Mastercard tengah memperkuat posisi di sektor kripto dengan merekrut Director of Crypto Flows. Posisi ini bertugas memimpin penerbitan kartu yang terhubung dengan stablecoin, mengembangkan aliran pembayaran DeFi, serta merevisi aturan jaringan untuk transaksi Web3.
Langkah ini mengindikasikan transisi Mastercard dari tahap eksperimen menuju integrasi kripto yang lebih mendalam. Keseriusan perusahaan terlihat setelah beberapa tahun menggelar pilot project di bidang teknologi pembayaran terbaru.
Sementara itu, laporan dari Citrini Research memproyeksikan ancaman signifikan bagi jaringan pembayaran tradisional pada 2028. Dalam “The 2028 Global Intelligence Crisis,” mereka menggambarkan bagaimana kecerdasan buatan (AI) bertahap memotong peran perantara berbasis biaya, termasuk jaringan kartu pembayaran seperti Mastercard.
Citrini menyoroti potensi titik balik pada kuartal pertama 2027 saat pendapatan Mastercard bisa melemah. Pada momen itu, transaksi yang diotomatisasi oleh agen AI cenderung beralih ke stablecoin untuk menghindari biaya interchange kartu yang mencapai 2-3%. Stablecoin dapat menyelesaikan transaksi hampir tanpa biaya, sehingga mengancam model bisnis yang selama ini dominan.
Data terbaru dari Artemis Analytics menunjukkan bahwa transfer nilai melalui stablecoin mencapai $18,4 triliun pada tahun ini, melampaui volume transaksi Visa sebesar $15,7 triliun dan Mastercard $9,8 triliun. Meski sebagian besar volume stablecoin merupakan aktivitas trading, tren ini menandakan perubahan signifikan pada cara nilai dipindahkan di ekosistem digital.
Michael Miebach, CEO Mastercard, mengonfirmasi bahwa perusahaan menyambut baik stablecoin dan tren agentic commerce. Dia menyebut stablecoin sebagai “mata uang lain” yang dapat didukung dalam jaringan Mastercard. Namun, pendekatan ini dipertanyakan oleh Citrini yang memprediksi munculnya kategori perdagangan baru yang dilakukan mesin ke mesin, dengan transaksi mikro yang terjadi tanpa henti sepanjang waktu, di luar desain jaringan kartu tradisional.
Mastercard telah mengambil beberapa langkah strategis untuk menjawab tantangan ini. Pada Juni 2025, perusahaan mulai mengontrak beberapa stablecoin ke jaringan mereka. Selain itu, Mastercard memperluas penggunaan USDC dari Circle di wilayah Timur Tengah dan Afrika, serta tengah mengejar akuisisi startup infrastruktur kripto, Zerohash, senilai $2 miliar.
Namun, Mastercard masih tertinggal dari Visa dalam hal integrasi stablecoin on-chain. Visa melaporkan volume settlement stablecoin mencapai $3,5 miliar secara tahunan pada akhir 2025. Program kartu dari penerbit kripto seperti Rain dan Reap juga lebih banyak bergantung pada jaringan Visa, dengan Rain meraih volume tahunan lebih dari $3 miliar usai menjadi anggota langsung Visa.
Analisis industri menunjukkan bahwa pendekatan Visa yang lebih awal berfokus pada native crypto membawa keuntungan pangsa pasar lebih besar. Sementara itu, Mastercard yang lebih memusatkan perhatian pada pertukaran aset belum menghasilkan volume transaksi stablecoin yang signifikan dibandingkan kompetitornya.
Langkah terbaru Mastercard memperlihatkan bahwa perusahaan menyadari adanya risiko disrupsi yang semakin nyata akibat transisi ke ekonomi terdesentralisasi dan otomatisasi oleh AI. Perubahan ini memaksa raksasa pembayaran tradisional untuk merevisi strategi mereka agar dapat bertahan dan tetap relevan di era Web3.







