JPMorgan mengamati adanya perbedaan mencolok dalam aliran dana antara Bitcoin dan emas sejak meningkatnya konflik di Iran. Biasanya, ketegangan geopolitik mendorong investor mencari aset aman secara bersamaan, namun saat ini Bitcoin dan emas bergerak berlawanan arah.
Data dari JPMorgan menunjukkan, sejak akhir Februari, SPDR Gold Shares (GLD), ETF emas terbesar, mengalami arus keluar sekitar 2,7% dari total aset kelolaan. Sementara itu, iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock justru menerima aliran masuk sekitar 1,5% dari asetnya pada periode yang sama.
Analis JPMorgan, dipimpin oleh Nikolaos Panigirtzoglou, menyoroti bahwa tren ini membalikkan kondisi awal tahun di mana dana emas masih unggul. Kini, investor lebih memilih eksposur pada Bitcoin dibandingkan emas, walaupun volatilitas kripto lebih tinggi.
Perpindahan modal ini menunjukkan perubahan fundamental dalam persepsi aset “emas digital” versus emas fisik. Banyak institusi mengalihkan fokus dari bullion ke spot Bitcoin ETF sebagai instrumen investasi.
Namun, perbedaan antara pasar spot ETF dan pasar derivatif menunjukkan kehati-hatian yang lebih besar dari kalangan hedge fund. Meskipun ETF Bitcoin mengalami inflow, short interest pada IBIT meningkat, sedangkan short interest GLD menurun.
Fenomena ini mengindikasikan hedge fund mengurangi paparan langsung pada Bitcoin sembari mempertahankan posisi defensif di emas. Struktur pasar ini juga mencerminkan peran berbeda dari pelaku pasar; peritel dan penasihat investasi tampaknya mendorong permintaan ETF Bitcoin sebagai aset “risk-off.”
Bertolak belakang, meja perdagangan profesional lebih memilih strategi lindung nilai terhadap risiko di tengah harga minyak yang melewati ambang 100 dolar AS per barel, yang biasanya menekan aset berisiko. Permintaan opsi untuk perlindungan downside Bitcoin juga melonjak, menegaskan sikap hati-hati institusional.
Harga Bitcoin tetap kuat di atas 70.000 dolar AS meskipun ada sinyal negatif dari pasar derivatif dan kekhawatiran inflasi akibat perang. Penguatan ini menunjukkan daya tahan Bitcoin di tengah tekanan pasar aset tradisional.
JPMorgan menyampaikan dua skenario utama untuk Bitcoin ke depan: Jika aliran dana ETF terus berlanjut di tingkat 1,5%, target resistance Bitcoin berada di kisaran 80.000 dolar AS dengan potensi menguji kembali rekornya. Sebaliknya, jika likuiditas makro melemah, support kuat berada di level 64.000 dolar AS.
Selain faktor teknikal, pergerakan harga minyak dan kebijakan suku bunga The Fed akan sangat menentukan arah Bitcoin dan emas dalam waktu dekat. Jika harga minyak tetap tinggi, tekanan inflasi mungkin memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi, yang akan menjadi ujian berat bagi kedua aset tersebut.
Dalam konteks ini, perbedaan aliran dana ETF antara Bitcoin dan emas mencerminkan perubahan dinamika pasar investasi global yang sedang berlangsung. Investor kini menilai ulang peranan aset aman di masa konflik geopolitik, dengan Bitcoin semakin mengukuhkan posisinya sebagai alternatif investasi.







