Iran memperingatkan harga minyak bisa melonjak hingga mencapai 200 dolar per barel jika konflik dengan Amerika Serikat dan Israel terus berlanjut. Peringatan ini muncul di tengah ketegangan militer yang makin meningkat di kawasan Timur Tengah. Dampak dari lonjakan harga minyak tersebut diperkirakan akan mempengaruhi berbagai pasar, termasuk pasar aset digital seperti Bitcoin.
Bitcoin sempat mengalami tekanan jual cepat setelah serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap Iran. Namun, harga cryptocurrency utama itu kembali pulih dan diperdagangkan mendekati 70.434 dolar, sedikit meningkat sejak konflik dimulai pada akhir Februari. Meski demikian, para analis memperingatkan bahwa volatilitas pasar bisa meningkat lebih tajam seiring berlanjutnya ketidakstabilan geopolitik.
Dampak Lonjakan Harga Minyak terhadap Bitcoin
Sebastián Serrano, CEO dari bursa kripto Ripio asal Argentina, menjelaskan bahwa kenaikan harga energi dapat mendorong inflasi naik. Inflasi yang tinggi membuat bank sentral menunda pemotongan suku bunga, sehingga likuiditas di pasar berkurang. Dalam kondisi ini, Bitcoin akan kesulitan untuk mendapatkan momentum kenaikan harga.
Siklus tersebut menunjukkan keterkaitan antara pasar energi, kebijakan moneter, dan harga aset kripto. Ketika biaya energi naik, biaya produksi dan distribusi juga meningkat, akhirnya mengakibatkan biaya hidup yang lebih tinggi dan tekanan inflasi. Hal ini memaksa bank sentral mengambil kebijakan ketat yang berpengaruh negatif pada aset berisiko seperti Bitcoin.
Bitcoin dan Volatilitas yang Terus Mengintai
Meskipun beberapa pihak berpendapat Bitcoin adalah aset aman layaknya emas, sejarah membuktikan sebaliknya. Pada saat terjadi perang di Timur Tengah sebelumnya, seperti serangan “Operation Rising Lion” Israel pada Juni 2025, harga Bitcoin justru anjlok tajam. Pemulihan harga baru terjadi saat Presiden Donald Trump mengisyaratkan penghentian serangan militer tersebut.
Laurens Fraussen, analis riset dari perusahaan data Kaiko, menegaskan bahwa narasi Bitcoin sebagai lindung nilai dari inflasi sudah tidak relevan lagi. Bitcoin lebih banyak dipengaruhi oleh faktor risiko dan lebih mirip saham teknologi yang rentan terhadap gejolak geopolitik. Ini membuat Bitcoin bukan aset komoditas yang stabil, tetapi lebih mirip aset berisiko tinggi dengan sensitivitas terhadap kejadian global yang besar.
Perilaku Bitcoin sebagai Aset Risiko
Commodity Futures Trading Commission di Amerika Serikat memang mengklasifikasikan Bitcoin sebagai komoditas. Namun, dalam praktiknya, perilaku harga Bitcoin sangat berbeda. Bitcoin cenderung turun seiring dengan pergerakan pasar saham yang melemah. Ini menjadi sinyal bahwa investor boleh mengantisipasi fluktuasi yang lebih tajam jika konflik di Timur Tengah tidak mereda.
- Gejolak geopolitik menciptakan ketidakpastian pasar.
- Ketidakpastian mendorong investor menjual aset-aset berisiko.
- Harga Bitcoin bergerak serupa dengan saham teknologi.
- Kenaikan harga minyak meningkatkan inflasi dan memperketat kebijakan moneter.
- Pembatasan likuiditas mengurangi potensi kenaikan harga Bitcoin.
Dengan dasar tersebut, situasi konflik yang memicu kenaikan harga minyak bisa berpotensi menimbulkan tekanan jual pada Bitcoin. Para pelaku pasar kripto dan investor disarankan untuk terus memantau perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global.
Ketegangan di Timur Tengah tetap menjadi faktor utama yang mempengaruhi bukan hanya harga minyak, tetapi juga pasar keuangan secara luas. Jika krisis ini berlanjut, volatilitas Bitcoin mungkin akan semakin intens, mengingat keterikatan harga aset kripto dengan sentimen risiko global. Pemahaman menyeluruh terhadap dinamika geopolitik dan ekonomi makro menjadi kunci dalam mengantisipasi pergerakan pasar Bitcoin ke depan.
