypt. Ia menambahkan, perkembangan pasar tidak hanya ditentukan oleh ETF saja, melainkan juga oleh aktivitas on-chain, kebutuhan proteksi geopolitik, serta posisi institusional yang lebih luas.
Pengaruh Faktor Makro dan Strategi Investasi Jangka Panjang
Faktor makroekonomi dan berita geopolitik masih menjadi penentu besar pergerakan harga cryptocurrency dalam jangka pendek. Namun dari perspektif jangka panjang, beberapa analis menilai level harga sekitar $60.000 merupakan titik masuk yang layak untuk mengakumulasi Bitcoin secara bertahap.
Aleksandr Nechaev, partner di venture capital Funders VC, menyarankan agar investor menyiapkan dana untuk strategi averaging down jika harga Bitcoin kembali turun. "Bitcoin adalah permainan jangka panjang, dan penyesuaian portofolio dengan menambah posisi pada harga yang lebih rendah bisa menjadi langkah bijak," katanya kepada Decrypt.
Sementara itu, pasar prediksi Myriad memperlihatkan pembagian pandangan yang hampir seimbang mengenai arah harga Bitcoin selanjutnya, dengan proyeksi menuju $84.000 atau $55.000. Hal ini menunjukkan ketidakpastian namun juga potensi volatilitas yang masih melekat pada aset digital ini.
Dengan kondisi aliran dana ETF yang mulai stabil dan sinyal akumulasi institusional yang meningkat, pasar Bitcoin menunjukkan dinamika yang kompleks. Investor dan pengamat perlu terus mencermati berbagai indikator teknikal, aktivitas on-chain, serta pengaruh berita global dalam menentukan strategi investasi yang tepat.
