Bitcoin berhasil mempertahankan posisi di atas level $70,000 setelah terdengar sinyal positif dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai potensi berakhirnya konflik antara AS dan Israel melawan Iran. Pada Selasa, Bitcoin naik sekitar 1%, melanjutkan tren kenaikan dari hari sebelumnya, dan mencapai harga di atas $71,000 seiring dengan penguatan pasar saham dan penurunan harga minyak.
Pada sisi lain, harga minyak yang tetap sekitar $20 per barel lebih tinggi dari sebelum perang mulai menjadi sorotan para investor Wall Street. Harga energi yang tinggi berpotensi menimbulkan tekanan inflasi sehingga dikhawatirkan dapat menunda langkah pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve. Namun, pasar kripto justru menunjukkan kenaikan meski ada ketidakpastian tersebut.
Dukungan dari Aliran Investasi dan Analis Crypto
Iliya Kalchev, analis dari platform kripto Nexo, menegaskan bahwa pasar kripto terus maju meskipun aset global disesuaikan dengan harga energi yang tinggi dan perubahan harapan suku bunga. Dia juga menyatakan bahwa arus masuk dana ke Exchange-Traded Funds (ETF) spot kripto memberikan dukungan kuat bagi harga Bitcoin. Minggu lalu, tercatat arus masuk bersih sebesar $568 juta, menandai pekan positif kedua berturut-turut setelah sebelumnya mengalami arus keluar.
Sementara itu, perusahaan Strategy (MSTR) yang dikenal sebagai pemegang Bitcoin publik terbesar, mengalami kenaikan hampir 2%. B. Riley Securities baru-baru ini memberikan rating beli kepada Strategy setelah perusahaan tersebut menambah kepemilikan Bitcoin sebanyak 17,994 token. Kepemilikan besar ini dianggap memperkuat struktur pasar, terutama ketika volatilitas masih tinggi.
Potensi Pergerakan Harga Bitcoin ke Depan
Bitcoin menunjukan ketahanan yang kuat sejak konflik AS-Israel melawan Iran meletus. Pada awal peperangan, harga Bitcoin sempat turun ke level $63,000, namun segera pulih dan bahkan mendekati angka $74,000 di pertengahan pekan sebelumnya. Antusiasme terhadap rancangan regulasi kripto yang sedang dibahas di Kongres AS menjadi faktor pendukung kenaikan tersebut.
Gracy Chen, CEO bursa universal Bitget, memprediksi bahwa jika Bitcoin mampu menembus dan bertahan di rentang $75,000 hingga $76,000, maka harga bisa dengan mudah menanjak menuju angka $80,000. Namun, jika mengalami penurunan di bawah $60,000, kemungkinan Bitcoin akan bergerak turun ke level $55,000.
Struktur Pasar Kripto yang Lebih Kuat
Walaupun Bitcoin sudah berada dalam masa "crypto winter" sejak penurunan dari harga tertinggi sekitar $126,000 pada Oktober lalu, kondisi kali ini dianggap lebih terkendali. Menurut Kaledora Kiernan-Linn, CEO platform perdagangan Ostium, struktur pasar yang kini didukung oleh regulasi yang jelas, tata kelola aset yang lebih baik, dan kemudahan produk ETF membuat koreksi harga lebih tertahankan dibanding masa sebelumnya. Hal ini mencerminkan tingkat adopsi kripto yang semakin matang dan sehat secara fundamental.
Secara keseluruhan, perkembangan harga Bitcoin saat ini dipengaruhi oleh dinamika geopolitik serta faktor ekonomi makro global. Berita positif tentang kemungkinan berakhirnya konflik dipandang sebagai katalisator bagi pasar aset digital. Investor serta pelaku pasar terus memantau pergerakan ini, mengingat implikasinya terhadap inflasi, suku bunga, dan arus modal di sektor kripto yang semakin besar dan terstruktur.









