Mastercard semakin memperkuat posisinya dalam dunia kripto dengan mengakuisisi BVNK, sebuah startup infrastruktur stablecoin, senilai 1,8 miliar dolar AS. Langkah ini mengikuti tren di mana perusahaan finansial tradisional berlomba-lomba mengadopsi teknologi blockchain untuk menguasai lanskap aset digital.
Akuisisi BVNK dipandang sebagai bagian dari perebutan kendali besar di sektor keuangan yang melibatkan raksasa Wall Street. Wyatt Lonergan, mitra umum di VanEck Ventures, menyoroti pentingnya menguasai tahapan yang menghubungkan mata uang fiat dan stablecoin. “Pada titik ini terdapat kompleksitas yang memungkinkan pengambil margin lebih besar dan potensi perluasan ke layanan lain seperti dompet digital dan penerbitan stablecoin sendiri,” katanya.
Dorongan Industri Finansial Menuju Blockchain
Perhatian besar pada teknologi blockchain bukan tanpa alasan. Nilai transaksi merger dan akuisisi di ranah kripto meningkat drastis, mencapai 37 miliar dolar AS pada 2025. Para analis memperkirakan tahun berikutnya akan mencatat angka yang jauh lebih tinggi, terutama dari pembelian perusahaan oleh institusi mapan ketimbang pengembangan internal.
Mastercard bukan satu-satunya yang agresif dalam penguasaan teknologi blockchain. Contohnya, Stripe secara aktif mengakuisisi bisnis stablecoin serta meluncurkan blockchain sendiri bernama Tempo. Keberadaan infrastruktur yang matang jadi kunci agar perusahaan finansial dapat bersaing dan mengokohkan loyalitas pelanggan.
Strategi Mastercard dan Dampaknya
Sebelum akuisisi BVNK, Mastercard telah melakukan eksplorasi blockchain selama bertahun-tahun. Pada 2016, mereka meluncurkan rangkaian API blockchain guna menarik minat bank dan pengembang merchant. Meskipun mengalami perlambatan saat kebijakan kripto di bawah pimpinan Biden lebih ketat, kini semangat baru terpupuk berkat kebijakan pro-aset digital dari pemerintahan Trump.
BVNK memberikan Mastercard akses langsung ke infrastruktur stablecoin yang telah dikembangkan selama tujuh tahun, memperkuat posisi mereka dalam penyelesaian pembayaran lintas negara dan manajemen likuiditas. Perwakilan Mastercard menyatakan, "Stablecoin dan deposito tokenisasi menawarkan potensi solusi di area yang kartu tradisional tidak efektif, seperti pembayaran lintas batas dan pembayaran bisnis ke bisnis."
Kemitraan dan Ekosistem yang Diperluas
Mastercard juga menjalankan program kemitraan yang sudah merangkul lebih dari 100 perusahaan, termasuk PayPal di sektor finansial tradisional, serta Ripple dan Circle di ranah kripto. Raksasa blockchain seperti Solana dan Arbitrum juga ikut serta, menunjukkan pendekatan inklusif Mastercard yang fokus pada solusi nyata tanpa memihak salah satu protokol.
Dinamika Regulasi dan Pasar Stablecoin
Regulasi berperan besar dalam perkembangan stablecoin. Tanda-tanda positif muncul setelah disahkannya Genius Act, yang memungkinkan bank dan institusi tertentu menerbitkan stablecoin dengan jaminan aset likuid seperti US Treasury. Nilai pasar stablecoin kini mencapai 316 miliar dolar AS, menarik perhatian berbagai entitas besar.
Bank-bank utama di Wall Street, termasuk JP Morgan Chase, Bank of America, dan Citigroup, tengah bersiap meluncurkan stablecoin sendiri. Bahkan, konsorsium 11 bank Eropa berencana merilis stablecoin bernilai euro. Perkembangan ini menunjukkan bahwa stablecoin berpotensi menjadi metode pembayaran dan penyelesaian transaksi utama di masa depan.
Tantangan Infrastruktur dan Kompetisi di Masa Depan
Ketidakmampuan banyak pelaku finansial tradisional membangun infrastruktur blockchain sendiri menjadi alasan utama pembelian startup seperti BVNK. Wyatt Lonergan menegaskan bahwa akuisisi ini memberi Mastercard pijakan penting di ranah stablecoin, di mana sebelumnya mereka tidak memiliki infrastruktur yang memadai.
Persaingan penguasaan blockchain diprediksi akan semakin ketat, dengan peluang akuisisi lebih lanjut oleh perusahaan keuangan besar. Mastercard sejauh ini belum mengkonfirmasi rencana akuisisi lain, namun langkah strategis ini memperkuat posisi mereka dalam ekosistem digital yang terus berkembang.









